drh. Chaidir, MM | Berkaca dari Kamboja | REKONSILIASI mudah diucapkan, tetapi tidak demikian dengan pelaksanaannya. Seringkali semangat rekonsiliasi itu, hanya sekedar lip service, penghias bibir, manis di mulut, formalitas belaka. Apalagi bila menyangkut perseteruan politik.  Dendam membara selalu dipelihara di dada. Maka ikhtiar rekonsil
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berkaca dari Kamboja

Oleh : drh.chaidir, MM

REKONSILIASI mudah diucapkan, tetapi tidak demikian dengan pelaksanaannya. Seringkali semangat rekonsiliasi itu, hanya sekedar lip service, penghias bibir, manis di mulut, formalitas belaka. Apalagi bila menyangkut perseteruan politik. Dendam membara selalu dipelihara di dada. Maka ikhtiar rekonsiliasi seringkali juga setengah hati. Padahal, kita memiliki banyak kearifan budaya tentang nilai kebersamaan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun. Sedencing bak besi seciap bak ayam. Hati gajah sama dilapah hati tungau sama dicecah atau dalam bahasa. Atau dalam bahasa sononya nun di sana, sharing the pain sharing the gain (susah senang sama dirasa). Intinya sebenarnya, ada semangat senasib sepenanggungan, rasa saling tolong-menolong.

Umat Islam di seluruh dunia pasti memahami dengan baik, bahwa salah satu nilai penting puasa Ramadhan yang sekarang sedang dinikmati dan diamalkan oleh umat Islam di seluruh penjuru, adalah semangat membangun hubungan silaturrahim, menjalin (kembali) atau meningkatkan hubungan persaudaraan antar sesama. Ekspresinya bermacam-macam, saling kunjung mengunjungi, saling berjabat tangan, buka puasa bersama, saling kirim SMS atau BBM, intinya meminta maaf secara tulus satu dengan lainnya. Bahkan saling mendoakan kebaikan. Ustadz sering bilang, rezeki akan banyak bila kita memperbaiki hubungan silaturrahim. Nasihat itu sangat bijak dan masuk akal. Peluang akan banyak terbuka bila terbangun hubungan baik antara satu dengan lainnya.

Mungkin karena para pemimpin kita suka memutus hubungan silaturrahim, atau sekurang-kurangnya tidak pandai memelihara hubungan silaturrahim, maka negeri ini tak putus dirundung malang. Ayat-ayat yang dipilih seringkali ayat-ayat yang menistakan pihak lain, bukan ayat-ayat cinta yang menimbulkan kesadaran silaturrahim. Akibatnya banyak sekali masalah yang dihadapi. Kita senantiasa berhadapan bencana demi bencana, korupsi merajalela yang mendera rakyat, naiknya harga daging, cabe, bawang, pemimpin yang tak sempat memikirkan rakyat kecuali urusan partai dan urusan pencalonan, semua menjadi isu aktual bahkan beberapa diantaranya menjadi medan pertempuran di ruang publik yang tak ada habis-habisnya. Meletihkan dan menyedihkan.

Di tengah kesibukan sebagian besar masyarakat kita berbuat pahala dengan berpuasa Ramadhan, dan adakalanya (sebenarnya setiap tahun) memaksa orang untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa dengan melarang kedai dan warung makan buka di siang hari, kita membaca berita dari negeri Kamboja, negeri Seribu Pagoda yang menyejukkan, pemimpinnya melakukan rekonsiliasi nasional. Raja Kamboja Norodom Sihamoni memberikan pengampunan kepada pemimpin oposisi Sam Rainsy sehingga memungkinkan Sam Rainsy pulang ke Phnom Penh dari pelariannya di Paris setelah divonis 11 tahun penjara secara in absentia (Kompas Sabtu 13/7/2013 halaman 11). Menariknya, permohonan pengampunan itu justru diajukan oleh Perdana Menteri Kamboja yang sedang berkuasa, Hun Sen. Hun Sen adalah pemimpin negara demokrasi Kamboja yang telah berkuasa selama tiga dekade, dan Sam Rainsy adalah lawan politiknya.

Padahal kalau kita buka lembaran masa lalu, Kamboja memiliki luka politik yang dalam dan parah ketika negeri itu pernah menjadi ladang pembantaian (killing fields) pada era 1970-1980an- hari-hari yang sebenarnya belum begitu jauh. Dalam tragedi kemanusiaan itu lebih dari dua juta orang (banyak diantaranya kalangan terdidik, para intelektual) dibunuh oleh rezim Khmer Merah. Akibat genosida ini, Kamboja tak hanya dijuluki negeri Seribu Pagoda, tetapi juga negeri Neraka Dunia.

Para pemimpin Kamboja menyebut, langkah pengampunan itu diberikan demi negeri Kamboja dalam semangat rekonsiliasi nasional. Kita perlu berkaca dari semangat itu dalam mengungkai berbagai permasalahan nasional yang kita hadapi, berbekal nilai silaturrahim dalam semangat Ramadhan. Persis!!



kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 421 kali
sejak tanggal 16-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat