drh. Chaidir, MM | Demokrasi Minus Persaudaraan | SETUJU atau tidak setuju. Terima atau tidak terima. Demokrasi liberal yang kita anut dalam kehidupan bernegara dewasa ini, berasal dari Barat. Demokrasi liberal Amerika ketularan dari Revolusi Prancis, yang dianggap sebagai awal dari sejarah modern dunia. 

Pergolakan politik di Prancis yang bermu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demokrasi Minus Persaudaraan

Oleh : drh.chaidir, MM

SETUJU atau tidak setuju. Terima atau tidak terima. Demokrasi liberal yang kita anut dalam kehidupan bernegara dewasa ini, berasal dari Barat. Demokrasi liberal Amerika ketularan dari Revolusi Prancis, yang dianggap sebagai awal dari sejarah modern dunia.

Pergolakan politik di Prancis yang bermula pada tahun 1789, telah meruntuhkan monarki absolut di negeri itu dan menimbulkan dampak abadi terhadap sejarah Prancis. Gerakan massa yang juga diikuti oleh masyarakat petani di pedesaan telah mengganti prinsip-prinsip lama dalam monarki absolut menjadi prinsip-prinsip baru, yang kemudian terkenal ke seluruh penjuru dunia: Liberte, Egalite, Fraternite (kebebasan, persamaan dan persaudaraan). Revolusi Prancis telah menimbulkan dampak yang mendalam terhadap perkembangan sejarah modern. Virusnya menyebar kemana-mana sampai ke Amerika melintasi Samudra Atlantik. Virus itu berupa pertumbuhan republik, demokrasi liberal, sekularisme, dan berbagai perkembangan ideologi modern.

Beberapa puluh tahun kemudian, Abraham Lincoln Presiden ke-16 AS (1861-1865) menyebut pemerintahannya sebagai Governtment of the people, by the people, for the people. (Pemerintahan dari rakyat oleh rakyat da untuk rakyat). Ucapan itu kemudian melintasi zaman. Abraham Lincoln telah mencetuskan demokrasi liberal di AS dengan mengadopsi nilai-nilai Liberte, Egalite dan Fraternite yang mencuat dari Revolusi Prancis. Sementara di daratan Eropa, pertentangan antara pendukung dan penentang Revolusi Prancis terus terjadi selama dua abad berikutnya. Walau kemenangan Revolusi Prancis tak bisa dihambat, tetapi nilai-nilai kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi nilai-nilai dasar demokrasi itu justru berkembang subur di Amerika Serikat. Semangat nilai-nilai demokrasi itu secara konsisten diterima dan dikembangkan oleh masyarakat AS. Maka kalau demokrasi AS sampai hari ini terlihat lebih berkilau, itu tidak terlepas dari tiga nilai revolusi Prancis itu berkembang dengan baik.

Kehidupan demokrasi yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, tak sepenuhnya berlangsung dengan mulus. Kebangkitan demokrasi di berbagai negeri Arab terutama di Negara-negara yang terletak di Afrika Utara seperti Mesir, Tunisia, Lybia, Aljazair, Maroko, dan di jazirah Arab seperti Yaman, yang dijuluki sebagai Musim Semi Arab, demokrasi baru bermakna sampai pada kebebasan menyampaikan kehendak, damai atau anarkis. Di Pakistan, India, Thailand, Malaysia, Filipina dan juga Indonesia, juga hanya beda-beda tipis. Demokrasi kita minus rasa persaudaraan, sebagaimana nilai dasar demokrasi itu.

Jujur, semangat persaudaraan itu sangat tipis dalam demokratisasi yang berlangsung meriah di tanah air terutama sejak dilaksanakannya pemilukada langsung. Bahkan adakalanya nilai persaudaraan itu absen sama sekali di saat-saat diperlukan. Akibatnya segala macam cara dihalalkan, pelanggaran dan kecurangan tidak dianggap tabu, tidak jarang terjadi bentrok yang menimbulkan korban jiwa dan harta. Sementara hasil pemilukada yang gegap gempita itu, tidak sesuai harapan masyarakat secara umum, bahkan di kalangan para pendukung kandidat itu sendiri. Harapan terlalu besar, sementara kandidat yang dibela habis-habisan ternyata tidak memiliki cukup kapabilitas apalagi kemudian bermasalah pula dalam integritasnya.

Lantas apa kaitan demokrasi liberal kita dengan puasa Ramadhan yang baru saja kita lalui, dan disambut dengan Idul Fitri? Nilai persaudaraan. Itulah kuncinya. Salah satu nilai sangat penting dari ibadah puasa Ramadhan dan Idul Fitri adalah nilai persaudaraan, dan salah satu nilai sangat penting dalam demokrasi adalah nilai persaudaraan. Dengan tebalnya rasa persaudaraan, maka rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan akan semakin terbangun. Nilai persaudaraan akan tampak dalam sikap sportivitas tinggi, saling hormat menghormati, segan menyegani, malu untuk melakukan pelanggaran dan malu untuk berlaku curang. Bila nilai persaudaraan demokrasi itu sama-sama kita junjung tinggi, maka kita akan bisa membangun demokrasi yang bermartabat.

Selamat Idul Fitri. Maaf lahir batin.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 427 kali
sejak tanggal 13-08-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat