drh. Chaidir, MM | Pantang Tak Hebat | PRESIDEN AS Barack H. Obama kelihatannya akur-akur saja dengan Wapres Joe Biden. Presiden sebelumnya, George W. Bush juga harmonis dengan Wapres Dick Cheney. Wapres Lyndon B. Johnson pendamping Presiden AS John F. Kennedy pada 1960, kendati sulit diatur oleh sang presiden yang memiliki karisma besar
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pantang Tak Hebat

Oleh : drh.chaidir, MM

PRESIDEN AS Barack H. Obama kelihatannya akur-akur saja dengan Wapres Joe Biden. Presiden sebelumnya, George W. Bush juga harmonis dengan Wapres Dick Cheney. Wapres Lyndon B. Johnson pendamping Presiden AS John F. Kennedy pada 1960, kendati sulit diatur oleh sang presiden yang memiliki karisma besar itu, tetap menunjukkan loyalitas tinggi kepada sang presiden.

Kenapa? Sekurang-kurangnya disebabkan dua hal. Pertama, karena mereka berasal dari satu partai dan memiliki ideologi perjuangan yang sama. Kedua, karena mereka sudah dewasa berpolitik dan matang dalam berkasih sayang dengan kekuasaan.

Di negeri kita? Sejauh ini, baru Presiden Soeharto yang punya kisah mulus dengan enam wapresnya (Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Oemar Wirahadi Kusuma, Soedharmono, Try Sutrisno dan B J Habibie). Kerjasama normatif terlihat ketika Presiden Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan Wapres Hamzah Haz. Selebihnya pecah kongsi. Lihatlah pasangan Presiden Bung Karno dan Wapres Bung Hatta, Presiden Abdurrahman Wahid dan Wapres Megawati Soekarnoputri (yang kemudian naik kelas menggantikan Abdurrahman Wahid melalui Sidang Istimewa MPR), serta pasangan Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla. Pasangan-pasangan ini, mesra pada awalnya tetapi kemudian tidak happy ending. Bagaimana dengan pasangan Pres SBY dan Wapres Boediono? Wait and see.

Dalam tataran lokal, cukup banyak contoh, ketika gubernur dan wakilnya, bupati dan wakil, walikota dan wakil, pada mulanya mereka seiring sejalan, tetapi pada akhirnya juga tak lagi sependayungan, walaupun satu perahu. Sang kepala daerah mendayung ke kanan, sang wakil mendayung ke kiri.
Sang wakil selalu tidak sabaran menunggu giliran sehingga sering menimbulkan persaingan terselubung, berebut pesona dengan atasannya. Sang wakil tidak rela jadi ban serap. Akibatnya terkesan sang wakil tidak setia.

Wakil rakyat pun, kendati fungsinya berbeda dengan wakil di eksekutif, adakalanya juga tidak setia kepada rakyat yang diwakilinya. Lihatlah contoh Komisi III DPR RI dalam rapat kerja bersama Kapolri beberapa hari lalu. Rakyat tidak minta yang aneh-aneh dari sang wakil, rakyat hanya minta kebenaran ditegakkan. Secara elementer, bila akan mengambil suatu sikap atau keputusan, tentulah terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahannya secara cermat, membuat analisis, membuat alternatif, barulah kemudian memilih alternatif terbaik (yang paling mendekati kebenaran). Apa lagi bila lembaganya terhormat dan permasalahannya sensitif.

Kini, daftar wakil bertambah, ada pula Wakil Menteri. Dari awal mereka sudah diwanti-wanti supaya loyal kepada Menteri, mereka adalah bawahan Menteri. Tapi dalam implementasinya, ketika masalah yang dihadapi kelak semakin kompleks, adakalanya muncul ego, apalagi kemudian ada pula cacat tersembunyi "pantang tak hebat".

John A. Barnes (2007) menulis ilustrasi menarik dalam bukunya John F. Kennedy on Leadersip. Ketika sedang menyusun kabinet, John F. Kennedy disarankan untuk memilih Adlai Stevenson sebagai Menlu. Kennedy menjawab: "Tidak, Adlai bisa lupa, siapa yang menjadi Presiden dan siapa yang menjadi Menteri Luar Negeri." Alamaaak. Maka, hati-hatilah Wakil Menteri, jangan lupa nama Menteri.

kolom - Riau Pos 16 November 2009
Tulisan ini sudah di baca 160 kali
sejak tanggal 16-11-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat