drh. Chaidir, MM | Devide et Impera | MASIH ingat pelajaran sejarah di sekolah dasar tempo doeloe? Istilah devide et impera pasti tidak asing. Politik devide et impera selalu dikaitkan dengan penjajah Belanda. Dulu, sebutlah Belanda tentu terbayang politik devide et impera. Dengan politik itulah Belanda memperluas tanah jajahannya. Maka
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Devide et Impera

Oleh : drh.chaidir, MM

MASIH ingat pelajaran sejarah di sekolah dasar tempo doeloe? Istilah devide et impera pasti tidak asing. Politik devide et impera selalu dikaitkan dengan penjajah Belanda. Dulu, sebutlah Belanda tentu terbayang politik devide et impera. Dengan politik itulah Belanda memperluas tanah jajahannya. Maka terkenal pula sebuah perumpamaan "Seperti Belanda minta tanah." Belanda selalu memiliki syahwat besar untuk memperluas tanah jajahannya; diberi sejengkal minta sehasta, diberi sehasta minta sedepa.

Belanda tak boleh marah dengan merek dagang buruk yang lengket pada namanya. Kenyataannya, semenjak VOC didirikan pada 20 Maret 1602, Belanda mulai mengeruk hasil bumi Indonesia. Pada mulanya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) hanyalah sebuah serikat dagang. Uniknya, VOC memiliki hak istimewa, perusahaan ini layaknya sebuah negara, memiliki tentara yang dipersenjatai.

Devide et impera merupakan politik pecah belah atau disebut juga dengan politik adu domba. Devide et impera merupakan kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. Devide et impera dalam pemahaman kita seringkali diringkas dalam istilah politik pecah belah atau politik adu domba (KBBI).

Beberap puluh tahun pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, citra buruk belanda sebagai penjajah itu diperbaiki oleh Van Basten, Ruud Gullit, Giovanni van Bronckhorst, Arjen Robben, Robin Van Persie, dan lain-lain para bintang sepakbola Belanda. Maka kemudian, ketika timnas Belanda berkunjung ke Indonesia untuk melakukan pertandingan persahabatan pada 2013 lalu, Belanda pun dielu-elukan. Dan politik devide et impera Belanda pun dilupakan.

Tapi, siapa sangka cara-cara politik devide et impera Belanda itu ternyata masih berurat berakar dalam masyarakat Indonesia. Cara Belanda memecah belah rakyat Indonesia melalui provokasi, tipu muslihat, fitnah, bahkan menyuap agar sebagian berkhianat terhadap yang lainnya, sekarang dapat kita saksikan hampir setiap hari melalui media cetak dan elektronik. Praktik devide et impera bahkan semakin subur. Ada pihak-pihak tertentu demi kekuasaan, berusaha memecah belah dan mengadu domba. Intrik-intrik politik dilakukan secara piawai oleh elit politik dan penguasa. Sama seperti Belanda, cara yang dipakai adalah dengan memainkan sentimen antar kelompok, sentimen antar kampung, antar suku, antar agama, antar partai, antar daerah, sentimen politik uang, dan lain sebagainya.

Tanggal 28 Januari 2014 beberapa hari lalu misalnya, Satpol PP Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar bentrok akibat sengketa tapal batas kedua kabupaten. Adakah politik devide et impera dalam bentrokan tersebut? Entahlah. Terasa ada terkatakan tidak. Tapi kalau misalnya ada, siapa belandanya?


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 498 kali
sejak tanggal 03-02-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat