drh. Chaidir, MM | Demokrasi Perlu Kejujuran | SEBAGIAN umat Islam sudah mulai menunaikan puasa Ramadhan kemaren, sebagian hari ini (9/7), sebagian lainnya baru mulai esok hari. Tak masalah, perbedaannya cuma sehari-sehari, tak setahun cahaya. Bukankah perbedaan itu rahmat? Hidup ini terdiri dari kafilah panjang perbedaan. Jangankan antara satu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demokrasi Perlu Kejujuran

Oleh : drh.chaidir, MM

SEBAGIAN umat Islam sudah mulai menunaikan puasa Ramadhan kemaren, sebagian hari ini (9/7), sebagian lainnya baru mulai esok hari. Tak masalah, perbedaannya cuma sehari-sehari, tak setahun cahaya. Bukankah perbedaan itu rahmat? Hidup ini terdiri dari kafilah panjang perbedaan. Jangankan antara satu kaum dengan kaum lain, antara satu individu dengan individu lain pun tak pernah ada yang persis sama, kembar siam sekali pun.

Tak bisa dipungkiri, polarisasi akibat perbedaan masih menjadi isu aktual pada bulan Ramadhan tahun ini. Perbedaan sebagai sebuah rahmat ilahi, sebenarnya sudah disadari oleh berbagai pihak dan sangat mudah diucapkan. Tetapi giliran sampai pada saat memaknai, apalagi mengelolanya, perbedaan seperti makhluk aneh yang selalu membawa masalah dan sulit disiasati. Perbedaan selalu membawa sahabat-sahabatnya: beda visi dan persepsi, kongkurensi, kompetisi, iri hati, dengki, emosi, arogansi, dan sejenisnya.

Apatah lagi kemudian bila perbedaan itu kita bawa ke dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada sebuah negeri pun yang penduduknya homogen, sama sebangun. Kepala boleh sama-sama hitam, tapi pikiran berbeda-beda. Banyak kesamaan kepentingan, tetapi lebih banyak lagi yang berbeda kepentingan, dan seringkali perbedaan itu menimbulkan persaingan antara satu dengan lainnya.

Pendiri bangsa kita sebenarnya sudah sangat tepat merumuskan motto Bhinneka Tunggal Ika. Mereka menyadari kemajemukan masyarakat kita. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Ada sesuatu yang mengikat perbedaan suku, bangsa, agama, dan bahasa. Sesuatu itu harus tumbuh dari kesadaran bahwa kita sebangsa dan setanah air. Bersatu dalam perbedaan adalah sesuatu yang manusiawi. Namun demikian, kesadaran terhadap kemajemukan itu akhir-akhir ini terasa agak longgar. Kepentingan politik, kepentingan kelompok, terasa sangat menonjol. Indikasinya terlihat dari mudahnya terjadi konflik antar kelompok di tengah masyarakat. Bahkan alat Negara yang melakukan tugas penertiban pun tak segan-segan dilawan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Sesungguhnya rezim demokrasi dan keterbukaan yang menjadi paradigma masyarakat kita dewasa ini pada dasarnya merupakan manifestasi dari apresiasi kita yang semakin baik terhadap perbedaan. Setiap orang diberi kebebasan dan diperkenankan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan hakikatnya sebagai zoon politikon. Kata orang bijak, perbedaan pendapat adalah kawan berpikir. Anda tidak akan memperoleh apa-apa bila Anda berdebat dengan seseorang yang setuju dengan pandangan Anda. Heterogenitas membuat masyarakat semakin bertambah maju.

Perbedaan adalah awal dari lahirnya konsep demokrasi. Demos (Yunani) berarti rakyat, kratos berarti kekuasaan. Maka, demokrasi adalah kekuasaan rakyat. Rakyatlah yang berkuasa. Artinya, apapun kehendak rakyat, itulah yang harus diikuti oleh Pemerintah. Sebab Pemerintah itu berasal dari rakyat, dipilih oleh rakyat, dan mengabdi untuk rakyat. Namun demokrasi memerlukan aturan main yang menjamin adanya fair play (adil, saling menghormati, sportif). Kebebasan dalam berdemokrasi itu ada batas-batasnya. Tidak ada hak atas kebebasan yang tak terbatas.

Bulan Ramadhan tahun ini, Riau akan dimeriahkan dengan agenda politik berupa sosialisasi dan kampanye pemilihan Gubernur Riau 2013. Masing-masing calon tentu berlomba untuk merebut hati pemilih. Tidak dapat dipungkiri, adakalanya kompetisi yang tajam membawa ekses negatif. Tapi kita beruntung, ibadah puasa Ramadhan selalu mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sebuah kejujuran. Setuju atau tidak, dalam tataran prosedur, demokrasi kita sudah semakin baik, tapi masih minus nilai-nilai kejujuran dan sportivitas. Selamat puasa Ramadhan.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 439 kali
sejak tanggal 08-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat