Lirik lagu itu populer di awal 80-an, dibawakan dengan manis oleh Ahmad Albar vokalis group band Godbless. Group band ini pu" alt="drh. Chaidir, MM | Panggung Sandiwara | "Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah ada peran wajar dan ada peran berpura-pura .......mengapa kita bersandiwara mengapa kita bersandiwara...." Lirik lagu itu populer di awal 80-an, dibawakan dengan manis oleh Ahmad Albar vokalis group band Godbless. Group band ini pu" hspace="3" vspace="15"/>
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggung Sandiwara

Oleh : drh.chaidir, MM

"Dunia ini panggung sandiwara
ceritanya mudah berubah
ada peran wajar
dan ada peran berpura-pura
.......mengapa kita bersandiwara
mengapa kita bersandiwara...."


Lirik lagu itu populer di awal 80-an, dibawakan dengan manis oleh Ahmad Albar vokalis group band Godbless. Group band ini pula, Ahad (8/11) kemarin pagi mangung di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, bersama musisi lain yang tergabung dalam komunitas CICAK (Cinta Indonesia Cinta KPK). Mereka antara lain group band Slank, Netral, Erwin Gutawa, dan lain-lain, yang merasa terpanggil untuk memberikan dukungan moral terhadap gerakan solidaritas anti korupsi.

Kehidupan kita memang ibarat panggung sandiwara. Ada skenario alam, ada skenario ciptaan manusia. Di atas panggung ada pangung. Kini berbagai komunitas berebut panggung. Tidak hanya panggung sandiwara, musik, dan panggung para sastrawan, berbagai panggung lain timpa-menimpa. Ada panggung Mahkamah Konstitusi, ada panggung Komisi III DPR-RI, ada panggung KPK, ada panggung POLRI, ada panggung Tim 8, dan sebagainya. Semua pasang aksi. Semua seakan kejar jam tayang berebut penonton. Dan semua memang menarik untuk ditonton.

Pihak yang panen raya tentulah komunitas media, baik cetak maupun elektronik. Media audio-visual misalnya, berhasil menyandera pemirsa untuk tetap duduk berjam-jam di depan televisi. Sementara di belahan lain, para koruptor berkesempatan tiarap sejadi-jadinya, khawatir terkena peluru nyasar. Ada pula yang menyelamatkan diri sambil mengatur sandiwara-sandiwara lain, sehingga ketika giliran manggung tiba, mereka sudah siap dengan akting yang meyakinkan.

Panggung publik yang kita tonton dalam dua pekan terakhir ini kelihatannya didramatisasi secara berlebihan; tidak lagi genuine alias otentik. Sarat dengan pembelokan-pembelokan tajam. Padahal hakikat transparansi sebenarnya adalah penyampaian informasi sesuai kebutuhan dengan penuh kejujuran. Transparansi yang didramatisasi secara berlebihan tanpa kejujuran akan menghasilkan pseudo-transparency: semu dan menyesatkan.

Yang merisaukan, hiruk-pikuk panggung publik itu telah membuat samar panggung lain: panggung kemiskinan di tepi-tepi sungai, di tepi-tepi pantai, di kaki-kaki gunung nun jauh di sana. Mereka setiap hari manggung di rumah-rumah panggung, tak peduli dengan persaingan kepentingan antar pribadi, atau kelompok atau antar lembaga seperti yang terjadi di ibukota itu. Mereka tak ada urusan dengan esprit de corp.

Orang-orang yang bersitegang itu adalah mereka yang terperangkap dalam postulat filsuf Thomas Hobbes (1588-1679): Bellum omnium contra omnes, manusia yang satu cenderung bersaing dengan manusia lainnya. Penyebabnya hanya satu: kepentingan! Sayangnya kepentingan itu dikemas terlalu berlebihan sehingga memberangus akal sehat.

kolom - Riau Pos 9 November 2009
Tulisan ini sudah di baca 1332 kali
sejak tanggal 09-11-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat