drh. Chaidir, MM | Entah Buaya Entah Cicak | BUAYA dan cicak serupa tapi tak sama. Secara morfologis keduanya mirip. Tapi keduanya memiliki habitat yang sama sekali beda. Keduanya tak sepadan disandingkan apalagi ditandingkan. Buaya adalah sejenis reptilia, hidup di laut, sungai dan rawa-rawa, berbadan besar, buas, kuat dan ganas; makanannya d
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Entah Buaya Entah Cicak

Oleh : drh.chaidir, MM

BUAYA dan cicak serupa tapi tak sama. Secara morfologis keduanya mirip. Tapi keduanya memiliki habitat yang sama sekali beda. Keduanya tak sepadan disandingkan apalagi ditandingkan. Buaya adalah sejenis reptilia, hidup di laut, sungai dan rawa-rawa, berbadan besar, buas, kuat dan ganas; makanannya daging, bahkan tidak bisa membedakan daging segar dan bangkai. Cicak? Cicak juga reptilia, tapi kecil, lemah dan imut-imut; hidup di rumah, di langit-langit dekat lampu, makanannya nyamuk, laron dan binatang-binatang kecil lainnya yang berterbangan di sekitar lampu.

Masing-masing memiliki keistimewaan. Buaya adalah satwa amfibi, ke darat ke laut oke; begitu hebatnya, tak ada ceritanya buaya mati tenggelam. Kulitnya pun berharga mahal sebagai komoditas perdagangan. Dan jangan lupa tangkurnya. Onderdil vital ini diburu oleh 'portugal' alias persatuan orangtua gatal (maaf, sekali lagi maaf, istilah ini diperoleh di kedai kopi, belum dipatenkan..he..he..). Konon tangkur buaya erat kaitannya dengan mitos kejantanan pria perkasa. Iyakah? Dulu, ketika penulis sering bertugas mendampingi tetamu berkunjung ke penangkaran buaya di Pulau Bulan, Batam, tamu dari Jakarta sering berbisik, "Mas, mas, bisa dapat tangkurnya nggak?"

Cicak tak memiliki nilai jual. Tapi bukan berarti tak memiliki keistimewaan. Bahkan cicak memiliki kemampuan yang tak dimiliki buaya (buaya darat sekalipun), yakni merayap menempel di loteng dalam posisi terbalik tanpa terjerembab ke bawah. Gaya grafitasi bumi tak mampu menjatuhkan seekor cicak. Makhluk lemah itu memiliki keistimewaan autotomi. Cicak pun tak keberatan ekornya putus, karena kemudian akan tumbuh lagi ekor baru. Potonglah, tak masalah. Tapi tak demikian halnya dengan buaya, bila ekornya putus, sang buaya akan buntung selama hayat dikandung badan.

Entah siapalah yang punya gagasan membuat perumpamaan buaya dan cicak ini, sesuatu yang diametris secara ekstrim. Perumpamaan itu agaknya bukan perumpamaan yang merepresentasikan perilaku, tapi semata hanya faktor kemiripan morfologis, yang satu besar dan kuat, yang lainnya sangat kecil dan lemah. Atau mungkin tak ada maksud apa-apa kecuali semata-mata hanya untuk menertawakan atau menyindir coreng-morengnya wajah penegakan hukum di negeri kita ini. Kepentingan pribadi, kelompok, esprit de corp, kepentingan politik, ramai-ramai merambah sistem peradilan kita. Semua kabur, yang mana ujung yang mana pangkal, mana substansi, mana prosedural; semua ibarat bola liar, semua ibarat sepeda tak berlampu.

Wajah hukum tak lagi tampil sederhana dan bersahaja. Adakah penegakan hukum semakin menjauh dari wilayah common sense alias akal sehat? Wilayah ini semakin tak dimengerti. Sesuatu yang jelas salah di mata publik misalnya, bisa tiba-tiba menjadi kabur, menjadi sebuah emulsi yang tak lagi terbaca. Bila esprit de corp lebih penting daripada kebenaran, maka krisis kepercayaan terhadap institusi penegakan hukum akan semakin parah.

Pemberantasan korupsi itu adalah agenda reformasi bangsa yang digerakkan mahasiswa. Karena korupsi telah merusak bangsa kita. Entah buaya entah cicak, rakyat tak peduli. Tak usahlah masing-masing pantang tak hebat. Ukurannya bagi rakyat, sederhana saja: mana yang paling hebat dan teruji memberantas korupsi. Itu saja.

kolom - Riau Pos 2 November 2009
Tulisan ini sudah di baca 1332 kali
sejak tanggal 02-11-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat