drh. Chaidir, MM | Debat Kandidat | KALAU bukan karena pengaruh debat televisi, demikian menurut beberapa pengamat di Negeri Paman Sam, maka John F. Kennedy diperkirakan kalah melawan Richard Nixon pada pemilihan Presiden AS  9 November 1960.  Tapi sejarah mencatat, debat kandidat Presiden AS yang merupakan debat pertama di dunia yang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Debat Kandidat

Oleh : drh.chaidir, MM

KALAU bukan karena pengaruh debat televisi, demikian menurut beberapa pengamat di Negeri Paman Sam, maka John F. Kennedy diperkirakan kalah melawan Richard Nixon pada pemilihan Presiden AS 9 November 1960. Tapi sejarah mencatat, debat kandidat Presiden AS yang merupakan debat pertama di dunia yang disiarkan melalui televisi, pada tanggal 26 September 1960, menggoreskan hasil yang berbeda. Kennedy secara visual tampil dengan sangat mengesankan.

Berdasarkan pendengar siaran radio, debat tersebut dimenangkan oleh Nixon. Tetapi sayangnya pendengar radio ketika itu hanya segelintir. Pada 1960 tersebut, 88% rakyat Amerika memiliki televisi di rumahnya, jauh meningkat dibanding 11% pada 1950. Menurut survei yang dilakukan oleh Sindlinger & Company, jumlah penonton televisi untuk acara debat tersebut diperkirakan mencapai 74 juta dan umumnya menyebut Kennedy menang mutlak.

Debat antara Obama melawan penantangnya Mitt Romney dalam pemilihan Presiden AS November 2012 berlangsung dalam tiga putaran. Publik menganggap pada putaran pertama, debat dimenangkan oleh Romney. Elektabilitas Obama langsung anjlok. Tetapi pada debat putaran kedua, Obama dianggap unggul atas Romney, bahkan dalam putaran ketiga Obama disebut menang telak. Dan hasilnya, Obama pun menang mutlak sebagai Presiden AS untuk periode kedua. Debat Ronald Reagen melawan incumbent Jimmy Carter (1980) disaksikan 80,6 juta penduduk Amerika (rekor penonton terbesar di AS, debat Obama-Romney ditonton 65 juta dan Kennedy-Nixon 74 juta). Reagen menang dalam debat dan menang dalam pemilihan.

Lain padang lain belalang. Debat televisi calon gubernur di negeri kita kelihatannya tak begitu berpengaruh terhadap sikap pemilih. Tidak ada lembaga survei independen yang secara khusus memotret sikap pemilih sebelum dan sesudah debat. Mungkin karena debat bukan dianggap sebagai ukuran kualitas kandidat. Atau sekurang-kurangnya publik tidak bisa memperoleh gambaran yang lebih jelas karena sang kandidat tidak bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya. Banyaknya jumlah kandidat menyulitkan, perdebatan menjadi tidak focus, lalu-lintas perdebatan juga sulit diatur. Beda dengan sistem di AS yang biasanya hanya menampilkan dua kandidat, sehingga mereka bisa head to head. Publik akan lebih mudah membuat perbandingan yang rasional dan obyektif.

Debat kandidat kita tak berpengaruh signifikan dalam membentuk sikap publik, juga karena peran yang sangat kuat dari kelompok pendukung fanatik. Secara persentase masa mengambang (swing voters) yang tak terikat dengan seorang kandidat, jumlahnya memang besar, tetapi swing voters tersebut umumnya semu. Mereka memang belum menentukan sikap dalam polling, bukan karena alasan program, tetapi lebih pada alasan lain. Maka sebenarnya, substantif atau tidak substantif, menyentuh atau tidak menyentuh materi perdebatan para calon, hampir tak ada bedanya. Tergantung bagaimana memaknai debat tersebut. Tapi episode kehidupan demokrasi seperti ini harus kita lalui sebagai bagian dari pendidikan politik masyarakat. Ayo kita pilih jangan golput.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 403 kali
sejak tanggal 26-08-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat