drh. Chaidir, MM | Politisi dan Surga | PILIHAN utama bocah Amerika, konon jadi pelawak. Menyusul kemudian jadi penasehat hukum (lawyer), insinyur, ahli IT, dokter, dan seterusnya, dan seterusnya, terakhir jadi politisi. Kecian ya..
Entah benar atau tidak, wallahualam. Sepertinya anak-anak itu termakan gurauan provokatif seorang ustadz n
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politisi dan Surga

Oleh : drh.chaidir, MM

PILIHAN utama bocah Amerika, konon jadi pelawak. Menyusul kemudian jadi penasehat hukum (lawyer), insinyur, ahli IT, dokter, dan seterusnya, dan seterusnya, terakhir jadi politisi. Kecian ya..
Entah benar atau tidak, wallahualam. Sepertinya anak-anak itu termakan gurauan provokatif seorang ustadz nun jauh di Selat Melaka, melintasi Samudra Pasifik. Hati-hati, kata ustadz, orang terakhir yang masuk surga adalah rombongan politisi. Itu pun kalau bisa masuk. Peluang untuk tidak bisa masuk amat besar, terutama bila rata-rata ponten minimal atau nilai ambang kelulusan dinaikkan. Sebab, kata orang, rata-rata ponten politisi dalam hal kepuasan publik adalah pas-pasan, banyak merahnya.

Negeri ini punya data empirik, jadi politisi memang berat, peluang untuk jadi tokoh yang terkemuka atau tersangka sama besarnya, kerja sungguhan dan godaan sama menariknya. Berkah dan musibah hanya dipisahkan oleh membrane yang amat tipis. Dan, para politisi memang diberi porsi beban amanah lebih berat daripada orang-orang non politisi. Masalahnya, amanah yang dipikul - bila hendak dikatakan yang sebenarnya - sangat berat. Pemerintahan yang berasal dari rakyat, mengusung kepentingan rakyat, berhutang pada rakyat. Ini harus dikerjakan, itu harus diperjuangkan, yang satu digandeng, yang lain harus dipertenggangkan. Sulitnya, ini dilarang, itu tabu, yang ini jangan lakukan, yang itu sekali-sekali jangan didekati. Idealnya politisi yang sungguh-sungguh amanah itu kira-kira seperti malaikatlah. Tapi previlese politisi juga banyak: status terhormat, didulukan selangkah, ditinggikan seranting, gaji besar, fasilitas berkelas, dan seterusnya.

Siapa politisi? Mereka adalah para aktor di panggung politik terutama yang menempati posisi di supra struktur politik, yakni para pemangku jabatan publik baik di eksekutif maupun di legislative dari pusat sampai ke daerah. Tentu tidak kalah pentingnya adalah para aktivis parpol dalam domain infra struktur politik.

Sepekan lalu, publik dibius dengan dramatisasi rekrutmen pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. Banyak yang berdebar-debar, merasa layak dipanggil tapi tidak dipanggil. Tapi drama satu babak itu sudah berakhir. Para menteri sudah dilantik. Kini saatnya publik menunggu kiprah para menteri yang telah diberi kepercayaan.

Teori kesifatan kepemimpinan (The traits theory of leadership) yang dianut Ordway Tead dan George R. Terry agaknya tidak berlebihan bila dicermati. Seorang pemimpin idealnya memiliki antara lain sifat inkuisitif, kemampuan analitis, memiliki kapasitas integrative, kemampuan berkomunikasi efektif, kemampuan menyusun skala prioritas, kemampuan membedakan mana yang urgen dan mana yang penting, kemampuan menjadi pendengar yang baik, sifat keteladanan, rasionalitas, dan seterusnya.

Sifat-sifat itu bukan sarat, tapi menurut Sondang Siagian (2003), sifat-sifat itu perlu diusahakan oleh setiap orang yang mendapat kesempatan menjadi seorang pemimpin. Besar harapan kita para menteri yang terpilih dan telah menandatangani pakta integritas sudah familiar dengan teori itu. Stop-lah agenda-agenda yang tidak relevan, bedakan dengan baik mana agenda seremonial dan mana kebutuhan rakyat. Jadilah pendengar yang baik, biarkan rakyat bicara.

kolom - Riau Pos 26 Oktober 2009
Tulisan ini sudah di baca 1274 kali
sejak tanggal 26-10-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat