drh. Chaidir, MM | Mobil Murah Beras Murah | MOBIL murah dan beras murah serupa tapi tak sama. Serupa, karena sama-sama bisa menggunakan label murah, tak samanya (ya iayalah), karena yang satu kendaraan bermotor roda empat, lainnya salah satu komoditi penting dalam kelompok sembako. 

Tapi ada satu kesamaan lain, keduanya sama-sama mengundan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mobil Murah Beras Murah

Oleh : drh.chaidir, MM

MOBIL murah dan beras murah serupa tapi tak sama. Serupa, karena sama-sama bisa menggunakan label murah, tak samanya (ya iayalah), karena yang satu kendaraan bermotor roda empat, lainnya salah satu komoditi penting dalam kelompok sembako.

Tapi ada satu kesamaan lain, keduanya sama-sama mengundang dilema. Dilema maksudnya, murah salah mahal juga salah. Bak makan buah simalakama, dimakan mati ibu tak dimakan mati bapak. Maju kena mundur kena. Sepintas kilas, siapa tak senang, sebagian warga yang memiliki penghasilan tertentu tadinya tak pernah bermimpi memiliki mobil, sekarang dengan penghasilan yang sama mereka bisa memiliki mobil yang harganya terjangkau. Alangkah bangganya sekian puluh ribu bahkan mungkin sekian ratus ribu keluarga bisa memiliki mobil. Sekilas pintas pemerintah bisa dianggap sukses karena berhasil menciptakan dan menyediakan mobil murah. Kapan lagi rakyat punya mobil? Dengan uang muka 30% dari harga Rp 100 juta dan cicilan Rp 1 juta perbulan, warga sudah bisa memiliki mobil.

Kebijakan mobil murah atau Low Cost and Green Car (LCGC) memang banyak mengundang pro-kontra dari berbagai kalangan, baik pemerintah maupun masyarakat. Program mobil murah ada sisi negatif dan positifnya. Siapapun tidak bisa melarang masyarakat untuk membeli mobil yang murah, irit dan ramah lingkungan, apalagi mobil murah adalah program pemerintah. Namun sangat menyedihkan bila pemerintah menganggap penghasilan pajak Negara yang meningkat dari penjualan mobil murah adalah juga sebagai sisi positif. Memang masyarakat golongan ekonomi menengah akan merasakan punya mobil baru tapi mereka akan menjadi kelompok yang sangat besar sebagai penyumbang pajak kendaraan. Pendapatan masyarakat golongan ekonomi menengah disedot oleh dua sudut sekaligus: pertama, industri otomotif panen raya; kedua, pajak kendaraan bermotor roda empat.

Mobil murah juga membawa konsekuensi lain. Jalan-jalan raya akan semakin padat terutama di kota-kota besar yang memang sudah bermasalah dengan kemacetan lalu-lintas. Pembangunan jalan selama ini tak mampu mengimbangi kebutuhan pengguna jasa jalan raya. Pertumbuhan pemilikan kendaraan bermotor pribadi lebih tinggi dari kemampuan pemerintah membangun jalan. Tidak hanya itu, masyarakat akan lebih konsumtif dalam menggunakan BBM dan keperluan sekunder lainnya. Bisa dipastikan, sekurang-kurangnya setiap akhir pekan pusat-pusat perbelanjaan akan bertambah ramai. Oleh karenanya wajar bila beberapa kepala daerah seperti Gubernur Jokowi dan Walikota Pekanbaru Firdaus MT memandang kebijakan mobil murah ini dengan skeptis.

Sesungguhnya penyediaan angkutan umum massal yang murah, aman dan berkualitas merupakan kebijakan yang paling baik, sehingga tidak membebani masyarakat golongan menengah. Tetapi pemerintah selama ini kurang serius menyediakan transportasi umum, sehingga memberikan pencitraan kumuh, tidak aman, tidak nyaman, tidak tepat waktu, dan sebagainya.

Untuk komoditi beras dilemanya hampir sama dengan mobil murah. Memang ada program beras murah. Tapi sesungguhnya harga beras yang murah tersebut, adalah akibat subsidi pemerintah. Bulog menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menstabilkan harga beras dan gabah dengan pendekatan beli-tahan-jual. Masyarakat konsumen beras di perkotaan dan di daerah-daerah non produsen padi, senang bila harga beras murah, tetapi petani padi produsen gabah akan menjerit, sebab bisa-bisa petani kita tidak memperoleh apa-apa dari hasil sawahnya. Bukankah ada biaya produksi yang harus mereka tanggung seperti saprodi dan pupuk, dan tentu saja upah?

Pemerintah tidak hanya berupaya untuk menstabilkan harga beras, tetapi juga pada saat yang sama meninginkan kesejahteraan petani padi meningkat. Tapi kondisinya secara umum menjadi dilematis. Harga gabah petani dinaikkan, maka harga beras di pasar akan ikut naik, masyarakat akan teriak. Bila harga beras dipasar ditekan, harga gabah petani juga terpaksa diturunkan, dan petani akan menjerit. Jadi, beras lebih kurang sama dengan mobil, dibiarkan mahal susah, dibuat murah banyak masalah.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 425 kali
sejak tanggal 01-10-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat