drh. Chaidir, MM | Jalesveva Jayamahe | GAGAH berani. Itulah kesan pertama dari seruan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jalesveva Jayamahe

Oleh : drh.chaidir, MM

GAGAH berani. Itulah kesan pertama dari seruan "Jalesveva Jayamahe". Maknanya pun heroik: Di Lautan Kita Jaya. Seandainya saya bisa memutar mundur jarum waktu - menggunakan mesin waktu-nya Dora Emon - kembali menjadi remaja, saya akan menjadi taruna TNI Angkatan Laut.

Semboyan TNI Angkatan Laut yang berasal dari Bahasa Sanskerta itu, menggetarkan. Indonesia adalah negeri yang terkenal sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia. Gugusan kepulauan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Laksana zamrud khatulistiwa, begitu indahnya julukan diberikan kepada kepulauan nusantara ini. The New Webster's International Encyclopedia (Florida, 1996) menyebut, Indonesia memiliki lebih dari 13.000 buah pulau. Dan ribuan pulau-pulau itu tentu saja dipertautkan oleh laut. Laut merupakan bagian tak terpisahkan, sudah menjadi takdir kehidupan. Oleh karena itulah nenek moyang kita telah memiliki pengetahuan ilmu kelautan, memahami navigasi pelayaran dan bahkan astronomi.

Negeri ini punya tradisi panjang sebagai bangsa pelaut. Dulu moyang kita adalah pelaut-pelaut ulung. Mereka bukan jago kandang dengan hanya melayari pulau-pulau zamrud, tapi sampai nun jauh ke Mandagaskar dan Afrika Selatan. Siapa tak kenal tangguhnya pelaut-pelaut Bugis? Kebanggaan itu diekspresikan dalam lirik lagu, "Nenek moyangku orang pelaut...menerjang badai tiada takut.." Bacalah novel sejarah Bulang Cahaya (Yayasan Sagang, 2007) yang ditulis dengan indah oleh pujangga Melayu, Rida K Liamsi, akan terasa sebuah atmosfir romantisme kultur kelautan itu. Pelabuhan, pulau, selat, kapal, laut biru dan tentu saja pelaut Bugis, adalah konstituen novel itu.

Sebenarnya, tidak hanya Inggris, negeri ini pun berhak menyebut putra-putranya sebagai "Children of the waves" - anak-anak gelombang. Kita memang akrab dengan terma kelautan, apatah lagi bagi Riau dan Kepulauan Riau. Dua wilayah ini sejak dulu selalu menjunjung legenda kapal Lancang Kuning sebagai tunjuk ajar bagi anak negeri dalam membangun kepemimpinan. Bila nakhoda kurang paham alamatlah kapal akan tenggelam, begitu pesannya. Dua wilayah ini pun sama-sama mengaku, air dan tanahnya adalah laut sakti rantau bertuah.

Kini laut yang sudah menjadi takdir kultural kehidupan kita itu, semakin tak terduga. Musim utara dan musim angin barat, yang setiap tahun selalu menyapa, badainya semakin tak tentu dan ombaknya semakin ganas. Musibah kapal tenggelam silih berganti. Pada 15 November, beberapa hari lalu, terjadi empat kecelakaan laut di wilayah Kepulauan Riau dan Jambi. Dumai Express 10 tenggelam di perairan Kabupaten Karimun, puluhan korban tewas dan hilang; Marina Batam 10, Dumai Express 15 kandas di Moro; dan kapal kargo Sumber Rezeki tenggelam di perairan Kuala Tungkal, Jambi. (Riau Pos, 23/11). Kita berduka.

Musibah adalah tragedi kehidupan dan selalu membawa pesan tersembunyi. Tapi sekurang-kurangnya kita bisa menarik iktibar. Musibah di laut yang semakin tinggi frekuensinya, agaknya karena dua hal. Pertama, akibat keteledoran manusia; kedua, karena faktor alam. Faktor manusia bisa dievaluasi sebagai alat penertiban, tapi faktor alam? Kita dituntut semakin arif membaca bintang di langit di malam kelam. Dengan kerendahan hati kita tetap mengumandangkan: Jalesveva Jayamahe...!!

kolom - Riau Pos 30 November 2009
Tulisan ini sudah di baca 1759 kali
sejak tanggal 30-11-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat