drh. Chaidir, MM | Politik Yang Iya Iyalah | TAK ada yang baru di bawah matahari, begitu disebut sebuah ungkapan Arab. Pun matahari  yang bersinar hari ini dan memberikan panasnya, adalah matahari yang itu-itu juga. Matahari yang sudah ada sejak dunia tekembang. Matahari yang kita kenal sejak dulu kala, belum ada perubahan.

Planet bumi yang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Yang Iya Iyalah

Oleh : drh.chaidir, MM

TAK ada yang baru di bawah matahari, begitu disebut sebuah ungkapan Arab. Pun matahari yang bersinar hari ini dan memberikan panasnya, adalah matahari yang itu-itu juga. Matahari yang sudah ada sejak dunia tekembang. Matahari yang kita kenal sejak dulu kala, belum ada perubahan.

Planet bumi yang kita huni ini, yang setiap saat dengan setia dibelai sang surya adalah planet yang sama yang sudah sejak semula jadi berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya, komit, tak pernah ingkar, tak pernah tersesat walau sesaat. Tidak ada yang berubah.

Yang membuat sesuatu perubahan itu adalah manusia. Dan itu sifatnya artifisial. Manusia memberi tanda dan manusia pula yang memberi penamaan terhadap tanda yang dibuat. Manusialah yang menyusun kalender dan menyebut almanak Hijriyah, memberi nama almanak Masehi. Padahal waktu yang berputar siang dan malam itu, sejak dulu kala tetap demikian. Manusia juga yang memberi nama pada tahun, menyebutnya Tahun Naga, Tahun Ayam, Tahun Tikus, dan sebagainya. Manusia juga yang menyebut tahun sulit, tahun kelaparan, tahun kunjungan wisata, tahun politik, dan seterusnya. Manusia memberi nama berdasarkan tanda-tanda alam, kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan.

Tahun 2014 ini misalnya, oleh orang Indonesia diberi julukan tahun politik, karena tahun ini sarat dengan agenda-agenda politik. Ada pemilu legislatif dan ada pemilihan presiden. Rangkaian kegiatan yang inheren dengan kedua agenda tersebut memang cukup padat, ada masa kampanye, ada masa pelaksanaan pemilihan, penghitungan suara dan penetapan pemenang. Puncaknya adalah pelantikan anggota DPRD, anggota DPD, anggota DPR dan pengucapan sumpah presiden dan wapres tepilih. Sesungguhnya, tak ada masalah dengan agenda-agenda tersebut, begitulah konsekuensi yang harus dijalani oleh sebuah bangsa yang telah sepakat memilih demokrasi sebagai sebuah ikhtiar pemanusiaan manusia. Bahkan secara lebih luas, sebagai zoon politicon, makhluk sosial, manusia tak pernah bebas dari politik.

Yang membuat risau sebenarnya adalah politisasi yang belebihan terhadap segala aspek kehidupan masyarakat. Ketika politik menjadi panglima, bahkan menjurus homo homini lupus seperti apa yang disebut Thomas Hobbes, maka demi kepentingan, kebenaran selalu tersudut oleh pembenaran-pembenaran. Agenda normatif politik 2014 itu, jangan harap akan berlangsung mulus, melainkan penuh onak dan duri serta tikungan-tikungan tajam menjerumuskan. Begitulah. Politisasi keadaan disadari tidak baik karena sering menimbulkan ekses, tapi sering tak terelakkan. Yang namanya politisasi rakyat, politisasi birokrasi, politisasi program kerakyatan, politisasi bantuan sosial, politisasi anggaran, belum ada obatnya yang mujarab.

Di bawah matahari, karakter politik itu sebenarnya juga belum berubah, mirip goyang "Senam Yang Iya Iyalah", menggemaskan, asal-asalan, konyol, suka-suka. Waspadalah agar tidak terjerumus akibat baku jerumus. Selamat memasuki tahun 2014, Tahun Politik.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 406 kali
sejak tanggal 06-01-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat