drh. Chaidir, MM | Pemimpin Humoris | 

HARUS diakui, Gubernur Annas Maamun dengan cepat telah membangkitkan kegairahan baru, rasa nyaman dan bersahabat di tengah masyarakat Riau yang sedang letih dan loyo menghadapi berbagai  isu pemerintahan daerah dan politik lokal. Terlalu dini memang untuk menilai, tetapi gaya komunikasi politik
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pemimpin Humoris

Oleh : drh.chaidir, MM



HARUS diakui, Gubernur Annas Maamun dengan cepat telah membangkitkan kegairahan baru, rasa nyaman dan bersahabat di tengah masyarakat Riau yang sedang letih dan loyo menghadapi berbagai isu pemerintahan daerah dan politik lokal. Terlalu dini memang untuk menilai, tetapi gaya komunikasi politik Gubernur Annas yang sarat dengan nuansa sense of humor, rasanya seperti pucuk dicinta ulam tiba.

Hal itu sekurang-kurangnya terpancar saat Sang Gubernur memberi sambutan pada Malam Pengantar tugas di Gedung Daerah, beberapa jam setelah pelantikannya (19/2) yang oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi disebut sebagai pelantikan gubernur yang paling meriah. Gubernur mengkritik berbagai hal seperti kegiatan proyek yang dikerjakan asal-asalan, pelayanan kesehatan yang masih kurang memadai, infrastruktur yang masih memprihatinkan, rumah layak huni yang tak layak huni, kebiasaan pejabat daerah yang sering dinas ke Jakarta, dan sebagainya. Tetapi karena kritik itu disampaikan penuh humor, "masuknya" terasa lembut tak menyakitkan.

Humor disadari merupakan salah satu resep penting dalam kepemimpinan. Banyak pakar manajemen menganggap pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang humoristik jauh lebih berpengaruh terhadap organisasi karena lebih menyenangkan, lebih terbuka dan tidak mudah tersinggung. Sedangkan pemimpin yang kaku, terlalu serius, biasanya mudah tersinggung dan sering salah paham, serta tidak percaya diri. Humor sang pemimpin acapkali membuat tim kembali bersemangat dan fokus dalam pekerjaannya. Sikap pemimpin yang "Bossy" (suka menang sendiri) hanya akan membuat suasana kerja dalam organisasi tidak nyaman dan tertekan.

Dalam diri para pemimpin, humor dan kerendahan hati berjalan berdampingan. Pemimpin yang memiliki selera humor biasanya rendah hati. Sang pemimpin mampu memandang masalah-masalah berat dalam sisi yang berbeda sehingga mengundang senyum. Bahkan sang pemimpin tak segan-segan menertawakan diri sendiri. Selera humor yang tinggi juga sekaligus bukti rasa kepercayaan diri yang besar dalam diri seorang pemimpin. Dengan sense of humor yang tinggi, seorang pemimpin mampu menyiasati situasi yang menekan dirinya. Menjawab pertanyaan yang menyudutkan tak mesti dengan argumen yang serius.

Ada banyak alasan mengapa pemimpin memerlukan humor. Humor meredakan ketegangan. Ketika situasi rapat begitu tegang karena perselisihan pendapat di antara pesertanya, humor yang dilontarkan pemimpin dapat mencairkan suasana. Humor menjadikan suasana rileks kembali sehingga setiap orang bisa berpikir jernih dan obyektif. Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tekenal sering menggunakan humor untuk mengendalikan situasi. Gus Dur mempunyai kepekaan untuk menyampaikan humor yang cerdas pada saat yang tepat.

Mungkin masih banyak lagi manfaat humor. Sayangnya, sekarang para petinggi kita banyak yang kekurangan sense of humor, sehingga menampilkan wajah komunikasi politik yang buruk. Padahal, seperti kata Dwight Eisenhower, "A sense of humor is part of the art of leadership, of getting along with people, of getting things done." Selera humor adalah bagian dari seni kepemimpinan, yang berhubungan baik dengan orang-orang, dan menyelesaikan berbagai hal. Suai.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 468 kali
sejak tanggal 24-02-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat