drh. Chaidir, MM | Ciao 2013 | TAHUN 2013 segera masuk bilik sejarah, selamanya. Sementara sang burung waktu (pinjam frasa sastrawan Melayu Idrus Tintin) akan terus mengepakkan sayap ke depan, tak ada kata kembali. Ciao 2013.

Bagi Riau, tahun 2013 pergi dengan meninggalkan teka-teki, salah satu diantaranya, kapan gubernur terp
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ciao 2013

Oleh : drh.chaidir, MM

TAHUN 2013 segera masuk bilik sejarah, selamanya. Sementara sang burung waktu (pinjam frasa sastrawan Melayu Idrus Tintin) akan terus mengepakkan sayap ke depan, tak ada kata kembali. Ciao 2013.

Bagi Riau, tahun 2013 pergi dengan meninggalkan teka-teki, salah satu diantaranya, kapan gubernur terpilih dilantik, di awal tahun 2014kah atau di tahun 2015? Spekulasi terlanjur merebak kemana-mana, sampai 2015 Riau akan dipimpin oleh seorang penjabat gubernur. Kasihan Pak Djo (panggilan populer untuk Prof Djohermansyah Djohan, sang Penjabat Gubri). Dia 1000% tak tahu apa-apa dengan spekulasi itu. Tapi Pak Djo terlanjur berada di sana, dalam wilayah yang sarat agenda politik. Sayangnya, karena saat ini yang tumbuh subur adalah politik rendahan (low politic), maka belantara itu penuh onak dan duri.

Tahun demi tahun belalu, permasalahan demi permasalahan di daerah kaya ini tak kunjung-kunjung tuntas. Penyesalan demi penyesalan juga selalu berlomba datang terlambat. Alm. Gus Dur mungkin benar ketika dalam suatu kesempatan yang jauh, saat Beliau masih Presiden, mengatakan, Riau itu tak ada apa-apanya. Ungkapan tersebut diterjemahkan dalam dua persepsi oleh masyarakat Riau ketika itu. Pertama, Riau itu aman-aman saja, kondusif. Kedua, Riau itu ibarat mentimun bungkuk, dimasukkan tak menambah hitungan, dikeluarkan tak mengurangi.

Mengapa demikian? Aksioma Peter Drucker adalah jawabannya: Riau salah urus! Organisasi ini salah urus. Organisasi besar yang bernama Riau itu dengan sumber daya yang dahsyat berupa "5 M" (Man, Money, Materials, Methode, Macchine) bila digerakkan secara efektif dan efisien akan bisa melaju dengan kencang menuju cita-cita masyarakat Riau ketika memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Tengah pada 1957 silam, yakni masyarakat yang sejahtera lahir batin, masyarakat yang menjadi tuan di negeri sendiri.

Kenyataannya, masih belum. Riau belum beruntung mendapatkan pemimpin yang paham menggerakkan roda organisasi tersebut dengan cepat dan tepat. Kepala daerah yang ada dianggap belum ideal (kecuali Gubernur Kaharuddin Nasution yang dianggap visioner). Yang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ada yang terlalu pusat sentris, ada yang terlalu daerah sentris, ada yang telalu birokratis, ada yang terlalu nepotis, ada yang bak selebritis, terlalu egois, dan ada pula yang terlalu banyak menggalas. Indikasinya jelas. APBD yang besar relatif tak membuat daerah ini lebih baik dibanding daerah-daerah lain yang APBDnya lebih kecil. Gedung-gedung di kota memang bertambah megah, tetapi prasarana Dasar berupa jalan, listrik dan air bersih masih jauh dari kebutuhan. Pemukiman kumuh masih berserakan dimana-mana. Hutan habis dibabat. Korupsi merajalela. Lain yang gatal lain digaruk. Tegasnya, sumber daya organisasi kita yang besar itu telah gagal digerakkan secara efekif dan efisien.

Tapi, mengutip ungkapan filsuf Romawi, Cicero, biarlah masa silam yang kelam itu tenggelam dalam tidurnya yang abadi. Kita optimis selalu ada harapan. Dan 2014 adalah momentum Riau untuk bangkit. Lebih cepat lebih baik.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 421 kali
sejak tanggal 30-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat