drh. Chaidir, MM | Teka-teki Anas | ANAS Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat akhirnya ditahan KPK pada
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Teka-teki Anas

Oleh : drh.chaidir, MM

ANAS Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat akhirnya ditahan KPK pada "Jumat Keramat" (10/1) lima hari lalu. Kendati tidak mengejutkan, berita penahanan ini tetap saja menjadi isu politik paling aktual di awal Tahun Politik 2014. Apalagi AU pandai mengemas teka-teki seputar kasus yang membelitnya.

Teka-teki AU terbaca dari pernyataannya beberapa saat sebelum ditahan, seperti dimuat berbagai media dan dikomentari pula dalam perspektif semantik oleh beberapa ahli bahasa. Seperti terbaca, AU memberikan pernyataan berterima kasih kepada Presiden SBY atas penahanan dirinya oleh KPK. Bahkan AU menyebut, peristiwa penahanan itu mudah-mudahan mempunyai makna dan menjadi hadiah Tahun Baru bagi Presiden SBY.

Bahwa ucapan itu sebuah sindiran, tidak ada yang meragukan. Tetapi kata-kata AU jelas bersayap dan bermuatan teka-teki yang bernuansa politik. "Bermakna" bagi Presiden SBY, makna apa? Hadiah Tahun Baru bagi Presiden SBY, maksudnya apa? Sebuah hadiah biasanya menimbulkan kegembiraan bagi yang menerima. Gembirakah Presiden SBY? Ucapan AU menimbulkan spekulasi publik, ada "ikan besar" di balik kasus AU. Apalagi AU pernah menyebut, apa yang terungkap ke permukaan baru merupakan halaman pertama kisah kasusnya. Dan itu cukup memberi konotasi, masih ada halaman-halaman berikutnya yang belum dibuka. Apa isi halaman-halaman berikut itu? Inilah agaknya yang menjadi teka-teki misterius yang mendebarkan dan membuat ada pihak mendemam dengan ditahannya AU.

Terlepas dari adanya kelompok pro-kontra, pencaci atau pendukung, AU pada awalnya "digadang-gadang" sebagai salah seorang the rising star, tokoh unsur generasi muda yang disebut-sebut sedang bersinar dan memiliki kapasitas sebagai pemimpin bangsa. Bahkan banyak kalangan yang menyebut AU adalah fotokopi figur Presiden SBY yang terkenal dengan brand image, tenang, bersih, cerdas dan santun dalam bertutur kata, sikapnya tidak meledak-ledak. AU pandai berpidato seperti Akbar Tanjung, seniornya di HMI. Materi pidatonya pun runut dan teratur.

AU pun menonjol sebagai seorang politisi intelektual, tidak hanya dari tutur bahasa dan buku-buku yang ditulisnya, tetapi juga dari pemikiriannya yang terlihat jernih. Dalam sebuah acara buka puasa bersama tanggal 22 Agustus 2010 di Cikeas, misalnya, AU dengan santun menguraikan di depan Presiden SBY perlunya para kader Partai Demokrat, bahkan bangsa kita menganut politik asketisme, yakni politik santun, ikhlas, rendah hati yang diselimuti oleh nilai keagamaan.

Pasca Pemilu 2009, AU disebut bersama beberapa tokoh muda lain sebagai figur muda yang menonjol, seperti Anies Baswedan, Andi Mallarangeng, Muhaimin Iskandar, Anis Matta, Priyo Budi Santoso, Puan Maharani dan lain-lain. Mereka disebut figur yang layak menerima tongkat estafet kepemimpinan nasional. AU kemudian mengokohkan diri sebagai figur muda yang sangat layak diperhitungkan setelah terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dalam Kongres tahun 2010. Partai Demokrat dipuji karena pada masa yang bersamaan, partai-partai lain kurang berani memberikan kesempatan kepada anak-anak muda tampil di tampuk kepemimpinan partai di tingkat nasional. Sayangnya, apapun alasannya, Partai Demokrat terlihat tidak konsisten, ketika pada Kongres Luar Biasa awal tahun 2013, SBY kembali mengambil alih posisi Ketua Umum Partai Demokrat tersebut.

Kasus AU tentu saja menarik untuk diikuti. Daya tarik itu antara lain, publik agaknya menunggu jawaban kunci teka-teki AU. Selebihnya biarlah sejarah yang akan menilai. Que sera sera.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 443 kali
sejak tanggal 14-01-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat