drh. Chaidir, MM | Hari Malala | SEKJEN Perserikatan Bangsa Bangsa Ban Ki-Moon mendeklarasikan 12 Juli sebagai Hari Malala di Markas PBB New York. Adakah hubungannya dengan aktivitas ngabuburit umumnya masyarakat muslim untuk perintang waktu menjelang berbuka puasa Ramadhan? Sebab, bukankah malala dalam bahasa Minang berarti jalan-
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hari Malala

Oleh : drh.chaidir, MM

SEKJEN Perserikatan Bangsa Bangsa Ban Ki-Moon mendeklarasikan 12 Juli sebagai Hari Malala di Markas PBB New York. Adakah hubungannya dengan aktivitas ngabuburit umumnya masyarakat muslim untuk perintang waktu menjelang berbuka puasa Ramadhan? Sebab, bukankah malala dalam bahasa Minang berarti jalan-jalan?

Orang yang suka malala disebut palala. Palala konotasinya terasa kurang nyaman bagi yang diberi julukan. Sebab palala, kira-kira adalah orang yang suka jalan-jalan tak tentu arah, suka makan angin, suka raun (round) kata orang Medan, atau pusing-pusing kata teman kita dari seberang selat Melaka.

Hari Malala tak ada kaitannya dengan dukungan PBB terhadap kebiasaan ngabuburit masyarakat kita. Hari Malala merupakan penghargaan terhadap seorang gadis remaja Pakistan yang pernah bikin heboh dunia beberapa waktu lalu karena ditembak oleh Taliban. Dalam keadaan kritis Malala diterbangkan ke Inggris untuk mendapatkan perawatan lebih baik dan gadis remaja ini beruntung, nyawanya tertolong.

Sebenarnya lumrah saja seseorang tertembak di daerah konflik, walau itu tetap sebuah tragedi kemanusiaan. Tetapi dengan gadis remaja Pakistan yang bernama lengkap Malala Yousafzai, kelahiran 12 Juli 1997 ini, cerita menjadi sangat dramatis. Sebab Malala ternyata bukan seorang gadis remaja biasa. Dalam usia 12 tahun catatan hariannya telah diterbitkan oleh BBC pada tahun 2008 dan 2009 dengan nama samaran Gul Makai (Bunga Jagung). Dalam catatan hariannya Malala mengkritisi sikap Taliban yang melarang anak perempuan sekolah, keluar rumah, bernyanyi dan menari. Pemberontakan Malala melalui tulisan-tulisannya membuat marah Taliban dan kelompok ekstremis di Pakistan, maka pada tanggal 9 Oktober 2012 Malala ditembak di kepala dan lehernya dalam upaya pembunuhan oleh kelompok bersenjata Taliban dalam sebuah bus sekolah.

Pemikiran gadis remaja itu tentang hak perempuan, perlawanan terhadap terorisme, perlawanan terhadap kebodohan, dan seruannya tentang perlunya perdamaian dan belas kasih (compassion), menarik perhatian dunia. Dan Sekjen PBB pun memberi podium baginya untuk berpidato di depan 500 pemimpin muda dunia di Markas besar PBB di New York tepat pada hari ultah Malala yang ke-16, 12 Juli beberapa hari lalu.

Aku belajar kasih dari Nabi Muhammad SAW, dari Yesus Kristus dan dari Budha. Aku mendapat warisan perubahan dari Martin Luther King, Nelson Mandela dan Muhammad Ali Jinnah. Filosofi non-kekerasan kupelajari dari Gandhi, Bacha Khan, dan Ibu Teresa. Aku belajar memaafkan dari ayah dan ibuku. Itulah yang dikatakan jiwaku: damailah dan cintailah setiap orang. Ujar Malala dalam pidatonya. Malala kini menjadi simbol perjuangan dan perlawanan terhadap pembodohan dan terorisme. Dia tercatat sebagai calon termuda penerima Penghargaan Nobel untuk Perdamaian. Tapi perspektif Taliban dan ekstremis di Pakistan tentu beda. Mereka menganggap Malala berpikiran Barat.

Terlepas pro-kontra, pemikiran gadis remaja itu sudah sangat jauh maju. Pada usia sebelas tahun dia sudah mulai berpikir kritis. Dan pada usia 16 tahun dia tampil cemerlang di PBB. Sementara remaja-remaja kita pada usia tersebut tidak sedikit yang larut dalam permainan game elektronik, dan sebagian lainnya terperangkap dalam geng motor. Ngidam apa ibundamu Malala?

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 489 kali
sejak tanggal 17-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat