drh. Chaidir, MM | Pemimpin Baru Harapan Baru | BESOK pagi (19/2) pasangan pilihan rakyat Riau Annas Maamun dan Arsyajuliandi Rahman akan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Riau periode 2014-2019. Saatnya kita mulai melupakan gegap gempita dinamika pilgub tahun lalu dan menatap Riau ke depan.

Kata orang bijak, kita tidak boleh terlal
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pemimpin Baru Harapan Baru

Oleh : drh.chaidir, MM

BESOK pagi (19/2) pasangan pilihan rakyat Riau Annas Maamun dan Arsyajuliandi Rahman akan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Riau periode 2014-2019. Saatnya kita mulai melupakan gegap gempita dinamika pilgub tahun lalu dan menatap Riau ke depan.

Kata orang bijak, kita tidak boleh terlalu lama menatap kaca spion untuk melihat ke belakang, tapi bukan berarti tidak boleh, sebab kaca di depan untuk melihat ke depan jauh lebih besar. Terlalu lama melihat ke belakang bisa jadi kendaraan kita tanpa disadari akan masuk lubang atau bahkan masuk jurang. Pesan filsuf Romawi Cicero setelah melihat Roma jadi lautan api, menarik untuk dikenang. "Oblivione sempiterna delendam", ujar Cicero. Biarlah masa lalu yang kelam itu tenggelam dalam tidurnya yang abadi.

Di masa depan itulah kita akan hidup dan berbuat sesuatu yang lebih baik bagi kemaslahatan bersama. Daerah kita ini sarat dengan berbagai persoalan kiriman masa lalu dan dari segala penjuru. Semua persoalan itu menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan satu persatu secara proporsional. Dalam beberapa tahun terakhir ini, tak bisa dipungkiri secara fisik Riau telah maju pesat, tetapi sayangnya juga demikian banyak masalah yang mencuat dari negeri laut sakti rantau bertuah ini sehingga pencitraannya justru tidak membanggakan. Amanah bila tidak dijunjung dengan baik akan menjadi musibah. Dan itulah yang terjadi.

Pemimpin-pemimpin muda Riau telah diberi panggung untuk untuk mengurus daerahnya sendiri, sayangnya, amanah itu tak dipikul dengan penuh tanggung jawab. Para pemimpin-pemimpin muda kita ini umumnya adalah figur-figur sekolahan, tapi bermasalah dalam maturitas. Mereka sering lupa daratan dan teperangkap dalam mentalitas instan, terlalu menggilai harta dan kekuasaan. Kekuasaan selalu dilihat dalam perspektif kesempatan, aji mumpung, kesempatan mengumpulkan kekayaan, mengumbar nepotisme, dan membangun kekuasaan oligarki. Aggaran besar daerah selalu diakal-akali dengan berbagai bentuk proyek-proyek mercusuar, pembelokan-pembelokan, atau bahkan proyek yang tidak relevan, dan lebih parah lagi, pos bantuan sosial misalnya, banyak yang direkayasa untuk kepentingan sempit.

Akibatnya anggaran besar daerah tak termanfaatkan dengan baik, tidak fokus. Kegiatan-kegiatan yang dibiayai dengan anggaran besar belum menjawab kebutuhan rakyat yang sesungguhnya. Hak budget yang ada pada lembaga perwakilan rakyat pun disalah artikan oleh para politisi kita, bukan mengawal anggaran agar diperuntukkan bagi rakyat, tapi mengawal anggaran usulan anggota-anggota lembaga perwakilan rakyat tersebut agar tidak hilang dalam APBN atau APBD. Setiap tahun Kementerian Dalam Negeri selalu menerbitkan pedoman penyusunan anggaran di daerah, tapi pedoman tinggal pedoman, tak dipedomani dan ditaati.

Oleh karena itu pilgub Riau 2013 ini memberikan sesuatu seperti contradictio in terminis. Lazimnya, sebuah pemilihan pucuk pimpinan selalu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang lebih muda sebagai simbol estafet kepemimpinan, tetapi pilgub Riau 2013 beda. Pemilih nampaknya letih dengan resam kaum muda, sehingga mencari ketenangan dan ingin bermanja-manja dengan figur seorang ayah atau bahkan datuk, yang pasti selalu ingin memeuaskan dan mengedepankan kepentingan anak-cucu-kemenakannya. Pemilih lebih mempercayai figur yang sarat dengan pengalaman pemerintahan.

Oleh karena itu tinggi gunung tinggi lagi harapan masyarakat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Riau yang baru untuk membawa Riau ini segera keluar dari keterpurukan psikologis, untuk kembali bangkit dengan kepala tegak penuh dengan keterhormatan.

Annas Maamun dan Arsyajuliandi Rahman kelihatannya harus mengelola Riau secara extra ordinari. Riau ini harus diurus cerewet, cerewet dan cerewet supaya semuanya berjalan benar dan cepat pada relnya. Bila seorang abang yang cerewet, menegur atau memarahi kita, mungkin kita akan balik marah, tetapi bila itu dilakukan oleh seorang ayah atau datuk. Itu tanda sayang. Bravo AMAN.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 474 kali
sejak tanggal 18-02-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat