drh. Chaidir, MM | Debat Layar Kaca | TIDAK substantif. Begitulah komentar- yang terdengar sedikit agak arogan- beberapa  pengamat lokal dan juga umumnya teman-teman di jejaring media sosial facebook dan twitter. Tak kalah serunya juga debat kedai kopi antara pro-kontra pasca debat di layar kaca. Jauh panggang dari api. Lain ditanya lai
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Debat Layar Kaca

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK substantif. Begitulah komentar- yang terdengar sedikit agak arogan- beberapa pengamat lokal dan juga umumnya teman-teman di jejaring media sosial facebook dan twitter. Tak kalah serunya juga debat kedai kopi antara pro-kontra pasca debat di layar kaca. Jauh panggang dari api. Lain ditanya lain dijawab. Begitulah umumnya publik menyebut debat calon Gubernur Riau 2013 yang disiarkan Sabtu malam (24/8/2013) oleh salah satu stasiun televisi nasional. Semua bebas memberikan komentar. Prinsipnya, untuk mengomentari permainan Messi atau Neymar, penonton tidak harus lebih hebat dari mereka.

Substantif maksudnya, tentulah bersifat substansi atau muatan, atau isi pokok yang terkandung. Berdasarkan pemahaman awam, debat tersebut harusnya mengupas tuntas program strategis atau pokok-pokok program untuk lima tahun ke depan. Mau dibawa kemana daearh ini, mau dijadikan seperti apa kesejahteraan masyarakatnya. Dengan memperdebatkan pokok-pokok program secara obyektif, akan diperoleh pemahaman yang lebih baik yang bermanfaat untuk penajaman-penajaman rencana aksi bagi pembangunan daerah secara menyeluruh.

Mereka yang mengatakan debat tersebut tidak substantif, berarti menyimpulkan, debat tersebut kurang menyentuh pokok-pokok program yang seharusnya diketahui oleh masyarakat. Ada yang bahkan menyebut, debat tersebut tak ubahnya seperti debat kusir. Masing-masing ingin menang sendiri, tak ada ujung pangkal, jauh panggang dari api.

Pertanyaannya, kalau debat itu substantif, atau betul-betul serius adu argumentasi tentang pokok-pokok program, apakah memberikan sesuatu yang berbeda?

Persepsi memang bisa bermacam-macam, tergantung bagaimana kita memaknai debat televisi tersebut. Bila kita memaknainya sebagai publikasi terhadap gagasan sang kandidat, atau dimaksudkan untuk menggali kedalaman sebuah konsep, format debat yang tersedia agaknya tidak memungkinkan seorang kandidat bisa mempresentasikan visi misinya karena alokasi waktu yang amat sempit. Waktu yang tersedia sangat terbatas dan lalu-lintas pembicaraan pun agak rumit, karena peserta debat yang cukup banyak.

Tapi bila dimaksudkan hanya sebagai window shopping bagi publik, atau hanya sekedar sebuah etalase bagi sang calon, agar publik mengetahui penampilan kandidat, untuk kemudian menjatuhkan pilihannya karena terpesona melihat penampilan sang kandidat, maka masalahnya menjadi lain. Sejauh ini belum ada survey independen dan terpercaya yang bisa menjamin debat akan mengubah sikap publik.

Oleh karena itu, tidak usahlah terlalu dipikirkan apakah debat tersebut substantif atau tidak, jauh panggang dari api atau tidak. Bahwa para kandidat kita sudah berani unjuk kebolehan di depan layar kaca yang ditonton oleh jutaan orang, itu saja sudah sebuah kredit bagus. Dengan alokasi waktu dan giliran bicara yang sangat terbatas, memang diperlukan kemampuan retorika tingkat dewa untuk menyampaikan pokok pikiran secara sederhana dan menarik. Dan itu sangat tidak mudah.

Waktu tinggal beberapa hari lagi sebelum pemilih menentukan pilihannya secara langsung, umum, bebas, rahasia , jujur dan adil. Debat layar kaca memang tak sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Tapi sekurang-kurangnya untuk saat ini merekalah yang tampil dan kita harus memilih dengan berlapang dada.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 402 kali
sejak tanggal 27-08-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat