drh. Chaidir, MM | Profesor, Bangunkan Raksasa Itu | Gagasan mendirikan Riau Fish International Restaurant (Riau FIR) alias Restoran Internasional Ikan Riau yang dilambungkan oleh Prof Tengku Dahril, sah-sah saja. Profesor kita ini memang orang perikanan, sekarang pun sedang menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau. Sang Profesor, ta
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Profesor, Bangunkan Raksasa Itu

Oleh : drh.chaidir, MM

Gagasan mendirikan Riau Fish International Restaurant (Riau FIR) alias Restoran Internasional Ikan Riau yang dilambungkan oleh Prof Tengku Dahril, sah-sah saja. Profesor kita ini memang orang perikanan, sekarang pun sedang menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau. Sang Profesor, tak diragukan lagi, memiliki dedikasi yang tinggi terhadap bidangnya.

Layakkah Riau FIR? Tentu tergantung dari sudut mana memandangnya. Dihadapkan pada masyarakat yang sudah semakin maju, permintaan yang meningkat dan bervariasi, serta apresiasi terhadap kualitas hidangan menu ikan, maka Riau FIR barangkali diperlukan. Apalagi pada 2012 nanti Riau akan menyelenggarakan event akbar PON XVIII. Dihadapkan pada potensi perikanan, Riau sudah tidak disangsikan, memiliki potensi besar. Riau memiliki kawasan laut, selat-selat, pulau-pulau, pesisir pantai dan empat sungai besar (Sungai Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri). Ada juga Dana Di Atas, Danau Di Bawah, Waduk PLTA, Waduk Limbungan, dan seterusnya. Masih ada pula daerah rawa yang terbentang luas mulai dari kaki Bukit Barisan sampai ke bibir Selat Melaka. Semuanya seakan tercipta untuk Riau.
Menu ikan bagi masyarakat Riau sudah menjadi pola makan sehari-hari. Sehingga jangan heran bila konsumsi ikan Riau (135 ribu ton per tahun) lebih tinggi dari konsumsi ikan nasional. Harus diakui memang, penyebaran konsumsi itu belum merata. Beberapa kabupaten misalnya, konsumsinya masih di bawah rata-rata nasional.

Kalau ada investor yang berminat, Riau FIR tentu bisa diwujudkan. Pemerintah daerah cukup memberikan fasilitas dan kemudahan. Gagasan Riau FIR, seperti diungkapkan Prof Tengku Dahril sang penggagas lebih sebagai simbol terhadap adanya perubahan mind-set (pola pikir), agar kegemaran masyarakat makan ikan terus ditingkatkan. Begitu kira-kira. Ikan memang bergizi tinggi. Mungkin karena itu gambaran fenotipe fisik orang-orang yang tinggal di pesisir atau di kepulauan lebih tinggi dan lebih besar daripada yang tinggal jauh di darat. Orang-orang Shanghai di Cina, misalnya, umumnya lebih tinggi dan kekar daripada yang tinggal di pedalaman.

Bila Riau FIR itu sungguh-sungguh akan diwujudkan tentu memerlukan kajian, apalagi mengusung atribut internasional. Dengan catatan, pencantuman atribut internasional" tidak hanya sekedar nama, tetapi memang diharapkan layak dikunjungi oleh pelanggan manca negara, dengan cita-rasa tinggi.

Dalam pandangan saya, gagasan Riau FIR harus diletakkan dalam konteks pengembangan industri perikanan di daerah ini. Kita perlu bangunkan raksasa ekonomi rakyat yang sedang tidur di rumah kita. Potensi perikanan kita sesungguhnya masih sangat besar. Memang riwayat Bagan Siapi-api sebagai penghasil ikan nomor dua di dunia tinggal kenangan, demikian juga perairan Bengkalis dengan ikan terubuknya. Namun bila raksasa itu dikelola dengan benar, perikanan akan mampu berperan penting dalam penanggulangan kemiskinan. Pilihan programnya adalah pengembangan bioteknologi perairan dan perikanan. Sejalan dengan itu berdayakan pula petani/nelayan melalui pembimbingan bantuan permodalan, sarana produksi dan fasilitas. Tingkatkan kapasitas kelembagaan petani/nelayan seperti koperasi, kelompok tani, dan sebagainya. Bila petani/nelayan maju, mereka tidak akan jadi penonton Riau FIR kelak.

kolom - Riau Pos 9 Maret 2009
Tulisan ini sudah di baca 1250 kali
sejak tanggal 09-03-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat