drh. Chaidir, MM | Monarki Lebih Nyaman | BARANGKALI tak ada kelahiran seorang bayi  di abad modern ini seheboh kelahiran bayi kerajaan Inggris, putra pertama dari Pangeran William pewaris tahta kerajaan dengan istrinya Kate Middleton. Rakyat Inggris bergembiraria dengan kelahiran bayi kerajaan itu. Pewaris Kerajaan Britania Raya tersebut d
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Monarki Lebih Nyaman

Oleh : drh.chaidir, MM

BARANGKALI tak ada kelahiran seorang bayi di abad modern ini seheboh kelahiran bayi kerajaan Inggris, putra pertama dari Pangeran William pewaris tahta kerajaan dengan istrinya Kate Middleton. Rakyat Inggris bergembiraria dengan kelahiran bayi kerajaan itu. Pewaris Kerajaan Britania Raya tersebut diberi nama George Alexander Louis. Demikian pengumuman yang dikeluarkan pihak Istana Kensington. Si kecil akan dikenal sebagai His Royal Highness Prince George of Cambridge.

Rakyat Inggris yang sangat mencintai kerajaannya, wajar bersukaria, sebab sang bayi, Pangeran George adalah pewaris tahta ketiga Kerajaan Britania Raya. Bila Ratu Elizabeth II yang sekarang menduduki tahta sebagai Ratu Inggris mangkat, dia akan digantikan oleh anak lelakinya tertua Pangeran Charles. Daftar tunggu berikutnya adalah Pangeran William Dan Pangeran berikutnya setelah Pangeran William, siapa lagi kalau bukan bayi yang bikin heboh itu, Pangeran George. Bayi yang baru lahir itu sejatinya adalah cucu dari pasangan Pangeran Charles dan Lady Diana.

Kerajaan Britania Raya atau dikenal sebagai Kerajaan Inggris adalah salah satu kerajaan tertua di dunia yang masih kukuh berdiri. Ratu Elizabeth II merupakan penguasa monarki, kepala negara dengan masa jabatan terlama kedua di dunia saat ini (setelah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand). Saat ini Ratu Elizabeth masih menjadi ratu monarki konstitusional dari 16 negara berdaulat (dikenal sebagai Alam Persemakmuran), serta ketua dari 54 anggota Negara-Negara Persemakmuran.

Setelah naik takhta pada tanggal 6 Februari 1952, Ratu Elizabeth menjadi Ketua Persemakmuran sekaligus ratu dari tujuh Alam Persemakmuran (Commonwealth Realms) merdeka, yaitu: Britania Raya, Kanada, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan Pakistan dan Sri Lanka. Sejak tahun 1956 hingga 1992, jumlah Alam Persemakmurannya bervariasi, beberapa wilayah merdeka bertransformasi menjadi negara republik.

Inggris dan beberapa Negara monarki parlementer seperti Thailand, Jepang, Malaysia, Australia, menjadi sebuah fenomena di tengah dunia yang semakin demokratis, terbuka dan transparan. Kehidupan raja-raja di negeri tersebut tentulah sangat eksklusif, hidup mewah, kekayaan mereka tak tersentuh, tapi rakyat mencintai raja dan keluarganya. Raja dan keluarganya memang tidak terlibat langsung dalam pemerintahan. Pemerintahan adalah urusan Perdana Menteri dengan birokrasinya, dan partai-partai politik. Dengan posisi demikian, ratu atau raja di negeri monarki dihormati dan disegani oleh rakyat. Bukan tidak ada kelompok-kelompok yang bersuara miring terhadap kearjaan, kelompok itu selalu saja ada. Di Malaysia, misalnya, ada Dr Anwar Ibrahim yang sekarang tampil sebagai pemimpin opisisi Pakatan Rakyat. Dia pernah berupaya untuk mengurangi hak-hak raja-raja Melayu di negeri itu. Di Inggris sendiri, ada koran The Sun yang selalu bersuara kritis terhadap kerajaan. Tapi semuanya dianggap tak berarti.

Pada bulan November 1999, hasil referendum di Australia untuk menentukan masa depan monarki Australia menunjukkan bahwa Elizabeth tetap disukai dan didukung untuk menjadi kepala Negara. Artinya, rakyat Australia lebih percaya kepada pemerintahan dengan system monarki daripada republik. Hasil poling di Britania Raya pada tahun 2006 dan 2007 juga menunjukkan bahwa dukungan untuk Elizabeth masih tinggi. Hasil jajak pendapat di Tuvalu pada tahun 2008 dan di Saint Vincent dan Grenadines pada tahun 2009 juga menunjukkan hasil yang sama. Mereka lebih menyukai bentuk monarki.

Salah satu alasan kenapa rakyat di negeri-negeri persemakmuran tersebut memilih bentuk monarki, alasanya ternyata sederhana, mereka lebih nyaman dengan kepala Negaranya seorang raja atau ratu dengan silsilah keturunan yang jelas dan terhormat. Di negeri monarki memang tak ada peluang seorang petani kacang seperti Jimmy Carter menjadi Kepala Negara.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 594 kali
sejak tanggal 30-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat