drh. Chaidir, MM | Politik Kunang-kunang | POLITIK santun, mudah diucapkan tapi bukan main sulit dalam pelaksanaannya. Nama 'binatang'nya saja politik, memang demikianlah perilakunya, susah dijinakkan, tergantung situasi dan kondisi. Kadang lembut seperti kelinci, tapi lebih sering buas bak buaya. Di lain kesempatan, 'binatang' itu bisa pula
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Kunang-kunang

Oleh : drh.chaidir, MM

POLITIK santun, mudah diucapkan tapi bukan main sulit dalam pelaksanaannya. Nama 'binatang'nya saja politik, memang demikianlah perilakunya, susah dijinakkan, tergantung situasi dan kondisi. Kadang lembut seperti kelinci, tapi lebih sering buas bak buaya. Di lain kesempatan, 'binatang' itu bisa pula jinak-jinak merpati.

Harold Lasswell (1902-1978), ahli politik yang pernah menjabat sebagai Presiden Asosiasi Ilmu Politik Amerika Serikat, menyebut tanpa basa-basi, bahwa politik itu adalah "who gets what, when and how." Maksudnya kira-kira, siapa mendapatkan apa, kapan dan dengan cara bagaimana. Terasa kelat. Kalau 'apa' yang dimaksud sudah pasti berada di tangan, menjadi milik kita atau hanya diperuntukkan bagi kita sendiri, maka tidak perlu ada cara mendapatkannya. Tetapi ketika 'apa' tersebut diperebutkan oleh beberapa pihak yang harus berkompetisi untuk mendapatkannya, maka di situlah politik hadir. Maka politik sering disebut berkerabat sangat dekat dengan 'binatang' lain yang bernama kepentingan.

Aksioma Lasswell itu terasa semakin menukik tajam bila konteksnya adalah hiruk pikuk pemilukada yang sarat dengan praksis politik pragmatis.

Kesantunan dan kesederhanaan tinggal hanya sebatas bibir belaka. Betapa sering misalnya, kita dengar nasihat politik, tak usah padamkan bola lampu lawan, buat saja bola lampu kita lebih terang supaya sinarnya menerangi lampu lawan. Dengan demikian tidak ada yang merasa kecewa. Tapi di hati lain di bibir lain. Lampu-lampu politik kita itu tak ubahnya seperti bola lampu biasa yang berasal dari energi listrik, yang sayangnya energi listriknya tidak hanya menghasilkan cahaya, tapi juga menghasilkan panas dalam satuan yang lebih dahsyat, yang bisa merusak bahkan mematikan. Padahal politik menurut Aristoteles, bertujuan untuk mewujudkan sesuatu yang vital bagi setiap orang, yakni kebahagian dan kesejahteraan.

Politik kita tak pernah bisa meniru asketisme politik kunang-kunang. Dia tak pernah galau walau tak dipedulikan oleh siapapun di siang hari yang terang. Mereka tak berguna dan tak ada yang memperhatikan. Tetapi di malam kelam, kunang-kunang bersinar menghiasi gulita. Memang kunang-kunang tak memberikan cahaya benderang, mereka hanya berkelap-kelip, tapi untuk apa bila cahaya terang itu akan menyilaukan dan menyakitkan mata? Kelap-kelip kunang-kunang menawarkan kelembutan dan keindahan, secercah peran berupa setitik cahaya dalam kegelapan. Kunang-kunang tidak memerlukan sumber energi listrik dari pihak lain untuk bercayaha. Kunang-kunang memiliki energi sendiri yang menghasilkan cahaya. Dan cahaya kunang-kunang itu berasal dari 'sinar dingin' yang tak mengandung ultraviolet maupun sinar inframerah yang membahayakan pihak lain. Genggamlah kunang-kunang, tak akan terasa panas. Kenapa? Karena hanya sedikit sekali energi listrik yang ada dalam tubuhnya yang berubah menjadi panas, selebihnya hampir seratus persen diubah menjadi cahaya. Kunang-kunang, bisikkanlah sebuah pesan.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 406 kali
sejak tanggal 23-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat