drh. Chaidir, MM | Fenomena Teh Pucuk | IBARAT pertandingan sepakbola, setelah gawangnya dikepung dan dibombardir dari segala penjuru, akhirnya kebobolan juga.  Anas Urbaningrum akhirnya ditahan KPK. Banyak yang menghujat tapi tak sedikit pula yang bersimpati. Sebagai figur yang malang melintang di belantara organisasi dan politik, AU pas
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Fenomena Teh Pucuk

Oleh : drh.chaidir, MM

IBARAT pertandingan sepakbola, setelah gawangnya dikepung dan dibombardir dari segala penjuru, akhirnya kebobolan juga. Anas Urbaningrum akhirnya ditahan KPK. Banyak yang menghujat tapi tak sedikit pula yang bersimpati. Sebagai figur yang malang melintang di belantara organisasi dan politik, AU pasti menyadari, bermain air basah bermain api hangus. Itu risiko jabatan, tangan mencincang bahu memikul. Yang agak dramatis dan misterius adalah ungkapan AU, sebagaimana ditulis berbagai media, "Terima kasih kepada Pak SBY, mudah-mudahan peristwa ini punya makna dan menjadi hadiah tahun baru 2014."

Para ahli bahasa menyebut, ungkapan itu terasa bersayap. Bermakna bagi siapa? Hadiah bagi siapa? AU pernah menyebut, apa yang terungkap baru merupakan halaman pertama kisah kasusnya. Dan itu cukup memberi konotasi, masih akan ada halaman-halaman berikutnya yang belum dibuka. Inilah agaknya yang mendebarkan dan membuat ada pihak yang demam dengan ditahannya AU. Asumsi-asumsi pun berkembang liar.

Tapi biarlah itu semua menjadi bagian dari sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu fenomena yang menarik sebagai kontemplasi kita bersama adalah betapa lembaga kemasyarakatan kita dewasa ini, infra dan supra struktur politik, yang sesungguhnya menjadi kawah candradimuka untuk menempa kaum muda calon pemimpin, tak lagi sakral. Satu per satu talenta muda yang sebelumnya digadang-gadang sebagai calon pemimpin bangsa, rontok sebelum waktunya. Layu sebelum berkembang.

Calon-calon pemimpin muda kita kelihatannya tak kuasa melawan predator. Binatang predator tersebut bernama virus mentalitas instan. Virus ini ternyata sangat dahsyat dalam menggerogoti jiwa kaum muda kita. Daya rusaknya luar biasa. Tanpa terasa penyakitnya sudah stadium lanjut, tak lagi tersembuhkan. Virus tersebut menyebabkan pengidapnya memiliki syahwat besar ingin cepat kaya, sukses dan tekenal. Gejala yang nampak dari luar adalah suburnya budaya hidup yang tidak sehat dan tidak produktif seperti narkoba, genk motor, bom bunuh diri, materialisme, hedonisme, eksibisionisme, mumpungisme, konsumtif, kolutif, koruptif, dan seterusnya. Tidak tertib dan tidak saling menghargai. Akibatnya, belum sempat dewasa dan mendaki sampai ke puncak, kaum muda kita terperangkap seperti fenomena iklan teh pucuk, daun-daun mudanya satu per satu habis dimakan ulat.

Tidak mudah memang, tumbuh dan berkembang di era ketika predator itu sendiri menjadi siluman dalam kehidupan kita sehari-hari. Sementara pada bagian lain, keteladanan tokoh dan petinggi, yang diyakini dapat meredam berkembang biaknya predator tersebut tidak hadir dalam keseharian.

Tantangan terberat kaum muda calon pemimpin masa depan kita adalah mengalahkan predator itu, yang bersemayam dalam diri masing-masing. Salah satu ikhtiar yang mungkin dilakukan bergegaslah berbenah dan mengubah pola pikir. Kompetensi sangat penting, membangun integritas diri harga mati.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 399 kali
sejak tanggal 13-01-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat