drh. Chaidir, MM | Politik Bertungkai Enam | IDIOM yang lazim adalah politik dua kaki.  Politik dua kaki secara umum dipahami sebagai politik mendua. Kiri mau kanan boleh, alias KKO- Kiri Kanan Ok. Politik dua kaki lebih banyak berkonotasi kepentingan, bukan keraguan. Jadi, KKO beda dengan K4 (Kadang Kiri Kadang Kanan). KKO setali tiga uang de
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Bertungkai Enam

Oleh : drh.chaidir, MM

IDIOM yang lazim adalah politik dua kaki. Politik dua kaki secara umum dipahami sebagai politik mendua. Kiri mau kanan boleh, alias KKO- Kiri Kanan Ok. Politik dua kaki lebih banyak berkonotasi kepentingan, bukan keraguan. Jadi, KKO beda dengan K4 (Kadang Kiri Kadang Kanan). KKO setali tiga uang dengan KSKS (Kiri Sikat Kanan Sapu)...he..he..he...

Barangkali sudah ditakdirkan manusia berkaki dua. Selalu ada dua sifat dalam diri manusia: sifat baik dan sifat buruk. Ada sayang ada benci, ada ikhlas ada dengki. Dalam perut manusia selalu ada harimau ada kambing. Kegarangan dan kelembutan berada dalam satu bilik. Dengan dua sifat yang bertolak belakang tersebut, sebelah kaki manusia berada di surga sebelah di neraka. Filosofi manusia berkaki dua agaknya seiring dengan filosofi satu mulut dua telinga. Manusia diingatkan oleh Sang Pencipta melalui konstruksi anatomisnya, cukup diberi satu mulut dan harus diberi dua telinga. Maksudnya, makhluk manusia harus lebih banyak mendengar daripada bicara. Dengan banyak mendengar, manusia bisa memilah baik-buruk.

Tapi seburuk-buruknya politik dua kaki, lebih buruk lagi politik kaki empat. Tak ada satupun manusia menyebut manusia itu makhluk berkaki empat. Makhluk berkaki empat itu pasti hewan atau binatang. Tapi jangan sebut dokter hewan sebagai dokter binatang, konotasinya beda dan kedengarannya pasti tidak nyaman. Oleh karena itulah secara internasional dokter hewan itu disebut doctor veteriner, bukan doctor animal.

Politik kaki empat berarti politik binatang. Politik binatang bermakna yang kuat menjajah yang lemah. Hukum yang berlaku adalah hukum rimba, yang kuatlah yang berkuasa. Bila pendekatannya adalah pendekatan kekuasaan, yang berkuasa menindas yang lemah, menebarkan rasa takut di kalangan pengikut, maka sebenarnya politik seperti ini bolehlah disebut politik kaki empat, atau sekurang-kurangnya hanya beda-beda tipis dengan politik berkaki empat itu. Politik seperti itu bolehlah termasuk kategori apa yang disebut oleh Prof Amien Rais sebagai low politic (politik rendahan). Low politic adalah politik yang menghalalkan segala macam cara, politik minus etika. Politik rendahan adalah politik yang minus kejujuran dan sportivitas.

Lantas bagaimana dengan politik bertungkai enam? Adakah lebih parah dari politik bertungkai empat? Kelihatannya tidak berkonotasi demikian. Hewan yang bertungkai enam adalah serangga, dan umumnya mereka memiliki sesuatu yang baik untuk dipertontonkan. Serangga memiliki ratusan jenis, sebagian diantaranya adalah makhluk yang patut dicontoh perilakunya. Semut memberi teladan dalam kebersamaan dan organisasi. Dengan gotongroyong mereka mampu mengangkat beban yang memiliki berat 100 kali berat badannya. Lebah memberi teladan tentang hirarki, pola makan bersih dan asas manfaat bagi makhluk lain. Dan laron mengajarkan filosofi kehidupan, betapa kukuhnya mereka mengejar secercah cahaya. Semuanya, mahakarya kehidupan ciptaan Sang Maha Pencipta.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 549 kali
sejak tanggal 14-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat