drh. Chaidir, MM | Keruntuhan Dinasti | GUBERNUR Banten Ratu Atut Chosiyah akhirnya ditahan KPK. Peristiwa  tahan-menahan ini tak lagi mengejutkan. Sudah ada menteri,  gubernur lain , juga presiden partai politik yang dibui. Proses hukum itu risiko jabatan yang harus dihadapi oleh seorang penguasa yang menggenggam pedang kekuasaan di tang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Keruntuhan Dinasti

Oleh : drh.chaidir, MM

GUBERNUR Banten Ratu Atut Chosiyah akhirnya ditahan KPK. Peristiwa tahan-menahan ini tak lagi mengejutkan. Sudah ada menteri, gubernur lain , juga presiden partai politik yang dibui. Proses hukum itu risiko jabatan yang harus dihadapi oleh seorang penguasa yang menggenggam pedang kekuasaan di tangannya.

Huzrin Hood, mantan Bupati Kepulauan Riau di era 2000-an awal, mengucapkan 'innalillaahi wainna ilaihiroji'un ketika dia terpilih sebagai Bupati Kepulauan Riau dalam sebuah sidang DPRD Kepri. Seperti dipahami umum, ucapan tersebut sering diidentikkan dengan orang yang meninggal dunia. Tetapi sesungguhnya bisa digunakan bila seseorang tertimpa musibah. Huzrin Hood menyadari betul, amanah yang dia peroleh akan menjadi musibah bila tak dilaksanakan dengan benar.

Itulah yang dialami Ratu Atut. Gubernur pertama perempuan itu agaknya tak menyadari betapa berkah (bila jabatan dianggap berkah) dan musibah itu hanya dipisahkan oleh sebuah labirin tipis. Sedikit saja keseimbangan berubah ceritanya akan lain. From hero to zero. Dari pahlawan ke pesakitan; dari pejabat ke penjahat; dari pemenang ke pecundang, sering terjadi.

Kisah Ratu Atut menarik, bukan karena ketakutannya melihat tahanan narkoba yang sedang sakaw dalam selnya, tetapi cerita elaborasi keruntuhan terlalu dini sebuah politik dinasti. Cerita tentang politik dinasti yang dibangun Ratu Atut tidak lagi menjadi rahasia; sudah menjadi cerita biasa di kedai kopi. Ayah dari Ratu Atut dikenal sebagai seorang jawara Banten, bahkan ia pernah menyebut dirinya sebagai seorang gubernur jenderal. Ayahnya bernama Tubagus Chasan Sochib. Dan ayahnya itulah yang membangun "Dinasti Banten" (Djarwopapua, www.politik.kompasiana.com 7/10/2013).

Sepertinya sang ayahlah yang mulai membentuk semacam cosa nostra ala Italia di Banten. Tak heran bila sang ayah memiliki pengaruh besar dan memiliki banyak pengikut di Banten. Bakat itulah agaknya yang mengalir dalam darah Ratu Atut untuk mengembangkan pemerintahan dan jaringan bisnis yang berorientasi politik kekerabatan patrimonial.

Sesungguhnya, semua politik dinasti itu gagal. Politik dinasti yang terjadi di India, Pakistan, Korea Utara, Singapura, Indonesia, bahkan juga di Amerika Serikat, tak boleh disebut buruk. Di India misanya, Jawaharlal Nehru mengalirkan darah politik Dinasti Gandhi pada Indira Gandhi dan Rajiv Gandhi. Benazir Bhuto di Pakistan, adalah anak perempuan tertua Zulfikar Ali Bhuto. Di Korea Utara, pemimpin muda, Kim Jong Un menggantikan bapaknya Kim Jong-il yang sangat berpengaruh. Di Singapura, Dinasti Lee belum tergoyahkan. Lee Shien Long menjadi penerus tokoh pendiri Singapura Lee Kuan Yew. Di Indonesia dinasti Soekarno diteruskan oleh Megawati Soekarnoputri. Dan di Amerika, kita mengenal Dinasti Kennedy dan Dinasti Bush. Sejauh politik dinasti tak terkontaminasi oleh unsur nepotisme, artinya, seseorang naik karena kemampuan, maka ada harapan politik dinasti tersebut akan bertahan.

Tapi bila politik dinasti itu tidak berlandaskan pendekatan merit system (keahlian dan kemampuan) dalam pembentukan pemerintahannya, melainkan sarat dengan nepotisme, kepemimpinan oligarki (pemerintahan dikuasai oleh satu kelompok, sehingga terbentuk birokrasi yang tidak becus), aji mumpung, pembusukan-pembusukan, dan korupsi merajalela, maka dinasti akan mengalami keruntuhan. Ratu Atut dan Banten, harus jadi iktibar.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 407 kali
sejak tanggal 24-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat