drh. Chaidir, MM | Belia Pelepas Dahaga | TIM junior Indonesia
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Belia Pelepas Dahaga

Oleh : drh.chaidir, MM

TIM junior Indonesia "Under 19" (berusia 19 tahun ke bawah) sukses menjadi juara Piala Federasi Sepakbola ASEAN, AFF U-19 2013. Ini kemenangan pertama tim junior Indonesia di ajang kejuaraan paling bergengsi di Asia Tenggara. Bahkan menjadi kemenangan yang dinanti-nanti masyarakat Indonesia setelah beberapa tahun belakangan ini tim Indonesia untuk semua kategori tidak pernah lagi menjadi juara dalam sebuah kejuaraan internasional resmi. Kemenangan timnas Indonesia ini jelas menjadi pelepas dahaga

Kemenangan timnas Indonesia atas Vietnam 7-6 melalui adu tendangan pinalti dalam partai final di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (22/9/2013) malam cukup menegangkan, karena dalam waktu normal 2 x 45 menit dan perpanjangan waktu 2 x 15 menit, kedua tim nasional berbagai angka sama kuat 0-0. Dari sembilan orang algojo pinalti masing-masing, timnas Indonesia berhasil memasukkan tujuh sementara Vietnam hanya enam.

Wajar bila kemudian kegembiraan meledak dan masyarakat hanyut dalam euforia kemenangan. Sepakbola adalah olahraga rakyat yang digemari tua-muda, besar kecil, laki-laki atau perempuan. Kemenangan timnas membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta "Merah-Putih" dan membuat masyarakat melupakan sejenak berbagai persoalan kehidupan yang mereka alami.

Timnas junior asuhan Indra Sjafri ini sesungguhnya telah mulai memperlihat prestasi ketika mereka tampil sebagai juara di Hongkong International Youth Invitational Tournament 2013 di Hong Kong, pada bulan Februari lalu. Indonesia menduduki puncak klasemen dengan 5 poin, unggul selisih gol atas Malaysia. Sebelumnya, timnas Indonesia U-19 bermain imbang 1-1 dengan Singapura, imbang 0-0 dengan Malaysia dan menang melawan Hongkong.

Prestasi pemain-pemain muda kita cukup membanggakan. Dalam Milan Junior Camp Day Tournament, yang berlangsung di stadion San Siro, markasnya AC Milan, Italia Oktober 2010, tim junior Indonesia juga tampil sebagai juara pertama. AC Milan Junior Camp adalah salah satu program pelatihan pemain muda dengan memberi kesempatan kepada talenta sepakbola masa depan untuk merasakan secara langsung program pelatihan kelas dunia ala AC Milan. Program ini telah berjalan lebih dari sepuluh tahun dan telah dilaksanakan di 180 lokasi di 36 negara. Tak hanya menjadi juara, pemain I Putu Angga Eka Putra asal Bali terpilih sebagai Pemain Terbaik, dan Eriyanto asal Sukabumi terpilih sebagai "Best Captain". Dalam turnamen mini tersebut, tim junior Indonesia mengalahkan semua lawannya. Step Stone dari Eropa dikalahkan 1-0, kemudian menang 3-1 atas tim UISP (gabungan pemain Brazil dan Venezuela), menang 3-0 atas tim USUNTP (gabungan pemain Eropa non-Italia), dan terakhir di babak final secara mengesankan anak-anak Indonesia mengalahkan tuan rumah tim ASTI yang terdiri dari para pemain muda Italia dengan skor 1-0.

Tim nasional U-14 Indonesia juga meraih prestasi gemilang sebagai tim terbaik dalam festival sepak bola AFC U-14 di Kinabalu, Malaysia, 30 Mei-3 Juni 2012. Peringkat pertama Indonesia, kedua Thailand, ketiga Malaysia, keempat Timor Leste, dan posisi ke lima Australia. Negera lain yang mengikuti festival sepakbola U-14 adalah Vietnam, Singapura, Laos, Brunei, dan Filipina.

Prestasi membanggakan juga diraih belia-belia kita yang tergabung dalam Tim U-14 Indonesia setelah tampil sebagai finalis Piala Dunia Anak-anak Gothia Cup di Gothenburg Swedia, 18-22 Juli 2013. Piala Dunia Anak-anak ini diikuti oleh 1600 tim dari 80 negara (usia mulai dari U-10 hingga U-18, baik putra maupun putri). Muhammad Firman, terpilih menjadi pemain terbaik dunia usia 14 tahun. Firman tergabung dalam tim ASIOP Apacinti bersama 17 anak-anak Indonesia lainnya. Dalam ajang kali ini, ASIOP Apacinti sukses menjadi runner-up di kategori U-14. Firman bersama timnya melumat beberapa tim dari negara lain dengan skor telak. Pemain-pemain tim Indonesia ditentukan oleh pemandu bakat dalam kompetisi Liga Kompas Gramedia (LKG) U-14 2013. Indonesia mengirimkan beberapa tim yang bertanding untuk beberapa kelompok umur. Tapi yang paling sukses adalah ASIOP Apacinti. Tim US Chantilly (Amerika) dikalahkan 3-0; Brommapojkarna 1 (Swedia) 3-0; Sandakerns Sorfors (Swedia) 7-0; Djurgardens IF (Swedia) 11-0; Skiljebo (Swedia) 1-0; BK Hacken 2 (Swedia) 2-0; Spanga IS FK (Belanda) 1-0; dan Dallas Texas (AS) dikalahkan 1-0. Di partai final, tim ASIOP Apacinti bermain imbang 0-0 melawan NK Krsko (Slovenia). Indonesia kemudian kalah adu pinalti 3-4. Hebatnya, kecuali adu pinalti di babak final tim kita tidak pernah kebobolan. Untuk dicatat, klub-klub dari Swedia tersebut adalah sekolah sepakbola milik klub professional liga sepak bola Swedia.

Sepakbola kita sesungguhnya memiliki bibit-bibit yang bagus ketika masih belia, tetapi kemudian "meleset" ketika beranjak dewasa, sehingga kalah bersaing dengan tim-tim yang ketika masih remaja dulu mereka tundukkan. Apa gerangan penyebabnya? Pertama, tentulah program pembinaan; kedua, pola hidup dalam lingkungan keluarga dan pergaulan sehari-hari; ketiga, budaya makan; keempat, dorongan semangat berprestasi; kelima, sarana lapangan latihan yang sangat terbatas. Tradisi sepakbola agaknya tak lagi bisa dibangun secara tradisional. Satu atau dua seniman bola mungkin dilahirkan, tetapi puluhan ribu lainnya cemerlang karena dibentuk melalui pelatihan dan pendidikan yang benar. Syabas.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 439 kali
sejak tanggal 24-09-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat