drh. Chaidir, MM | Tak Ada Lawan Abadi | PERTANYAAN yang sering dilontarkan para pengamat pasca kekalahan Partai Golkar dalam pemilu legislatif dan pilpres 2009 adalah, quo vadis Golkar? Hendak kemana Tuan? Hendak merapat ke partai pemenangkah, atau tak sudi bergandeng tangan?

Pertanyaan itu sesungguhnya bermula dari pergulatan elit di
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tak Ada Lawan Abadi

Oleh : drh.chaidir, MM

PERTANYAAN yang sering dilontarkan para pengamat pasca kekalahan Partai Golkar dalam pemilu legislatif dan pilpres 2009 adalah, quo vadis Golkar? Hendak kemana Tuan? Hendak merapat ke partai pemenangkah, atau tak sudi bergandeng tangan?

Pertanyaan itu sesungguhnya bermula dari pergulatan elit di internal Partai Golkar itu sendiri, dan publik publik leluasa menonton polarisasi yang terjadi. Merapat ke gerbong kekuasaan, berarti harus bertebal muka, namun wilayah kekuasaan ini praktis sudah dikenal seluk-beluknya oleh Golkar. Berada di luar kekuasaan? Pasti terasa gamang. Wilayah ini ibarat terra incognita, sebuah wilayah tak dikenal, tapi wilayah ini menjanjikan pencitraan.

Menjelang Munas Golkar, polarisasi pemikiran itu sempat meredup diganti dengan isu pragmatis saling dukung bakal calon Ketua Umum Golkar. Isu ini lebih bernilai jual, apalagi ketika Tommy Soeharto - pangeran Cendana - masuk bursa. Tapi dalam Munas, diskursus oposisi-koalisi kembali nyaring katika JK menyebutkan, Partai Golkar sebaiknya menjadi partai oposisi dan tidak mengemis jabatan kepada pemerintahan SBY. Gayung pun bersambut, Presiden SBY yang gerah dengan statement JK langsung menyatakan, sebagaimana dikutip berbagai media, "Saya kira tidak perlu diantara kita berpendapat saling mengemis, saling meminta-minta. Kalau apa yang kita lakukan demi kebaikan, untuk Negara, rakyat, tidak perlu mengatakan saling meminta, saling mengemis."

Kedua pilihan, beroposisi terhadap pemerintah atau berkoalisi dengan partai pemenang pemilu, tidak ada yang tabu. Dalam domain politik selalu berlaku adagium, sebagaimana ungkapan Yunani, hostis aut amicus non est in aeternum, commoda sua sunt in aeternum (lawan dan kawan tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan). Adagium usang yang tak pernah basi itu, banyak diterapkan dalam menata kehidupan politik. Kompromi politik seringkali mampu meredam ketegangan-ketegangan yang tak perlu. Ketegangan sekecil apapun bisa menjadi benih fragmentasi yang pada akhirnya akan merugikan rakyat atau konstituen.

Agaknya karena pendekatan itu jugalah Presiden Obama merangkul konkurennya, Hillary Clinton, dan menempatkannya pada posisi strategis, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Contoh yang paling segar dipertontonkan dengan cantik oleh Presiden SBY, ketika memberi laluan kepada Taufiq Kiemas untuk terpilih sebagai Ketua MPR-RI. Tanpa lampu hijau dari Presiden SBY, hasil pemilihan Ketua MPR tentu akan beda. Padahal, siapa pun tahu betapa sengitnya persaingan antara SBY dengan Megawati ketika keduanya bertarung habis-habisan dalam pilpres 2009.

Sebagai sebuah parpol dengan tokoh-tokoh yang kaya pengalaman dan reputasi, Golkar sepertinya mengabaikan ungkapan Yunani itu. Ketika JK menang pada 2004 di Denpasar, kubu Akbar Tanjung habis. Ketika Aburizal Bakrie menang di Riau, kubu Surya Paloh habis. Perilaku organisasi ini tentu menarik sebagai bahan kajian akademis.***

kolom - Riau Pos 12 Oktober 2009
Tulisan ini sudah di baca 1317 kali
sejak tanggal 12-10-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat