drh. Chaidir, MM | Mengharap Punai Terbang Tinggi | MENTERI Perdagangan Gita Wirjawan mundur dari kabinet Presiden SBY. Atau persisnya, sebagaimana dimuat berbagai media, permohonan pengunduran diri Gita Wirjawan diterima oleh Presiden SBY.

Mengajukan permohonan mengundurkan diri tentu tidak sama posisinya dengan meletakkan jabatan. Ketika SBY seb
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengharap Punai Terbang Tinggi

Oleh : drh.chaidir, MM

MENTERI Perdagangan Gita Wirjawan mundur dari kabinet Presiden SBY. Atau persisnya, sebagaimana dimuat berbagai media, permohonan pengunduran diri Gita Wirjawan diterima oleh Presiden SBY.

Mengajukan permohonan mengundurkan diri tentu tidak sama posisinya dengan meletakkan jabatan. Ketika SBY sebagai Menko Polkam mundur dari Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri, Maret 2004, SBY berada pada posisi meletakkan jabatan. Bahwa ketika itu SBY berkirim surat kepada Presiden, itu semata basa-basi politik. Sebab masyarakat sudah membaca dengan jelas retaknya hubungan SBY dengan Presiden Megawati Soekarnoputri dan orang-otang terdekatnya. Keputusan SBY untuk mundur sudah diperkirakan oleh publik khususnya awak media sejak awal.

Pencitraan pun kemudian terbentuk: SBY dizolimi. Dan SBY kemudian menjadi media darling. Dan siapa yang menjadi kekasih media besar harapan akan memperoleh kemenangan politik. SBY mendapatkannya secara langsung. Dalam pilpres pertama secara langsung dalam sejarah RI pada 2004, SBY terpilih secara meyakinkan dengan menyisihkan incumbent Megawati Soekarnoputri, Wiranto, Amien Rais, dan Hamzah Haz. Berkaca dari peristiwa tersebut, kita tentu bertanya-tanya, adakah korelasi posisi Menteri Pedagangan Gita Wirjawan yang mengundurkan diri dengan Presiden SBY yang meletakkan jabatan pada 2004 itu?

Gita Wirjawan tidak ada konflik apapun dengan Presiden SBY, tidak juga ada masalah dengan orang-orang terdekat Presiden SBY, dan tidak juga sedang bersitegang dengan pimpinan teras Partai Demokrat yang sedang berkuasa. Lantas dampak politik seperti apa yang diharapkan Gita Wirjawan? Di tengah runtuhnya kepercayaan publik (social distrust) terhadap pemerintah pada umumnya, dan terhadap para politisi partai yang sekarang sedang malang melintang di pentas politik nasional, siapa yang peduli? Mundur atau tidak, tak memberikan pembeda bagi publik yang sudah jenuh dengan politik pencitraan. Apalagi mundurnya seorang Menteri Pedagangan terjadi di tengah kontroversi kasus impor beras dari Vietnam, yang bahkan oleh Menteri Pertanian dianggap illegal.

Menteri Pertanian Suswono secara tegas minta kasus temuan beras impor asal Vietnam di Pasar Cipinang, Jakarta diusut tuntas. Menurutnya beras tersebut jelas-jelas ilegal alias diselundupkan. Seakan menebar jaring, Menteri Suswono menjelaskan kementeriannya tidak pernah mengeluarkan rekomendasi impor beras jenis medium dari Vietnam. Ia telah mengirimkan surat kepada Menteri Perdagangan Gita Wirjawan guna meminta klarifikasi rembesan beras impor asal Vietnam. Nah runyam kan?

Seperti dimuat berbagai media, Gita Wirjawan mundur untuk berkonsentrasi mengikuti konvensi Capres RI dari Partai Demokrat dan ingin menghindari konflik kepentingan. Apa pun argumentasi Gita, tentu sah-sah saja. Tetapi publik tahu, Gita akan bersaing dengan tokoh-tokoh seperti Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Pramono Edhie Wibowo, dan lain-lain, yang hasil surveynya lebih tinggi. Dan faktor SBY sebagai pendiri Partai Demokrat, Ketua Majelis Tinggi dan Ketua Umum Partai Demokrat terlalu penting untuk tidak diberi hak-hak istimewa dalam konvensi nasional pemilihan Capres dari Partai Demokrat. Nama siapakah gerangan yang ada dalam saku SBY? Adakah Gita di sana? Kalau tidak ada, tentulah sia-sia.

Atau Gita Wirjawan mundur justru dalam suatu skenario menyelamatkan konvensi Capres dari Partai Demokrat supaya tak dituding akal-akalan untuk sekedar mendongkrak elektabilitas Partai Demokrat yang sedang menurun tajam? Waktu yang akan menjawab apakah langkah Gita relevan terhadap elektabilitas Gita sendiri atau terhadap Partai Demokrat. Bila tidak relevan, maka langkah itu hanya sebuah blunder. Mengharap burung terbang tinggi punai di tangan dilepaskan.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 444 kali
sejak tanggal 04-02-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat