drh. Chaidir, MM | Adat Sungai Banjir | BANJIR pasti menimbulkan masalah serius bagi warga. Roda perekonomian lumpuh, warga tak bisa bepergian kemana-mana mencari rezeki, dan anak-anak pun tak bisa sekolah. Masalahnya jadi runyam bila prasarana jalan penghubung terputus.

Tapi banjir juga bisa menjadi hiburan bagi anak-anak. Kendati ban
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Adat Sungai Banjir

Oleh : drh.chaidir, MM

BANJIR pasti menimbulkan masalah serius bagi warga. Roda perekonomian lumpuh, warga tak bisa bepergian kemana-mana mencari rezeki, dan anak-anak pun tak bisa sekolah. Masalahnya jadi runyam bila prasarana jalan penghubung terputus.

Tapi banjir juga bisa menjadi hiburan bagi anak-anak. Kendati banjir sering membawa korban, tak membuat anak-anak jera. Bila air meluap sampai ke pemukiman anak-anak biasanya bisa bermain air sepuas-puasnya. Kalau hari-hari biasa mereka harus ke water park untuk bermain air dan itu harus bayar, maka di musim banjir mereka bermain air secara gratis. Saya punya pengalaman menarik, suatu saat dulu ketika masih menjabat Ketua DPRD, dalam sebuah peninjauan banjir, saya mencoba menghibur sebuah keluarga yang rumahnya tergenang banjir dengan berbasa-basi mengatakan, bahwa sebentar lagi airnya akan surut. Seorang anak yang memegang tangan ibunya malah menangis, dengan meronta mengatakan, "ndak mau...ndak mau..." Sang anak rupanya tidak mau banjirnya surut, padahal menurut ibunya, bibir anaknya sudah biru karena bermain air seharian.

Banjir selalu saja meninggalkan cerita. Banjir yang terjadi di Jakarta, 17 Januari 2012 lalu, yang menggenangi jalan protokol Jakarta, yakni Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman, suatu daerah yang sangat prestisius di ibukota, diikuti dengan isu menarik: Jakarta tak lagi layak jadi ibukota negara. Ibukota negara tak boleh kebanjiran seperti itu yang bahkan tak sungkan-sungkan menerobos masuk istana merdeka. Presiden SBY pun sempat angkat bicara mengenai pemindahan ibukota ini. Kalimantan Tengah disebut-sebut sebagai salah satu alternatif.

Tahun ini banjir kembali menyapa berbagai daerah, terutama di kawasan barat Indonesia. Riau adalah salah satu daerah yang selalu menjadi langganan banjir setiap tahun. Keadaan ini tak mungkin dihindari, karena Riau dialiri oleh empat sungai besar, yaitu Batang Rokan, Sungai Siak, Batang Kampar dan Sungai Indragiri. Empat sungai besar itu merupakan takdir Riau. Riau sesungguhnya beruntung memiliki sungai-sungai tersebut karena sejak zaman dulu sungai-sungai ini merupakan sumber kehidupan masyarakat dan menjadi urat nadi perekonomian penduduk. Puluhan anak sungai bemuara pula di empat sungai besar tersebut.

Tidak ada banjir kalau tak ada sungai. Banjir adalah sungai yang meluap airnya melampaui tebing-tebing tanpa assalamualaikum masuk ke pemukiman penduduk. Kenapa meluap? Karena airnya terlalu banyak. Kenapa air terlalu banyak, karena curah hujan yang terlalu tinggi melebihi curah hujan normal. Apalagi kemudian hutan di sepanjang daerah aliran sungai terutama di bagian hulu sudah banyak yang ditebangi. Tapi sesungguhnya, banjir tidak hanya terjadi sekarang saja, sejak zaman dahulu juga banjir sudah ada. Hanya saja dulu kondisinya tidak dramatis seperti sekarang. Ada beberapa alasan. Pertama, lahan di daerah aliran sungai sudah banyak yang gundul, hutan dijadikan ladang atau kebun; kedua, pemukiman penduduk di sekitar aliran sungai tidak massive seperti sekarang; ketiga, telah terjadi pendangkalan sungai karena erosi dan sedimentasi; keempat, sekarang banyak anggaran bantuan sosial dari pemerintah (sehingga semua berebutan mendapatkannya); dan kelima, sekarang banyak partai politik yang setiap musim banjir selalu melakukan pencitraan (sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampau), banjir dipolitisasi.

Banjir itu datang setiap tahun seperti layaknya musim dingin di Barat sana. Semestinya kita sudah punya prosedur tetap menghadapi banjir sebagaimana orang barat menghadapi musim dingin atau orang Jepang menghadapi gempa dan tsunami. Pemerintah membantu mengatur dan meminimalisir kerugian masyarakat, selebihnya masyarakat harus beikhtiar menolong dirinya sendiri.

Di kawasan perkotaan pemerintah seyogianya menjadikan kawasan di sepanjang aliran sungai sebagai kawasan hijau dan pertamanan. Rumah-rumah yang selama ini membelakangi sungai harus balik kanan dengan design arsitektur khusus anti banjir. Semua ditata dengan indah dan asri. Sungai harus dimanjakan dengan senantiasa menjaganya tetap bersih, tidak memperlakukannya sesuka hati seperti tempat buang sampah, tempat buang hajat, tempat buang limbah prabrik, dan sebagainya. Penataan tersebut bisa, bila ada sosialisai dan rasa saling percaya antara pemerintah dan masyarakat. Banjir tak mungkin dilawan melainkan menjadikannya sahabat. Adat manusia banyak resam, adat sungai banjir.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 397 kali
sejak tanggal 07-01-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat