drh. Chaidir, MM | Pesan Semut dan Lebah | BINATANG bukan makhluk berakal seperti manusia. Tapi binatang punya instinct atau naluri. Dengan nalurinya binatang menguasai binatang lainnya, menakut-nakuti, memberi tanda teritorial, kawin, berburu makanan, melindungi anak-anaknya, bakan juga memberi contoh kepada manusia. Ingat kisah burung gaga
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pesan Semut dan Lebah

Oleh : drh.chaidir, MM

BINATANG bukan makhluk berakal seperti manusia. Tapi binatang punya instinct atau naluri. Dengan nalurinya binatang menguasai binatang lainnya, menakut-nakuti, memberi tanda teritorial, kawin, berburu makanan, melindungi anak-anaknya, bakan juga memberi contoh kepada manusia. Ingat kisah burung gagak yang memberi contoh kepada Qabil bagaimana semustinya Qabil mengubur jazad adiknya Habil yang telah dibunuhnya?

Kehidupan binatang umumnya memang diselimuti hukum rimba, yang kuat menjajah yang lemah. Pihak yang kuat berkuasa sepuas hatinya sampai ada yang mengalahkannya. Politik kekuasaan binatang selalu menebar rasa takut di lingkungannya dan kepada musuh-musuhnya. Tapi kehidupan binatang tak melulu diisi perampasan demi perampasan, penaklukan demi penaklukan.

Dalam kitab suci umat Islam, AlQuran, terdapat beberapa kisah binatang yang sarat dengan kearifan. Semut dan lebah adalah sebagian kecil dari jenis binatang yang disebut. Perilaku hidup makhluk bertungkai enam (hexapoda) ini selalu menarik minat para ahli untuk mengamatinya. Banyak pengamat yang tertarik hatinya, bagaimana semut melakukan fungsi-fungsi organisasi dengan baik. Semut bekerja sebagai sebuah tim, mereka bergotongroyong. Nyaris sukar menemukan semut yang bekerja sendirian tanpa ditolong oleh semut-semut lain. Sebutir nasi pun digotong bersama. Semua semut yang berada dalam satu koloni bekerja dengan tekun dan fokus. Hewan-hewan ini bekerja begitu tekun dan tidak teralihkan perhatiannya kepada urusan yang lain sebelum satu urusan selesai. Sebuah rumah semut berupa gundukan tanah di hutan bisa dibangun oleh koloni semut dalam tempo satu malam. Padahal tubuhnya kecil mungil. Barangkali karena mereka punya enam tungkai yang berfungsi sebagai tangan dan kaki sekaligus, sedang manusia hanya punya sepasang tungkai.

Semut mempertontonkan bagaimana kita seharusnya membangun semangat tim dengan luar biasa. Semut memberi teladan tentang kebersamaan dan organisasi dalam masyarakat. Dengan gotongroyong mereka mampu mengangkat beban yang memiliki berat berpuluh kali lipat berat badannya dan melakukan hal-hal yang tak terbayangkan bisa dilakukan oleh makhluk yang kecil dan lembut itu.

Lain semut lain pula lebah. Lebah memberi teladan tentang hirarki, pembagian kewenangan, pola makan bersih, dan asas manfaat bagi makhluk lain, seperti layaknya mereka mampu berpikir. Perilaku lebah serba teratur. Mereka saling menyapa ketika pergi dan pulang ke sarangnya. Semuanya tentu terjalin melalui sebuah komunikasi. Lebah pun mengambil nektar dari berbagai bunga di hutan sebagai makanannya. Maka jangan heran bila madu yang mereka hasilkan memiliki khasiat tinggi.

Andai kita bisa berkomunikasi dengan makhluk bertungka enam itu, sebagaimana kemampuan Nabi Sulaiman berkomunikasi, tentu akan lebih banyak lagi pelajaran yang bisa kita petik. Tapi, bukankah manusia diberi akal budi untuk bisa berpikir lebih hebat daripada semut dan lebah?

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 518 kali
sejak tanggal 29-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat