drh. Chaidir, MM | Putaran Dua | PANGGUNG politik Riau sepanjang 2013, memiliki daya pukau luar biasa. Namun sesungguhnya, ibarat sebuah taman, indah dipandang, tetapi penuh onak dan duri. Episentrum pusaran politik tersebut apalagi kalau bukan pemilihan Gubernur Riau 2013. Cerita tentang pilgubri ini selalu terdengar seksi.  Apata
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Putaran Dua

Oleh : drh.chaidir, MM

PANGGUNG politik Riau sepanjang 2013, memiliki daya pukau luar biasa. Namun sesungguhnya, ibarat sebuah taman, indah dipandang, tetapi penuh onak dan duri. Episentrum pusaran politik tersebut apalagi kalau bukan pemilihan Gubernur Riau 2013. Cerita tentang pilgubri ini selalu terdengar seksi. Apatah lagi Pilgubri 2013 berlangsung dua putaran. Besarnya anggaran penyelenggaraan tak lagi menarik untuk diperdebatkan, semua kelihatannya mafhum, itu harga yang pantas bagi sebuah kehidupan demokrasi.

Babak demi babak mempertontonkan adegan menarik. Yang paling dramatis, tentulah ketika Ketua DPD Partai Demokrat Riau, HR Mambang Mit, yang nota bene adalah Wakil Gubernur Riau, gagal mendapatkan perahu partainya sendiri. DPP Partai Demokrat ternyata memberikannya kepada Drs Achmad, Ketua DPC Partai Demokrat. Dalam perspektif pemerintahan dan hirarki partai, Drs Achmad jelas menjadi bawahan dari HR Mambang Mit. Drs Achmad yang berbulan-bulan menunjukkan persentase tertinggi menurut pembaca Riau Pos, dan terlihat berada di atas angin, ternyata kemudian dikalahkan oleh Annas Makmun dan Herman Abdullah. Kini, Achmad dan Mambang Mit tentu menyadari, setuju atau tidak, politik itu kejam.

Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Ir Lukman Edi yang berpasangan dengan Suryadi Khusaini (sempat mengusung Jokowi sebagai Jurkam), juga tidak berhasil memikat hati pemilih. Menariknya, sampai saat-saat terakhir menjelang penentuan pasangan calon, Lukman Edi masih berebut perahu dengan abang kandungnya sendiri, Indra Muchlis Adnan. Dua bersaudara ini tentu menyadari, setuju atau tidak, politik itu kejam.

Sesungguhnya, politik disebut kejam, bila politik itu tumbuh tanpa etika. Bila agenda politik seperti pilgub sarat dengan fitnah dan kecurangan, maka pilgub akan menampilkan wajah yang menakutkan. Pemerintah yang dihasilkan dari pemilukada seperti itu, tidak akan mampu memenuhi ekspektasi masyarakat. Bila itu terus menerus terjadi, maka cukup alasan untuk menyebut pemilukada langsung tak efektif untuk menghasilkan pemimpin yang berguna bagi masyarakat di daerah.

Demokrasi secara substansial memerlukan keterbukaan, kebebasan, kejujuran dan ketaatan kepada hukum. Persis seperti apa yang disebut pakar politik Samuel P. Huntington, "Pemilu, keterbukaan, bebas dan jujur, merupakan inti dari demokrasi yang masing-masing saling terkait tak terpisahkan.

Dalam putaran dua pilgubri 2013, tanggal 27 November esok lusa, pasangan calon yang bertanding tinggal dua. Pasangan pemenang dan pecundang akan segera diketahui. Tapi itu konsekuensi dari sebuah pemilihan. Semua pihak diharapkan menahan diri. Menang-kalah hanya dipisahkan oleh sebuah selaput tipis antara berkah dan musibah. Ayo nyoblos, jangan golput.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 431 kali
sejak tanggal 25-11-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat