drh. Chaidir, MM | Belum Merdeka | RASA sakit telapak kaki yang kurasakan berjalan tanpa alas kaki di jalan yang berlumpur parah di malam gelap gulita di tengah hutan di pedalaman kaki bukit barisan, nun di sana, ternyata tak seberapa dibanding nestapa setiap hari yang dialami penduduk setempat.  

Dusun Batas yang masuk dalam wila
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Belum Merdeka

Oleh : drh.chaidir, MM

RASA sakit telapak kaki yang kurasakan berjalan tanpa alas kaki di jalan yang berlumpur parah di malam gelap gulita di tengah hutan di pedalaman kaki bukit barisan, nun di sana, ternyata tak seberapa dibanding nestapa setiap hari yang dialami penduduk setempat.

Dusun Batas yang masuk dalam wilayah Provinsi Riau dan terletak di perbatasan Riau-Sumbar, sebenarnya hanya sekitar 45 menit perjalanan darat dari Rao, Sumbar ke arah timur. Tapi begitu menjejakkan kaki di Dusun Batas dan beranjak meninggalkannya menusuk lebih dalam ke wilayah Riau, kita seakan memasuki mesin waktu film kartun Dora Emon, masuk ke zona masa silam.

Ruas jalan Dusun Batas-Dusun Kesik Putih-Dusun Kubangbuaya-Tibauan (wilayah Kecamatan Rokan IV Koto, Rokan Hulu) yang kami lalui, sebenarnya hanya sekitar 16 km. Tapi setelah badan jalan dibuka pada tahun 2003 sampai sekarang, jalan tersebut rupanya tidak lagi pernah diperbaiki, dan kondisinya sudah rusak parah. Pemandangan menjadi dramatis ketika memperbandingkanya dengan ruas jalan dari Rao menuju Dusun Batas meliuk-liuk mulus beraspal, lengkap dengan tiang dan kabel listrik.

Kenapa beda? Ini jelas bukan masalah kemampuan fiskal daerah, ini masalah persepsi. Penjelasan Wagub Rokan Hulu Hafith Syukri dalam sambutannya pada acara Santunan Anak Yatim di Rokan 5/11/2013 beberapa hari lalu seakan mempertegas persepsi tersebut. Ada kekhawatiran, bila ruas tersebut dibuka, maka hubungan Pasaman-Rokan akan menjadi lancar, akibatnya arus pendatang akan meningkat. Dan penduduk asli tak akan mampu bersaing dengan para pendatang. Penduduk setempat akan cenderung mencari jalan instan: menjual lahan! Lambat laun akan terjadi marjinalisasi penduduk asli.

Penjelasan tersebut tentu tidak salah semua, tetapi juga tidak benar seratus persen. Bila persepsi itu terus dipelihara, berarti pemerintah secara sengaja tetap mempertahankan wilayah tersebut tetap terisolir dan tetap membiarkan masyarakat terpuruk dalam keterbatasan dan keterisolasian. Bagaimana mungkin kita pilih menutup pintu membiarkan anak sendiri kelaparan di rumah sendiri, hanya karena sebuah kekhawatiran? Bukankah ruas jalan Pasir Pengaraian-Sibuhuan, Kabupaten Padang Lawas, Sumut, sudah terbuka sejak lama? Kenapa kekhawatiran terhadap sisi barat tak sama dengan kekhawatiran terhadap sisi utara?

Pendekatan seperti itu sudah tak lagi bisa dilakukan dalam era modern seperti sekarang. Tak boleh ada lagi masyarakat yang dikorbankan hanya karena persepsi yang jadul. Tidak boleh lagi ada ungkapan seperti yang diutarakan oleh H Suki, tokoh masyarakat yang disegani di Dusun Kesik Putih, " kami belum merdeka." Menurut Pak Haji ada tiga syarat untuk bisa disebut merdeka, yakni tersedianya jalan, listrik dan air bersih. Ketiga-tiganya kami belum menikmati. Rasanya H Suki taklah berlebihan. Sansai.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 406 kali
sejak tanggal 10-11-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat