drh. Chaidir, MM | Duri Dalam daging | PERNIAGAAN daging menjadi berita seksi dalam beberapa hari terakhir ini, tidak hanya tentang harganya, tetapi juga tentang cerita di belakang layarnya. Isunya dipoles menjadi menu politik.  

Akar masalahnya sederhanya saja. Di hari baik bulan baik seperti di bulan puasa Ramadhan yang dilalui seti
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Duri Dalam daging

Oleh : drh.chaidir, MM

PERNIAGAAN daging menjadi berita seksi dalam beberapa hari terakhir ini, tidak hanya tentang harganya, tetapi juga tentang cerita di belakang layarnya. Isunya dipoles menjadi menu politik.

Akar masalahnya sederhanya saja. Di hari baik bulan baik seperti di bulan puasa Ramadhan yang dilalui setiap tahun, kebutuhan daging pasti meningkat. Masyarakat ingin sedikit memanjakan selera dengan sekali-sekali makan daging. Bagi penggalas, meningkatnya kebutuhan daging merupakan peluang untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Yang namanya penggalas, mana ada yang mau rugi. Maka hukum kontinum permintaan dan suplai pun berlaku. Kalau permintaan banyak suplai banyak atau permintaan sedikit suplai sedikit, harga stabil. Kalau permintaan sedikit suplai banyak harga turun. Kalau permintaan banyak suplai sedikit harga naik.

Dalam politik dagang, sah-sah saja bila untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi dan keuntungan lebih besar, para pedagang menahan suplai. Daging beku disimpan di gudang, atau ternak potong tidak diangkut ke rumah potong. Lihatlah, harga di pasar yang biasanya berkisar di Rp 70.000-an per kg melonjak drastis hingga Rp 100 ribu. Di beberapa tempat bahkan sampai Rp 150 ribu per kg. Bila kondisinya demikian, maka bulog ditugaskan oleh pemerintah untuk melakukan operasi pasar supaya harga daging kembali wajar. Tahun ini, seperti kita ikuti di media massa, bulog diberi kuota untuk impor daging beku 3.000 ton. Empat hari lalu daging bulog yang sudah masuk, tercatat 800 ton. Sayangnya, dengan alasan daging beku itu terlalu banyak lemak, ditolak oleh beberapa pasar di Jakarta. Sepertinya, penolakan ini bagian dari politik dagang para penggalas. Tapi Gubernur Jokowi melakukan operasi pasar dengan memberi subsidi Rp 20.000 per kilogram daging segar, sehingga normalnya Rp 85.000 bisa dijual Rp 65.000 per kg. Dan hanya dalam tempo satu jam, 450 kg daging segar yang disediakan ludes.

Keadaannya memang dilematis. Kalau keran impor dibuka lebar, harga daging di pasar memang akan murah, tetapi para peternak kita tidak akan mendapatkan penghasilan dari penjualan ternak potong mereka, dan ini merugikan dalam jangka panjang. Di samping itu, yang diuntungkan adalah Negara pengekspor (contoh Australia). Biaya pemeliharaan sapi potong di sana murah karena dikelola dengan sangat efisien. Kalau impor daging distop atau dibatasi, kebutuhan daging nasional tidak akan mampu dipasok oleh peternakan kita.

Menyadari kondisi demikianlah, dulu, Presiden Soeharto yang sangat besar perhatiannya terhadap peternakan, lebih tertarik mengimpor bibit (sapi bakalan, inseminasi buatan dan embrio transfer), mengembangkannya di sentra pembibitan, antara lain di Tapos, menyebarkan bibit ke petani, serta membekali petani dengan keterampilan beternak termasuk menanam rumput gajah. Petani peternak dari berbagai pelosok Tanah Air yang dilatih di Tapos sering berkesempatan mendengarkan langsung tunjuk ajar Presiden Soeharto.

Bila pemerintah sekarang tidak memiliki program pembangunan peternakan rakyat untuk jangka panjang, maka selamanya masalah daging akan tetap menjadi duri dalam daging.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 396 kali
sejak tanggal 22-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat