drh. Chaidir, MM | Mainan Orang Pintar | KASUS korupsi semakin seksi. Satu demi satu terburai. Ada tersangka tak disangka-sangka. Ada tongkat penopang yang ternyata membawa roboh. Kasusnya membuat kita terkaget-kaget.  Anak, istri, adik-adik, ponakan, ipar, saling terkait ketika kasus demi kasus diidentifikasi. Ada yang buru-buru menyangka
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mainan Orang Pintar

Oleh : drh.chaidir, MM

KASUS korupsi semakin seksi. Satu demi satu terburai. Ada tersangka tak disangka-sangka. Ada tongkat penopang yang ternyata membawa roboh. Kasusnya membuat kita terkaget-kaget. Anak, istri, adik-adik, ponakan, ipar, saling terkait ketika kasus demi kasus diidentifikasi. Ada yang buru-buru menyangkal 1.000 % tak kenal-mengenal dengan tersangka atau temannya sang tersangka, tapi semakin dibantah semakin mengundang sak wasangka. Ada apa?

Hampir tak ada hari tanpa berita tentang korupsi. Kasus demi kasus dieksploitasi sedemikian rupa, satu demi satu dipertentangkan, dilaga seperti kambing; digali sampai ke akar-akarnya. Tapi karena masing-masing kubu sangat piawai dan terlatih bersilat lidah, kasus yang semula terang benderang berubah menjadi abu-abu. Semangat transparansi berubah menjadi mencari jastifikasi alias pembenaran. Suasananya mirip seperti pada masyarakat Syracuse di zaman Yunani kuno 400 tahun Sebelum Masehi. Ketika masyarakat Syracuse terbebas dari diktator yang mencaplok tanah mereka, pemerintah demokratis mengembalikan tanah tersebut kepada masyarakat melalui suatu dewan juri. Masyarakat yang pandai berdebat akan mendapatkan tanahnya, yang tak pandai berdebat akan kehilangan haknya.

Media juga berpesta pora dengan banyaknya isu hangat, basi yang satu datang menu hangat lainnya. Aktor-aktor yang tersangkut pun digadang-gadang. Masyarakat seakan dikondisikan tak ada masalah dengan korupsi sepanjang pelakunya orang yang budiman. Korupsi pun berubah menjadi musibah. Masyarakat didorong mengambil posisi seperti cosa nostra di Pulau Sisilia pada abad pertengahan ketika mafia sedang jaya-jayanya. Ahaiii….

Siapa sebenarnya pelaku korupsi? Kalau jawaban yang tersedia hanya ada dua ;pilihan: (a) orang pintar; (b) orang bodoh. Maka secara meyakinkan, jawaban yang benar adalah (a)! Orang pintarlah yang melakukan korupsi. Orang bodoh tak pandai melakukan korupsi. Bukankah Akil Mochtar, Rudi Rubiandini, Luthfi Hasan Ishaaq, Ahmad Fathonah, Andi Mallarangeng, Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan lain-lain, termasuk beberapa orang politisi Riau yang tersangkut kasus PON, adalah orang-orang yang bersekolah tinggi? Semua yang berurusan dengan KPK adalah orang-orang pintar.

Mengapa demikian? Orang yang bodoh tidak akan mengerti menghitung untung rugi sebuah proyek. Orang bodoh juga tidak akan paham melakukan mark-up (alias penggelembungan) nilai proyek. Orang bodoh juga tidak akan paham bagaimana memanipulasi dana eskalasi sebuah proyek kecuali diajari pimpro.

Kalau logikanya demikian, maka, tidak ada korupsi tanpa orang pintar. Bermakna, kalau kita tidak ingin ada korupsi, tidak boleh ada orang pintar. Dan kalaulah pintar itu identik dengan sekolah, berarti tidak perlu juga ada sekolah. Gawat. Benarkah demikian? Tentu tidak. Barangkali, hanya karena kebetulan banyak orang pintar yang tak punya integritas pegang posisi penting baik di pemerintahan maupun sebagai politisi. Kita tentu tidak ingin negeri ini dilumpuhkan oleh orang-orang pintar yang menjadikan orang bodoh sebagai mainan.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 442 kali
sejak tanggal 21-10-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat