drh. Chaidir, MM | Pangeran Rektor | ANDAI Unversitas Riau tidak berdiri di Bumi Lancang Kuning, tapi di Andalusia, Spanyol sana, namanya mungkin menjadi Universidad de Riau. Dan rektornya tentu tidak dipanggil Pak Rektor, tapi Pangeran Rektor atau secara lengkap dan resmi akan dihimbau <i>Excelentisimo e Ilustrisimo Senor Professor Do
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pangeran Rektor

Oleh : drh.chaidir, MM

ANDAI Unversitas Riau tidak berdiri di Bumi Lancang Kuning, tapi di Andalusia, Spanyol sana, namanya mungkin menjadi Universidad de Riau. Dan rektornya tentu tidak dipanggil Pak Rektor, tapi Pangeran Rektor atau secara lengkap dan resmi akan dihimbau Excelentisimo e Ilustrisimo Senor Professor Doctor Don Ashaluddin Jalil, Rector Magnifico de la Universidad de Riau. Artinya kira-kira: Pangeran Professor Doktor Jempolan Paling Terkemuka dan Yang Mulia Ashaluddin Jalil dari Universitas Riau.

Panjang amat? Memang panjang. Negeri yang menggunakan Bahasa Spanyol sebagai bahasa ibu, seperti Spanyol, negerinya Fernando Torres itu, atau Argentina, negerinya Leonel Messi, Venezuela, Uruguay, Equador, Bolvia, bahkan juga Mexico, dan lain-lain, umumnya memiliki nama dan julukan yang cukup panjang. Tapi julukan panjang tidak hanya milik negeri Spanyol atau negeri-negeri Amerika Latin. Negeri tetangga kita, Malaysia, juga secara resmi menggunakan julukan panjang terhadap orang-orang yang duduk di posisi-posisi penting, misalnya bagaimana mereka menyebut rajanya sebagai Yang Mulia Sri Paduka Baginda Yang Dipertuan Agung....dan seterusnya.

Rektor memang bukan Kepala Daerah apalagi Kepala Negara atau Presiden, tapi jangan salah sangka, jangan under estimate. Kalau ukurannya berani-beranian, maka rektor lebih hebat dari presiden. Sebab, presiden takut pada mahasiswa, sedangkan mahasiswa takut pada rektor. Tapi bila diadu head to head, antara rektor dan presiden, jelaslah rektor akan bertekuk lutut sejadi-jadinya, sebab tali akinya ada pada Presiden; cabut tali aki padamlah lampu.

Secara normatif, rektor adalah pimpinan lembaga perguruan tinggi yang yang sesuai undang-undang berkewajiban memajukan ilmu pengetahuan di masing-masing institusi melalui pendidikan dan penelitian, serta memberikan kontribusi maksimal kepada khalayak luas.

Dulu, pada 1950-an, Indonesia belum menggunakan istilah rektor sebagai pemimpin lembaga perguruan tinggi, tapi menggunakan istilah presiden seperti umum digunakan di Amerika Serikat. Namun waktu itu Presiden Soekarno keberatan. "Hanya ada satu presiden", kata Bung Karno menggelegar, "yaitu Presiden Republik Inodonesia". Dan tentulah yang dimaksud adalah Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi ABRI, Presiden Republik Indonesia Yang Mulia Ir Soekarno. Kalaulah orator ulung kita itu sekarang masih ada dan masih berkuasa, tentu tak ada peluang bagi mahasiswa untuk menggunakan istilah presiden mahasiswa seperti yang sekarang jamak digunakan. Urusannya bisa runyam. Sekarang, presiden mahasiswa, menteri, gubernur dan bupati mahasiswa bertebaran di kampus. Untuk bertemu dengan "pejabat-pejabat" itu, tidak usah mengunggu berhari-hari.

Rektor Universitas Riau baru saja beberapa hari lalu terpilih melalui suatu proses pemungutan suara. Dinamika pemilihan yang lumayan heboh sudah usai. Hasilnya, incumbent kembali terpilih. Kalah dan menang dalam suatu pemilihan itu hal yang biasa. Jabatan rektor itu amanah. Dan yang bernama amanah, apabila ia bersentuhan dengan kekuasaan, selalu memiliki dua sisi, yakni berkah dan musibah. Sayangnya dua sisi ini hanya dipisahkan oleh labirin yang amat tipis. Sukses memikul amanah akan menjadi berkah bagi khalayak, tapi ada jebakan kesombongan di sana. Gagal memikul amanah, ancaman yang paling kejam adalah kehilangan kredibilitas, dan palu godamnya - salah-salah - berurusan pula dengan KPK. Jadi, sebetulnya, menang atau kalah sama saja, keduanya punya perangkap. Hati-hati.

Kecuali di kota-kota besar atau di perguruan tinggi terkemuka, pemilihan rektor di daerah biasanya terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan pemerintahan lokal dalam semangat parochialism. Hal ini tak terlepas dari pola pikir usang (yesterday logic), yakni kepentingan sempit; kekuasaan merupakan determinan. Di samping itu tak pula bisa dipungkiri, pihak kampus dan pemerintahan lokal berada pada posisi saling berkepentingan. Pihak perguruan tinggi berkepentingan untuk mendapatkan dukungan bagi peningkatan program pendidikan dan penelitian, serta pembangunan fisik kampus, sementara pihak elit pemerintahan lokal memandang kampus adalah kelompok strategis atau pressure group, yang apabila tidak dirangkul bisa menjadi kontra produktif bagi pemerintahan lokal.

Masalahnya ada dua aliran yang sangat berbeda. Kampus memiliki identitas idealisme sementara penguasa selalu menggunakan pendekatan pragmatisme. Pengelolaan kekuasaan oleh pemerintahan lokal dan para politisi lokal sering berlebihan sehingga akrab dengan penyalahgunaan kekuasaan. Sementara mahasiswa sebagai ujung tombak kampus sangat alergi terhadap perilaku koruptif dan kolutif yang dipertontonkan. Unjuk rasa massive dari mahasiswa yang mengkritisi kebijakan pemerintahan lokal sangat tidak disukai. Oleh karena itulah dalam perspektif logika usang, kampus perlu dikooptasi.

Kendati suksesi rektor telah usai, adrenalin rector terpilih tentu tidak otomatis turun, sebab tugas berat jelas menunggu di depan mata. Seribu tahun takkan lama, apatah lagi hanya empat tahun. Gelek kiri gelek kanan, game over. Masa empat tahun ke depan adalah peluang terakhir untuk menuntaskan PR yang masih terbengkalai, melaksanakan agenda-agenda yang belum sempat dilaksanakan pada periode pertama dan merealisasikan janji-janji "kampanye" pemilihan rektor. Last but not least, pemikiran-pemikiran yang berkembang di ruang publik dan kritikan-kritikan dari kubu kongkuren yang mencuat ke permukaan atau pun sekedar bisik-bisik dalam bentuk black campaign (kalau ada), layak diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Muara dari semua itu adalah terwujudnya sebuah perguruan tinggi yang maju dan modern, bermutu tinggi dengan lulusan yang berkualitas. Peningkatan mutu dosen dan mahasiswa harus menjadi agenda utama. Dalam perspektif pragmatis, terwujudnya sebuah universitas yang elok dipandang dan memberikan kemudahan bagi mahasiswa dan seluruh civitas akademika. Rektor terpilih memang harus menggerakkan seluruh potensi organisasi yang dimiliki secara efektif. Setiap perguruan tinggi akan memasuki era kompetisi yang tidak ringan, apa lagi terbukanya peluang masuknya perguruan tinggi internasional. Pilihan menjadi sangat terbuka.

Pada dasarnya siapapun yang memiliki impian menduduki kursi rektor dan maju sebagai kandidat Rektor Universitas Riau, adalah aset potensial karena semua ingin memajukan Universitas Riau menjadi almamater yang membanggakan. Siapa pun yang kemudian terpilih sebagai "Pangeran Rektor", tak ada bedanya. Buatlah daftar panjang perbedaan antara satu kandidat dengan kandidat lainnya, tak kan lebih panjang dari daftar persamaan.

kolom - TEKAD PERS - 1 Desember 2009
Tulisan ini sudah di baca 1384 kali
sejak tanggal 01-12-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat