drh. Chaidir, MM | Berkubang di Metropolitan | FRASA Prof Tabrani Rabb 'Pekanbaru Kota Berkuah' belasan tahun lalu masih aktual sampai sekarang. Buktinya, hujan lebat saja sebentar maka Pekanbaru akan digenangi air dimana-mana, apalagi hujannya lebat dan agak lama. Pekanbaru pasti berkuah seperti gulai asam pedas ikan patin, menu khas Pekanbaru.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berkubang di Metropolitan

Oleh : drh.chaidir, MM

FRASA Prof Tabrani Rabb 'Pekanbaru Kota Berkuah' belasan tahun lalu masih aktual sampai sekarang. Buktinya, hujan lebat saja sebentar maka Pekanbaru akan digenangi air dimana-mana, apalagi hujannya lebat dan agak lama. Pekanbaru pasti berkuah seperti gulai asam pedas ikan patin, menu khas Pekanbaru.

Beberapa ruas jalan yang belum-belum juga diperbaiki, dan sekian ruas lagi yang tidak terawat dengan baik, menjadi semakin parah berlubang-lubang. Jalan dan bahu jalan yang berlubang-lubang ini membahayakan pengendara khususnya pengendara sepeda motor karena lubang-lubang tersebut tertutup air yang menggenang setinggi lutut. Di beberapa tempat, karena drainase sangat buruk, jalan raya seakan berubah menjadi kubangan. Pemandangan inilah ang terlihat di Jl Soekano-Hatta, di depan mall SKA. Jalan ini memang sudah lama rusak.

Sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi jalan tersebut, sekelompok seniman pemain teater yang tergabung dalam Komunitas Seni Rumah Sunting, menggelar aksi teatrikal pada hari Minggu (15/12) tiga hari lalu di lokasi tersebut. Dua pemuda dan satu pemudi yang memainkan lakon tersebut rela bekubang-kubang di lumpur kubangan di bawah tatapan terkesima masyarakat di sekitarnya.

Sampai saat ini belum ditemukan solusi yang mangkus agar Pekanbaru tidak berkuah dan jadi kubangan. Walikota Pekanbau datang dan pergi silih berganti, tetapi genangan di musim hujan tetap terjadi dan semakin menjadi-jadi. Pekanbaru tetap berkuah. Kalau dibuat analagi dokter dan pasien, Pekanbaru berkuah selalu kambuh setiap tahun, seperti penyakit menahun yang belum tersembuhkan. Kalau masih belum sembuh-sembuh juga berarti obatnya tidak mujarab atau tidak tepat, atau dosisnya kurang tinggi. Atau kemungkinan lain, diagnosanya yang tidak akurat. Boleh jadi gejala yang sama tetapi penyebab penyakitnya berbeda-beda. Bila diagnosa penyakit tidak tepat, maka tentulah obatnya pun salah. Sepertinya, Pekanbaru berkuah, belum terdiagnosa dengan tepat. Siapa yang salah, pasiennya yang bandel, obatnya yang sudah kadaluwarsa, atau dokternya yang tidak mampu mengobati?

Sebuah realitas sebagaimana diberitakan media cetak, masing-masing instansi pemerintah terkait yang menurut pemahaman awam mestinya bertanggung jawab terhadap pembangunan infrastruktur jalan tersebut, saling lempar tanggung jawab. Instansi yang menangani pekerjaan umum di Pemerintah Kota Pekanbaru, menyebut jalan itu bukan tanggungjawab mereka. Provinsikah? Ternyata juga bukan. Provinsi bilang, karena itu jalan negara maka yang mengurusnya adalah pemerintah pusat.

Tidak diberitakan media bagaimana tanggapan kementerian terkait di pusat. Tapi berdasarkan common sense, pusat pasti mengatakan, anggaran cukup tersedia di pusat, sekarang mana usulan dari daerah? Provinsi pun akan bertanya ke Kota Pekanbaru, mana usulan dari Pemerintah Kota? Demikian banyaknya daerah kabupaten/kota di seluruh Indonesia, pusat tak akan hafal satu per satu. Usulan harus muncul dari bawah. Bukankah selama ini kita menjunjung tinggi prinsip bottom-up planning?

Dengan pendekatan bottom-up planning, sesungguhnya daerah-daerah yang dipimpin oleh kepala daerah dengan latar belakang pengalaman di bidang teknik, setidak-tidaknya akan lebih diuntungkan daripada perencanaan dengan pendekatan konvensional belaka. Pekanbaru yang sedang menuju menjai sebuah kota metopolitan, seharusnya memanfaatkan keunggulan komparatif ini. Kalau tidak ada perencanaan teknik yang lebih baik dan komprehensif, maka bersiap-siap saja mencantumkan anggaran dalam APBD untuk pawang hujan, supaya jalan-jalan di kota tak berkuah dan tak jadi kubangan.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 386 kali
sejak tanggal 18-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat