drh. Chaidir, MM | Politik Sungai Siak | MENGEJUTKAN. Itulah kesan umum di luar daerah atas kemenangan yang diperoleh Annas Maamun bersama pasangannya Andi Rahman dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau 2013 yang baru saja usai.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Sungai Siak

Oleh : drh.chaidir, MM

MENGEJUTKAN. Itulah kesan umum di luar daerah atas kemenangan yang diperoleh Annas Maamun bersama pasangannya Andi Rahman dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau 2013 yang baru saja usai.

"Saya tidak sangka Pak Annas menang," ujar Dr Syahrul Yasin Limpo spontan, ketika saya bercerita tentang pilgubri 2013, Sabtu tiga hari lalu. Syahrul Yasin Limpo adalah Gubernur Sulawesi Selatan, juga Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan, kolega Annas Maamun. Agaknya Syahrul Yasin Limpo tidak sendiri, banyak yang memprediksi Annas Maamun akan kalah. Dan itu diperkuat oleh hasil survey lembaga independen dan beberapa jajak pendapat yang dirilis cukup gamblang oleh media cetak lokal, pasangan Annas Maamun-Andi Rahman tidak diunggulkan.

Pandangan publik tersebut beralasan. Annas Maamun (73 tahun) dianggap terlalu tua untuk jabatan gubernur. Annas juga hanya lulusan Sekolah Guru Atas. Perawakan pun kecil tak meyakinkan. Kecuali di Rokan Hilir, dimana dia menjabat sebagai Bupati, dan di daerah pesisir, Annas belum begitu populer. Dia baru sosialisasi setahun sebelum pemilihan gubernur, setelah memegang tampuk pimpinan Partai Golkar Riau, sementara para kompetitornya sudah gencar melakukan sosialisasi. Annas juga dianggap memiliki kelemahan dalam dialek bicaranya yang sangat kental berirama Melayu Bagan Siapi-api. Annas dipandang sebelah mata.

Kenyataannya Annas Maamun berhasil menjungkirbalikkan perkiraaan umum. Dia menyingkirkan empat pasang kandidat lainnya yang tampil lebih mentereng, baik dalam penampilan apalagi dalam agenda-agenda sosialisasi yang dikemas meriah.

Apa jampi-jampi Annas? Entahlah. Dalam wawancara eksklusif yang dikemas sebagai advertorial di Riau Pos 30/10/2013, Annas menyebut politik itu adalah seni untuk mendapatkan kekuasaan. Biacara soal seni, maka tidak lepas dari etika, estetika, nilai moral bahkan agama. Pertarungan politik adalah adu strategi dan adu kecerdasan.

Anggapan bahwa politik itu adalah seni mengatur dan mengurus negara memang sudah diakui sejak lama, bahkan semenjak zaman Yunani dan Romawi Kuno, ketika politik disebut "art politica" (seni bepolitik). Politik, seperti disebut dalam teori klasik Aristoteles adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Secara filosofis politik hakikatnya tidak banyak berubah, namun saat ini, politik tidak hanya disebut art politica tetapi juga "art possible", seni kemungkinan. Maksudnya, politik memungkinkan yang tidak mungkin menjadi mungkin atau sebaliknya. Agaknya seni yang disebut terakhir itulah yang diracik secara apik oleh Annas Maamun. Annas bahkan berpolitik seperti Sungai Siak, tampak tenang di pemukaan tetapi di bawah permukaan arusnya berpusu-pusu deras tak terduga. Siapa yang tidak wapada apalagi meremehkan, bersiap-siaplah menanggung risiko.

Namun sesungguhnya, terpilihnya Annas Maamun-Andi Rahman disebabkan karena bertemunya ruas dengan buku. Riau memerlukan pemimpin yang berani melakukan teobosan dan berani tidak populer. Masyarakat Riau sudah letih dengan politik pencitraan dan terperangkap dalam banyak masalah, oleh karenanya perlu dikelola secara extra-ordinary.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 424 kali
sejak tanggal 09-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat