drh. Chaidir, MM | Raksasa Asia | KEMENANGAN Timnas U-19 Indonesia atas Korea Selatan (Korsel) benar-benar memuaskan dahaga para pecinta sepakbola di Tanah Air. Bahkan beberapa teman yang saya tahu selama ini bukan penggemar sepakbola, ikut merasa bangga dan memberikan pujian. Kebanggaan ini kelihatannya lebih dari ketika timnas U-1
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Raksasa Asia

Oleh : drh.chaidir, MM

KEMENANGAN Timnas U-19 Indonesia atas Korea Selatan (Korsel) benar-benar memuaskan dahaga para pecinta sepakbola di Tanah Air. Bahkan beberapa teman yang saya tahu selama ini bukan penggemar sepakbola, ikut merasa bangga dan memberikan pujian. Kebanggaan ini kelihatannya lebih dari ketika timnas U-19 kita memenangkan Piala AFF U-19 beberapa minggu sebelumnya.

Siapa bilang sepabola hanya salah satu cabang olahraga di bawah KONI? Kita sudah rasakan betapa hambarnya predikat Juara Umum SEA Games tanpa medali emas sepakbola. Sepakbola itu olahraga rakyat, olahraga semua. Sepakbola itu "bahasa" universal. Bahasa Amerika Latin, Eropa, Asia dan Afrika, semua seakan menjadi satu bahasa dala sepakbola. Andik Vermansyah tak perlu bisa bahasa Jepang untuk bermain bersama klub liga professional Jepang. Begitulah sepakbola.

Kemenangan Timnas U-19 Indonesia atas Korea Selatan (Korsel) Sabtu malam (12/10/2013), walaupun baru penyisihan Grup G Piala Asia U-19, tetapi terasa sangat membanggakan. Pelatih Indra Sjafri pantas diacungi dua jempol. Sang pelatih menyebut, prestasi ini sebagai tonggak kebangkitan sepak bola Indonesia. "Mulai saat ini bangsa ini harus berpikir bahwa raksasa Asia adalah Indonesia," tegasnya. Mungkin agak berlebihan. Tetapi Indra tahu persis kekuatan anak asuhnya. Dia telah melatih tim ini mulai dari babak penyisihan Piala AFF U-19, melewati babak semifinal dan akhirnya menang di partai final melawan Vietnam. Kemudian di babak penyisihan Grup G Piala Asia U-19 ini, timnas kita berhasil mempertahankan clean sheet, menyikat Laos 4-0 dan Filipina 2-0. Benar kata Indra, Timnas U-19 Indonesia, tidak hanya meraih kemenangan, tetapi secara permainan juga mampu mendikte timnas Korea Selatan.

Kemenangan atas Korea Selatan menjadi fenomenal karena sejak tahun 1960-an, Korea Selatan telah muncul sebagai kekuatan sepak bola di Asia, menjuarai beberapa kejuaraan sepak bola Asia yang prestisius. Timnas Korea Selatan telah beberapa kali ikut dalam Piala Dunia FIFA sehingga menjadikan para pemainnya raja-raja sepak bola Asia. Liga profesional Korea, K-League misalnya, yang dimulai pada tahun 1983, tercatat sebagai liga profesional pertama di Asia. Hal ini telah meningkatkan level sepakbola Korea.

Piala Dunia 2002 menjadi tonggak sejarah sepakbola Korea Selatan, ketika Negeri Ginseng itu bersama Jepang terpilih sebagai tuan rumah bersama. Dipimpin pelatih asal Belanda, Guus Hiddink, timnas Korea Selatan mengejutkan dunia dengan mengalahkan timnas sepak bola Italia yang terkenal kuat, dan kemudian melaju hingga ke semifinal untuk pertama kalinya bagi sebuah tim dari Asia. Timnas U-23 Korsel juga sukses merebut perunggu di Olimpiade 2012. Timnas U-19 adalah juara bertahan di gelaran Piala AFC U-19 sekaligus peraih gelar terbanyak sebanyak 12 kali.

Timnas Indonesia bukan tidak pernah mengalahkan Korsel. Dalam Piala Merdeka di Kuala Lumpur 16 Agustus 1968 Indonesia menang 4-2 vs Korea Selatan. Dalam Merdeka Games tahun berikutnya (Oktober 1969) di Kuala Lumpur, timnas Indonesia menang telak 3-0 vs Korsel melalui gol-gol Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, dan Jacob Sihasale. Pada 20 Juni 1972, di Jakarta Indonesia vs Korea Selatan 5-2. Pada turnamen Anniversary Cup di Jakarta tanggal 18 Juni 1975, Indonesia vs Korea Selatan 3-2. Pada 1975 ini Timnas Indonesia diasuh pelatih Belanda Wiel Coerver. Pertandingan ini dipuji oleh pengamat bola internasional sebagai pertandingan yang bermutu tinggi. Namun perlu dicatat, beberapa kemenangan tersebut diperoleh ketika timnas Indonesia diperkuat oleh bintang sepakbola Asia Soetjipto Suntoro, yang ketika era 1960-an dipuji oleh Presiden Soekarno.

Akankah era Timnas U-19 2013 ini menjadi awal kebangkitan era emas sepakbola Indonesia? Pasca Piala Dunia Brazil 2014, remaja-remaja kita itu berada pada usia 22-23 tahun, usia yang sangat ideal untuk bertempur sampai tetesan darah penghabisan di lapangan hijau, tak peduli lawan tim manapun, dan kita akan bertanding pada Piala Dunia 2018. Jebreeet!!

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 490 kali
sejak tanggal 14-10-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat