drh. Chaidir, MM | Paradigma Lama | KONON DPRD Riau akan membangun gedung tinggi 12 lantai. Biaya perencanaan teknik sudah tercantum dalam RAPBD Riau 2014. Bila jadi kenyataan, gedung ini tentu akan sangat megah. Sebagai sebuah kota metropolitan, hal itu wajar dan tentu menambah gengsi ibukota provinsi. Semakin hebat pembangunan fisik
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Paradigma Lama

Oleh : drh.chaidir, MM

KONON DPRD Riau akan membangun gedung tinggi 12 lantai. Biaya perencanaan teknik sudah tercantum dalam RAPBD Riau 2014. Bila jadi kenyataan, gedung ini tentu akan sangat megah. Sebagai sebuah kota metropolitan, hal itu wajar dan tentu menambah gengsi ibukota provinsi. Semakin hebat pembangunan fisik oleh pemerintah maupun swasta, semakin naik pula nilai asset masyarakat kota umumnya, langsung atau tidak langsung.

Masalahnya, sebagaimana diulas panjang lebar dalam Liputan Khusus Riau Pos kemaren pagi (15/12), kehendak tersebut rupanya belum jadi keinginan bersama. Masih ada pro-kontra. Tapi alasan yang lebih prinsip, sebagaimana disebut beberapa anggota DPRD dan sementara kalangan, pembangunan gedung baru tersebut pada saat ini belum mendesak.

Memang, fasilitas pekantoran yang nyaman berpengauh pada kinerja. Dengan kata lain, bila ruang kerja nyaman maka fungsi DPRD akan berjalan dengan baik. Sayangnya tidak berbanding lurus demikian. Tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga politik dan pemerintahan kita saat ini berada pada titik nadir, sehingga yang amat sangat mendesak bagi DPRD sesungguhnya adalah mengembalikan kepercayaan publik. Dan itu baru akan terwujud bila anggota DPRD bisa bekerja secara sangat luar biasa (extra-ordinary) belandaskan fiduciary (kejujuran yang tinggi sebagaimana disebut dalam advertorial DPRD Riau dalam sebuah media beberapa waktu lalu). Dan rakyat merasa dilindungi oleh DPRD dari praktik ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Dalam kasus Riau misalnya, selama empat tahun terakhir ini, hampir tak ada lagi anggaran untuk program pengentasan kemiskinan, pemberantasan kebodohan dan pembangunan infrastruktur (program K2i) terutama di APBD Provinsi. Penyebabnya, daerah harus menyukseskan PON XVIII Riau 2012. Bantuan pusat dan pihak sponsor tak sesuai harapan. Pusat bahkan terkesan membiarkan Riau 'hanyut' sendiri. APBD banyak tersedot untuk pembangunan arena. Kerugian nyata, pembangunan prasarana jalan di berbagai pelosok yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat, terabaikan.

PON Riau 2012 membuat masyarakat bingung membedakan mana yang urgent dan mana yang penting. Ada trauma. Pembangunan gedung yang megah misalnya, bukan tidak perlu. Tapi untuk apa? Apalagi dalam perspektif manajemen modern, paradigma manajemen sesungguhnya sudah bergeser dari semula berbasis gedung ke berbasis IT. Pembangunan IT di DPRD akan jauh lebih menghemat tenaga, pikiran, waktu dan juga anggaran, serta adanya jaminan akuntabilitas. Gedung baru yang megah hanya akan membuat rakyat merasa asing. Bukankah akan lebih baik seorang anggota DPRD buka ipad di kedai kopi, dengarkan rakyat bicara, sedetik kemudian aspirasi dikirim ke sekretariat dewan untuk diproses. Maka fungsi anggota dewan bisa jalan, rakyat pun puas.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 425 kali
sejak tanggal 15-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat