drh. Chaidir, MM | Mengenang Faraday dan Edison | MICHEL Faraday  dan Thomas Alva Edison mungkin geleng-geleng kepala di alam baka sana mendengar krisis energi listrik yang terjadi di Indonesia. Bagaimana mungkin, bukankah Indonesia memiliki semua hal untuk membangun pembangkit energi listrik? Ada banyak minyak, batu bara, dan gas. Ada pula ratusan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengenang Faraday dan Edison

Oleh : drh.chaidir, MM

MICHEL Faraday dan Thomas Alva Edison mungkin geleng-geleng kepala di alam baka sana mendengar krisis energi listrik yang terjadi di Indonesia. Bagaimana mungkin, bukankah Indonesia memiliki semua hal untuk membangun pembangkit energi listrik? Ada banyak minyak, batu bara, dan gas. Ada pula ratusan sungai yang bisa dibangun PLTA, bisa juga pembangkit energi listrik tenaga angin, bahkan pembangkit listrik tenaga nuklir pun bisa.

Tapi kenyataannya kita rela berkelam-kelam. Beberapa teman menyikapinya secara positif. Malam yang kelam membuat mereka dekat dengan keluarga, bergenggaman tangan dalam gelap gulita, tak ada musik tak ada televisi, sunyi senyap. Sebagian teman mengaku melakukan kontemplasi. Tapi tidak sedikit yang tanpa sengaja mencaci-maki, menyebut semua nama satwa sebagai sumpah serapah untuk PLN.

Masyarakat memang punya hak kecewa dan marah-marah. Sebab energi listrik sudah menjadi kebutuhan dasar. Dengan demikian menjadi tanggungjawab pemerintah melalui fungsi pengaturannya untuk memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan masyarakatnya. Pemerintah bisa memerintah PLN atau pihak lain untuk maksud tersebut. Kalau ada kendala, kendalanya dipecahkan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan.

Lantas apa masalahnya? Nasihat Peter Drucker agaknya pantas disimak. Drucker menyebut tidak ada negeri tertinggal, yang ada adalah negeri yang salah urus. Maka dalam permasalahan krisis energi listrik ini pun demikian. Tidak ada kekurangan pasokan energi listrik, yang ada adalah pengusahaan listrik yang salah urus. Malu kita kan?

Padahal, "Bapak Listrik" dunia Michel Faraday (1791-1867) sudah bersusah payah menemukan listrik. Penemuan Faraday tentang "pengaruh elektro magnetik," yang disebut "Hukum Faraday" telah membantu kemajuan peradaban manusia. Kemudian Thomas Alva Edison (1847-1931) penemu bola lampu listrik, termasuk penemuan gramophone dan kamera film telah membangkitkan industri-industri besar bagi industri listrik, rekaman dan film yang akhirnya mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia.

Kebutuhan energi listrik masyarakat kita dewasa ini memang sangat besar, dan terus tumbuh dengan pesat, sementara penyediaannya melalui pembangkit energi listrik konvensional tak sanggup mengimbangi. Lamban, mahal, tak pernah cukup, dan tidak efisien.

Kelihatannya, kita harus berdamai dengan pembangkit listrik tenaga nuklir seperti pernah digagas Prof Habibie. Negara-negara maju juga menggunakannya seperti AS, Inggris, Rusia, German, Prancis, Jepang, India, dan sebagainya. Masyarakat kita ditakut-takuti dengan ancaman radiasi nuklir, akibatnya kita tertinggal dari Negara-negara maju tersebut. Dengan PLTN pasokan energi listrik akan terpenuhi dan jauh lebih hemat. Buat saja kajian PLTN dengan langkah pengamanan maksimum. Sewa tenaga ahli yang handal. Jangan paranoid.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 453 kali
sejak tanggal 30-09-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat