drh. Chaidir, MM | Kibar Guru Aljabar | RIAU telah menjatuhkan pilihan. Bukan pada seorang abang, bukan pula pada seorang ayah, tapi pilihannya jatuh pada seorang datuk. Sepertinya, figur abang tak dirasa cukup memberikan perlindungan, figur ayah tak pula dirasa menyelesaikan masalah. Justru figur seorang datuk kelihatannya yang lebih mem
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kibar Guru Aljabar

Oleh : drh.chaidir, MM

RIAU telah menjatuhkan pilihan. Bukan pada seorang abang, bukan pula pada seorang ayah, tapi pilihannya jatuh pada seorang datuk. Sepertinya, figur abang tak dirasa cukup memberikan perlindungan, figur ayah tak pula dirasa menyelesaikan masalah. Justru figur seorang datuk kelihatannya yang lebih memberi rasa nyaman dan aman. Sang cucu merasa dimanjakan, sang datuk memanjakan dengan ikhlas.

Tak ada yang perlu dirisaukan dengan terpilihnya seorang tokoh tua dalam pemilihan Gubernur Riau 2013 beberapa hari lalu. Biasa saja. Kalah menang itu biasa. Bukankah semua calon sudah menandatangani pakta siap kalah siap menang? Pemilih sudah menggunakan hak pilihnya secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Pemilih kita sudah semakin cerdas.

Pemilihan Gubernur Riau 2013 mencatat banyak menarik. Pertama, berlangsung dalam dua putaran setelah lima pasang calon yang bertanding tak mampu melewati batas ambang 30 persen. Kedua, calon-calon muda yang tampak menggebu-gebu, tak mampu menundukkan calon tua. Seperti diketahui, cagub yang unggul dalam putaran pertama dan kedua, Annas Maamun, usianya sudah berkepala tujuh, tepatnya berusia 73 tahun. Banyak pengamat menyebut, hasil pilgubri 2013 merupakan sebuah anti tesis. Lazimnya, tongkat estafet kepemimpinan itu diserahkan oleh yang tua kepada yang muda, sebagai simbol kaderisasi, tapi di Riau terbalik.

Ketiga, Annas Maamun hanya tamatan SGB (Sekolah Guru Bantu), SGA (Sekolah Guru Atas) dan PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama). Annas Maamun adalah mantan guru mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur di SMP. Kurangkah sarjana-sarjana S1, S2 atau S3 di Riau, negeri "sahibul kitab"? Atau, kurangkah sarjana-sarjana ilmu pemerintahan? Tentu tidak.

Sekali lagi bukan karena alasan itu, pemilih di Riau menganggap Annas Maamun adalah sebuah solusi terhadap permasalahan yang dihadapi Riau dewasa ini. Pemilih menganggap, semangat muda yang menggebu-gebu saja tak cukup, Riau memerlukan seorang pemimpin yang matang dalam pengalaman. Birokrat yang patuh dan normatif saja tak memadai, Riau perlu birokrat berani dan mampu melakukan terobosan. Sebab selama ini, apa yang kurang pada Riau? Anggaran besar, orang-orang pintar bersekolah tinggi juga banyak, demikian pula pejabat-pejabat daerah yang mudah dan enerjik. Tetapi pembangunan masyarakat juga tetap tertinggal. Harapan tinggal harapan. Tesis yang menyebut tidak ada relevansinya antara anggaran yang besar dan sumber daya alam yang berlimbah dengan tingkat kesejahteraan masyarakat setempat, menemukan pembuktiannya di Riau. Singkat kata, negeri ini salah urus.

Dengan demikian Annas Maamun adalah solusi terhadap keadaan tak menentu yang dihadapi Riau. Dalam pendekatan contingency leadership, saat ini diperlukan gaya kepemimpinan yang berani tegas, berani merangkul semua pihak, berani melakukan terobosan, berani pendekatan ke pusat, berani memberi jawaban tak biasa dan orisinil. Karakter itu ada pada Annas Maamun. Sebagai seorang guru Aljabar dan Ilmu Ukur, dan selalu mendapat ponten 10 ketika menjadi siswa SGB dan SGA untuk mata pelajaran tersebut, Annas sudah terbiasa memecahkan soal-soal sulit dengan jawaban pasti. Syabas Annas!!

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 423 kali
sejak tanggal 02-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat