drh. Chaidir, MM | Cagubri Baca Puisi | BUBER alias buka bersama atau BUBAR alias buka bareng tahun ini, akan segera berakhir dalam pekan ini juga. Kegiatan yang penuh semangat persaudaraan itu akan kita jumpai lagi Ramadhan tahun depan bila umur panjang. Tapi jangan khawatir, kegiatan yang penuh kehangatan itu masih ada dalam bentuk lain
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cagubri Baca Puisi

Oleh : drh.chaidir, MM

BUBER alias buka bersama atau BUBAR alias buka bareng tahun ini, akan segera berakhir dalam pekan ini juga. Kegiatan yang penuh semangat persaudaraan itu akan kita jumpai lagi Ramadhan tahun depan bila umur panjang. Tapi jangan khawatir, kegiatan yang penuh kehangatan itu masih ada dalam bentuk lain, yakni acara Halal bi Halal. Tradisi Hahal bi Halal, seperti yang sering disebutkan oleh ustad hanya ada dalam masyarakat kita, akan mengambil masa pula dalam 30 hari ke depan terhitung mulai tanggal 1 Syawal dalam perhitungan kalender hijriyah atau terhitung mulai saat perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Kehangatan persaudaraan Ramadhan dan Idul Fitri khususnya bagi masyarakat kita di Riau tahun ini, diganggu oleh menu memabukkan: pemilihan gubernur. Tak bisa dipungkiri, agenda pemilihan gubernur, suka atau tidak suka, selalu menghadirkan kompetisi yang kurang sehat. Indikasinya, hampir semua pemilukada berakhir dengan sengketa. Saling lapor-melapor pelanggaran atau kecurangan pihak lawan, black campaign dalam bentuk selebaran gelap, dan sebagainya. Sengketa pemilukada adakalanya menyulut emosi kubu-kubu yang bertanding sehingga menimbulkan bentrokan fisik antar kelompok/kampung, dan aksi-aksi anarkis.

Sengketa pemilukada ini menjadi puncak rasa tidak puas masing-masing kubu akibat adanya ketidakadilan dan kecurangan. Proses sengketa itu berawal dari tarik-menarik partai pendukung, persyaratan penetapan calon, penetapan DPT, perilaku tidak sportif dalam sosialisasi bakal calon, kampanye hitam, kampanye di luar jadwal, curi start, kampanye terselubung, kecurigaan terhadap sikap birokrasi dan pemanfataan APBD, surat undangan pencoblosan yang kacau, penggelembungan suara, dan sebagainya dan sebagainya.

Sengketa pemilukada dengan berbagai sebab tersebut, seringkali menimbulkan polarisasi atau bahkan fragmentasi dalam masyarakat, yang tentu saja merusak harmonisasi kebersamaan dan persaudaraan. Kondisi ini bertolak belakang dengan iklim yang dikehendaki. Dalam menghadapi kehidupan yang semakin berat ke depan, kita sebenarnya memerlukan iklim masyarakat yang lebih kondusif dan harmonis. Dengan demikian sektor pemerintah dan swasta akan bisa mengembangkan pembangunan dan usaha secara produktif tanpa sak-wasangka. Investasi pemerintah dan swasta tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kita semuanya untuk peningkatan kesejahteraan dalam semangat bahu-membahu. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun, hati gajah sama dilapah hati tungau sama dicecah. Sharing the pain sharing gain (pahit manis sama dirasa).

Antidota dari kehidupan yang bercerai-berai dan bengkok-bengkok akibat kompetisi yang tidak sehat itu adalah semangat kebersamaan dan persaudaraan seperti yang kita pahami dan hayati selama bulan Ramadhan dan Syawal. Rasanya tidaklah berlebihan, untuk merajut tirai kasih yang terkoyak akibat jor-joran dinamika pilgubri dalam masyarakat kita di Riau, dan untuk mencairkan suasanana, membangun silaturrahim dalam kemasan halal bi halal, dan juga sekaligus sebagai bentuk apresiasi Riau (negeri para pujangga) terhadap Hari Puisi Indonesia gagasan penyair Rida K Liamsi pada tanggal 26 Juli 2013 lalu, bisa pula digagas agenda Cagubri Baca Puisi. Sekali merangkuh dayung dua tiga pulau terlampau. Maaf lahir batin.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 404 kali
sejak tanggal 08-08-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat