drh. Chaidir, MM | Membangunkan Harimau | DI TENGAH gebrakan KPK yang tak mengenal rasa takut menangkapi petinggi-petinggi negeri atas tuduhan dugaan melakukan tindak pidana korupsi, mencuat pula berita tak sedap tentang adanya upaya sistematis pelemahan KPK.

Upaya pelemahan itu misalnya terlihat dalam materi Rancangan Undang-Undang Kita
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membangunkan Harimau

Oleh : drh.chaidir, MM

DI TENGAH gebrakan KPK yang tak mengenal rasa takut menangkapi petinggi-petinggi negeri atas tuduhan dugaan melakukan tindak pidana korupsi, mencuat pula berita tak sedap tentang adanya upaya sistematis pelemahan KPK.

Upaya pelemahan itu misalnya terlihat dalam materi Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang berpotensi melemahkan kewenangan KPK. Banyak pihak yang menyebut RUU tersebut jauh dari semangat pemberantasan korupsi. "Jika disahkan DPR tanpa diperbaiki, berarti DPR betul-betul ingin memereteli kewenangan KPK," ujar Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho, di Jakarta, sebagaimana dikutip berbagai media (1/10/2013). Wakil Ketua KPK Bambang Wijoyanto juga kelihatannya sangat kesal, "DPR bekerja untuk siapa?" ujarnya galau.

Salah satu substansi yang dianggap menjadi pelemahan KPK adalah tentang kewenangan KPK melakukan penyadapan. Disebutkan, penyadapan pembicaraan harus dapat izin hakim pemeriksa pendahuluan. Kalau klausul ini disetujui DPR, maka KPK akan kesulitan mengikuti jejak para koruptor. Kemampuan KPK akan mengalami kemunduran. Sebagaimana diberitakan media massa, penangkapan Rubi Rudianto, Kepala SKK Migas, dan Akil Mochtar Ketua MK, yang sangat mengejutkan, bermula dari penyadapan pembicaraan kedua petinggi tersebut dengan pihak lain.

Jujur, rasanya, melihat kinerja KPK akhir-akhir ini dengan keberaniannya menegakkan eksistensi sebagai sebuah lembaga Negara yang memiliki kewenangan luas, independen, professional, intensif, serta bebas dari intervensi kekuasaan mana pun, ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap KPK. Gebrakan demi gebrakan yang dilakukan tanpa sungkan-sungkan, menumbuhkan apresiasi yang cukup baik dari masyarakat. KPK telah tumbuh menjadi sebuah lembaga superbodi yang mendapatkan kredibilitas dari masyarakat. Tidak sedikit yang bahkan jatuh cinta dan menyebut KPK saat ini telah menjadi kekasih rakyat (people darling).

Memang, dengan nada yang sangat prihatin kita agaknya harus mengakui, semakin berani dan tegas KPK mengambil tindakan, semakin berani dan canggih pula modus yang dilakukan para koruptor. Tidak jera-jera. Meningkatnya kasus tindak pidana korupsi ini disebut dalam penjelasan UU No 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa perkembangan tindak pidana korupsi terus meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah kerugian keuangan Negara terus meningkat, dan tindak pidananya pun semakin sistematis.

Padahal semua stakeholder bangsa yang memiliki kesadaran, tentu memahami, korupsi yang tak terkendali akan membawa bencana tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Korupsi yang meluas dan sistematis juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak social dan hak-hak ekonomi masyarakat. Dengan daya rusaknya yang sangat besar, maka korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi suatu kejahatan luar biasa. Oleh karena itu ikhtiar pemberantasannya pun dituntut dengan cara-cara yang juga luar biasa.

Dengan demikian upaya pelemahan KPK sangatlah berbahaya. Korupsi nyata menjadi ancaman terhadap prinsip-prinsip demokrasi dan tatakelola pemerintahan yang baik yang menjunjung tinggi tranparansi, akuntabilitas dan integritas. Siapa gerangan yang happy bila KPK tidak memiliki taring? Yakinlah, rakyat tidak akan tinggal diam. Mahasiswa tidak akan tinggal diam. Pelemahan KPK akan membangunkan harimau tidur.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 394 kali
sejak tanggal 08-10-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat