drh. Chaidir, MM | Separoh Malaikat | PEKAN ini, tak hanya kompetisi sepakbola Liga Primier di Inggris dan La Liga di Spanyol yang mulai bergulir, tahapan Pemilihan Gubernur Riau 2013 pun kemaren pagi (18/8/2013) mulai memasuki masa kampanye resmi yang ditandai dengan penyampaian visi misi di DPRD Riau.

Lima pasangan Cagub dan Cawagu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Separoh Malaikat

Oleh : drh.chaidir, MM

PEKAN ini, tak hanya kompetisi sepakbola Liga Primier di Inggris dan La Liga di Spanyol yang mulai bergulir, tahapan Pemilihan Gubernur Riau 2013 pun kemaren pagi (18/8/2013) mulai memasuki masa kampanye resmi yang ditandai dengan penyampaian visi misi di DPRD Riau.

Lima pasangan Cagub dan Cawagub meyampaikan gagasan di depan sidang paripurna DPRD Riau. Agenda itu bemakna: pertama, visi misi tersebut adalah konsep yang ditawarkan oleh masing-masing pasangan calon, kemana Provinsi Riau ini dibawa dalam lima tahun ke depan, seandainya mereka terpilih; kedua, penyampaian di depan parpurna DPRD memberi legitimasi kuat, secara formal, gagasan masing-masing calon sudah di-publish, dengan demikian seluruh masyarakat Riau dianggap sudah tahu, dan visi misi tersebut tak lagi dapat ditarik.

Pemilihan kepala daerah secara langsung yang sudah diselenggarakan hampir sepuluh tahun di berbagai daerah, mengguratkan beberapa catatan di akar rumput: pertama, janji kampanye dianggap bohong, janji tinggal janji; kedua, visi misi hanyalah formalitas belaka; ketiga, komentar awam, siapapun yang terpilih, kita akan tetap seperti ini; keempat, kecap yang dijual pasti kecap terbaik dari kecap yang lain; kelima, politik itu kejam.

Lima pasangan Calon Gubri 2013 masing-masing dengan visi misinya, jangan berkecil hati kalau dicurigai dengan pemikiran yang demikian. Selama demokrasi yang kita kembangkan minus semangat persaudaraan (fraternity), maka selama itu pula stigma tersebut masih akan melekat. Keadaannya diperburuk bila politik berkembang tanpa etika.

Refleksi Robert A. Dahl (1997) dalam bukunya Toward Democracy menarik, bahwa demokrasi menuntut etika politik yang kuat, yang memberikan kematangan emosional dan dukungan yang rasional untuk menerapkan prosedur-prosedur demokrasi. Etika politik yang tertanam dengan kuat akan menolong negara-negara demokrasi melewati krisis yang dialami. Dengan kata lain, Etika Politik adalah sarana yang diharapkan mampu menciptakan suasana harmonis antar pelaku dan antar kekuatan sosial politik serta antar kelompok kepentingan lainnya.

Pertanyaannya, siapakah yang akan kita pilih nanti? Seorang manajerkah atau seorang pemimpin? Sekilas keduanya tampak seakan bermakna sama. Tetapi sebenarnya kedua istilah tersebut maknanya beda. Manajer itu seorang kepala kantor, lembaga, institusi, dia punya bawahan. Orientasinya tugas, dia memerintah. Sedangkan pemimpin adalah orang yang memimpin orang lain melalui pengaruhnya, ke arah tertentu. Orientasinya orang, dia mengajak. Tapi jangan terkecoh, beberapa manajer juga adalah seorang pemimpin. Sebuah pribahasa lama mengatakan Managers do things right, while leaders do the right thing. Maksudnya kira-kira, seorang manajer itu bekerja untuk hasil yang baik, sementara pemimpin mengerjakan sesuatu yang baik untuk sebuah hasil. Maka sebenarnya, kombinasi keduanya adalah yang terbaik: seorang manajer sekaligus seorang pemimpin atau seorang pemimpin sekaligus juga seorang manajer. Siapa dia orang? Octavia Pramono (2013) memberi resep dia adalah pemimpin separoh malaikat. Oh My God..

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 390 kali
sejak tanggal 19-08-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat