drh. Chaidir, MM | Setali Tiga Uang | HAMDAN Zoelva terpilih sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menggantikan Akil Mochtar. Tak ada yang salah secara prosedur. Dari delapan Hakim MK (satu lowong, belum terisi), lima orang memilih Hamdan Zoelva. Aturan main membolehkan. Jadi, pemilihan dan hasilnya, sah bin sah. Tidak bi
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Setali Tiga Uang

Oleh : drh.chaidir, MM

HAMDAN Zoelva terpilih sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menggantikan Akil Mochtar. Tak ada yang salah secara prosedur. Dari delapan Hakim MK (satu lowong, belum terisi), lima orang memilih Hamdan Zoelva. Aturan main membolehkan. Jadi, pemilihan dan hasilnya, sah bin sah. Tidak bisa diganggu gugat.

Dari sudut rekam jejak, seperti yang dimuat di www.wikipedia.com rasanya tak ada yang sungsang dalam perjalanan karir Hamdan Zoelva. Baik-baik saja. Dia menjadi anggota DPR 1999-2004, dengan posisi Wakil Ketua Komisi II yang membidangi urusan Hukum, Pengadilan, Politik Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Hamdan Zoelva juga salah seorang anggota tim yang melakukan Fit & Proper test bagi pengangkatan Hakim Agung, Pimpinan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Anggota Komnas HAM, Hakim Agung, Hakim Konstitusi, serta Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Hamdan Zoelva juga tidak berada dekat bara api pembahasan RAPBN yang selalu dicurigai tidak steril dan dikait-kaitkan dengan praktik-praktik mafia anggaran.

Sebagai bagian dari tim yang melakukan fit & proper test terhadap calon anggota lembaga-lembaga super penting yang diharapkan oleh masyarakat seperti "lembaga malaikat" tersebut, Hamdan Zoelva tentu sangat paham dan teruji. Calon-calon Hakim Agung, Pimpinan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Anggota Komnas HAM, Hakim Agung, Hakim Konstitusi, serta Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung, yang diuji oleh Hamdan Zoelva tentulah bukan orang sembarangan. Calon-calon yang diuji tersebut tentulah figur-figur yang memiliki kompetensi dan integritas dengan level tertinggi.

So? Yang membuat galausisasi dan kontroversi hati (maaf pinjam frasa Vicky Prasetya) sementara kalangan adalah, MK saat ini berada dalam posisi tidak normal. MK dalam sorotan jutaan pasang mata yang awas. MK berada dalam posisi "sasaran tembak". MK sedang dilanda "gempa bumi" dahsyat. MK sedang dicurigai. Kepercayaan publik terhadap MK sedang berada pada titik nadir akibat terbongkarnya ulah Akil Mochtar. Itulah masalahnya.

Sementara itu, ekspektasi publik terhadap MK sesungguhnya sangat tinggi. Sebab, MK adalah simbol supremasi hukum dalam sebuah Negara yang sudah mengklaim diri sebagai Negara hukum. MK punya kewenangan strategis menjaga konstitusi bernegara, mengawal demokrasi dan menegakkan pilar negara hukum. Kalau lembaga itu tidak lagi mendapat kepercayaan dari masyarakat, dan dicibir oleh dunia, kita menghadapi masalah sangat serius dan sangat berbahaya. Karena itulah sampai Presiden RI terpaksa menggunakan senjata konstitusi, kondisi Negara sudah berada dalam "kegentingan yang memaksa", sehingga mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) Nomor 1 Tahun 2013 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi . Perppu merupakan bentuk ikhtiar untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap MK. MK harus menjadi lembaga yang terpercaya dan diisi oleh hakim-hakim yang terpercaya.

Hamdan Zoelva terpilih pada saat yang tidak tepat, ketika MK sedang dicurigai. Apalagi publik mengetahui, Hamdan Zoelva tidak hanya memiliki pengalaman sebagai advokat dan akademisi, tapi juga seorang politikus dan orang partai. Dan sayangnya, tingkat kepercayaan publik terhadap partai (tanpa kecuali) juga berada pada titik nadir.

Kita bersimpati terhadap Hamdan Zoelva yang harus berhadapan vis a vis dengan kondisi demikian. Dia beserta hakim MK yang lain harus membangun kembali kepercayaan public dari puing-puing yang berserakan itu. Atau mereka akan diberi stempel "setali tiga uang." Masam.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 390 kali
sejak tanggal 06-11-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat