drh. Chaidir, MM | 
Pagar Makan Tanaman | BERITA itu ibarat petir menyambar di siang bolong: Akil Muchtar ditangkap KPK. Masalahnya, Akil Muchtar bukanlah seorang pejabat tinggi biasa. Dia adalah Ketua Mahkamah Konstitusi, sebuah lembaga tinggi Negara yang dalam sistem ketatanegaraan kita memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan sangat ter
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pagar Makan Tanaman

Oleh : drh.chaidir, MM

BERITA itu ibarat petir menyambar di siang bolong: Akil Muchtar ditangkap KPK. Masalahnya, Akil Muchtar bukanlah seorang pejabat tinggi biasa. Dia adalah Ketua Mahkamah Konstitusi, sebuah lembaga tinggi Negara yang dalam sistem ketatanegaraan kita memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan sangat terhormat. Posisinya lebih tinggi dari seorang menteri kabinet.

Itulah yang membuat kita galau segalau-galaunya. Mahkamah Konstitusi adalah sebuah lembaga tempat rakyat mengadu mencari keadilan atas praktik penyelenggaraan kekuasaan Negara yang diperintahkan konstitusi, tapi merugikan rakyat. Ke MK-lah bangsa Indonesia mengadu bila DPR menyetujui sebuah Undang-undang yang bertentangan dengan UUD 1945. Lembaga inilah yang memutus bila ada lembaga lain yang bertengkar tentang kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945. Ingat kasus "Cicak vs Buaya" yang berpotensi mencabik rasa keadilan masyarakat? MK-lah yang membela rakyat. MK jugalah yang memiliki kewenangan membubarkan partai politik bila ada partai politik yang melanggar Undang-undang. MK juga memutus sengketa hasil pemilu/pemilukada.

UUD 1945 menjamin bahwa MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir semua perkara yang menjadi kewenangannya. Keputusannya final dan mengikat. Artinya, tidak ada upaya hukum lain yang bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang bersengketa seperti banding atau kasasi, kecuali mematuhi dan melaksanakan putusan MK. Mengapa MK diberi kewenangan yang demikian besar? Karena MK adalah simbol dalam sebuah Negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum. Oleh sebab itu dipersayaratkan dalam UUD 1945, hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak boleh merangkap sebagai pejabat Negara.

Dengan demikian Hakim Konstitusi yang berjumlah sembilan orang itu (salah seorang diantaranya dipilih oleh Hakim Konstitusi tersebut sebagai Ketua), mestinya adalah orang yang memiliki integritas sangat terpuji dan memiliki kepatuhan tanpa syarat kepada hukum yang berlaku. Mereka ibarat pagar yang menjaga tanaman dari gangguan hama binatang yang merusak tanaman. Hakim Konstitusi tidak boleh ibarat "Tongkat membawa rebah" disuruh menjaga, justru dia sendiri yang merusaknya. Pagar makan tanaman, tongkat membawa rebah, musang berbulu ayam, ibarat buah manis berulat dalamnya, adalah larangan yang tak patut dilakukan oleh orang patut-patut.

Berita penetapan Menpora Andi Mallarangeng sebagai tersangka dalam megaproyek Hambalang, penangkapan Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden PKS yang terlibat dalam kasus impor daging ilegal, penangkapan Rudi Rubiandini, orang nomor satu di SKK Migas, semua menggemparkan. Kini tak tanggung-tanggung Ketua MK Akil Muchtar pula yang mencorengkan arang di kening bangsanya. Setiap kali ada petir tunggal yang mengejutkan, setiap kali pula kita berharap itu akan menjadi momentum untuk bersih-bersih membongkar "Kotak Pandora" seperti dalam mitos Yunani kuno itu, mengeluarkan semua kejahatan dan keburukan yang menjadi isinya. Tapi setiap kali harapan tinggal harapan. Kasus demi kasus berlalu.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 417 kali
sejak tanggal 07-10-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat