drh. Chaidir, MM | Upah-upah | UPAH-UPAH bukan upah. Upah-upah dan upah beda artinya sama sekali.  Upah-upah adalah sebuah tradisi dalam masyarakat yang bermukim di sepanjang Batang Rokan, dan juga sebagian masyarakat di Tapanuli Selatan, berupa sebuah prosesi adat yang biasanya dilaksanakan bila ada seseorang dari kalangan merek
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Upah-upah

Oleh : drh.chaidir, MM

UPAH-UPAH bukan upah. Upah-upah dan upah beda artinya sama sekali. Upah-upah adalah sebuah tradisi dalam masyarakat yang bermukim di sepanjang Batang Rokan, dan juga sebagian masyarakat di Tapanuli Selatan, berupa sebuah prosesi adat yang biasanya dilaksanakan bila ada seseorang dari kalangan mereka mendapat musibah yang sangat mengejutkan. Musibah bisa berupa kecelakaan, perkelahian berdarah, sakit parah dan sebagainya.

Musibah tersebut biasanya musibah yang nyaris merenggut nyawa, sehingga menimbulkan trauma bagi yang bersangkutan dan keluarganya. Karena nyaris fatal, biasanya semangat seseorang terasa sudah terbang meninggalkan raga, demikian juga bagi keluarga yang menyaksikannya, semangatnya ikut pergi. Upah-upah dimaksudkan untuk menjemput kembali semangat yang telah pergi agar kembali ke pemilik badan sehingga yang bersangkutan kembali memiliki semangat hidup. Dalam acara upah-upah biasanya dilantunkan kata-kata pemberi semangat, nasihat, dan diiringi dengan pembacaan doa agar musibah tersebut tak terulang lagi. Maka upah-upah sesungguhnya merupakan ungkapan kasih sayang seseorang kepada orang yang diupah-upah.

Upah-upah tidak akan menjadi tradisi dalam masyarakat secara turun temurun sejak zaman nenek moyang, bila tidak memiliki dampak sugestif dalam masyarakat. Tradisi merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun-temurun. Prosesi yang menjadi kebiasaan itu disadari merupakan suatu nilai yang dianggap baik dan benar. Masyarakat tersugesti, bila musibah yang sama terulang kembali dan menyebabkan sesuatu yang fatal pada yang bersangkutan, itu dianggap karena mengabaikan adat upah-upah. Setuju atau tak seuju, pemikiran seperti itu masih berkembang subur dalam masyarakat tradisional di sepanjang luhak Batang Rokan.

Dalam satu atau dua tahun terakhir ini, Provinsi Riau, dimana tradisi upah-upah itu dikenal, banyak dirundung musibah. Masalah demi masalah seakan tak pernah lekang. Korupsi, arogansi, manipulasi, mesumisasi, tak ada habis-habisnya. Redam yang satu muncul yang baru. Kepala daerah sebagai pemangku adat tertinggi untuk mengemban amanah satu persatu terpaksa berurusan dengan bui. Kehalusan tutur kata berganti angkara murka. Sesama pejabat negeri saling tipu dan mempermalukan (padahal ini betul yang dipantangkan oleh tetua kita). Diberi tongkat, tongkat pula membawa rubuh. Kening mulus dicoreng sendiri dengan arang. Luka demi luka terkuak berdarah-darah. Mungkin itu agak berlebihan, tapi kalau kita mau membuat daftar nestapa yang sudah telanjang di media massa itu, daftarnya akan panjang. Dan tragedi demi tragedi itu membuat semangat ke-riau-an kita terbang.

Berangkat dari konsep bahwa upah-upah merupakan ungkapan kasih sayang melalui lantunan kata-kata penyemangat dan doa, barangkali konsep prosesi upah-upah sudah saatnya sekarang dilakukan untuk Riau. Riau belum pernah diupah-upah. Siapa tahu dengan diupah-upah semangat Riau itu bisa kita jemput kembali. Modalnya tak banyak, hanya ayam panggang dan pulut kuning. Sodaaap...

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 467 kali
sejak tanggal 18-11-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat