drh. Chaidir, MM | Mimpi Tim Impian | TERLEPAS dari musibah yang menimpa, suka atau tidak suka,  Gubernur Riau Rusli Zainal adalah seorang visioner.  Dengan gaya kepemimpin progresif, kiprahnya dalam membangun Riau memang layak dikenang, walau tak pernah sepi dari kontroversi. Tapi RZ tak peduli dan dia berpantang surut. Pembangunan ged
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mimpi Tim Impian

Oleh : drh.chaidir, MM

TERLEPAS dari musibah yang menimpa, suka atau tidak suka, Gubernur Riau Rusli Zainal adalah seorang visioner. Dengan gaya kepemimpin progresif, kiprahnya dalam membangun Riau memang layak dikenang, walau tak pernah sepi dari kontroversi. Tapi RZ tak peduli dan dia berpantang surut. Pembangunan gedung-gedung megah, jembatan-jembatan raksasa yang menjahit empat sungai besar di Riau, pembangunan dua buah fly-over di Pekanbaru, perpustakaan, bandar udara, Festival Film Indonesia, dan terakhir tuan rumah PON ke-18, semua terwujud, dan banyak yang berdecak kagum.

Gubernur RZ punya mimpi-mimpi besar untuk daerahnya. Hampir sepuluh tahun menjadi teraju Riau negeri Melayu, RZ telah meraih mimpi-mimpinya, dan telah mendapatkan berbagai penghargaan nasional dan internasional. Secara fisik, tentu akan susah bagi gubernur penerus untuk mengimbangi capaiannya. Dalam hal kemampuan lobi jangan tanya, kepiawaian RZ disegani kawan dan lawan. Kemampuan berkomunikasi tingkat tinggi adalah salah satu ciri kepemimpinan visioner menurut Burt Nanus (1992). Antisipasi terhadap perkembangan di masa depan, menjadi ciri lain kepemimpinan visioner, dan Gubernur RZ memiliki kualifikasi itu.

Namun selalu ada risiko jabatan. Kalau mau cari aman, duduk manis saja di rumah atau lebih baik tidur sepanjang hari. Tapi RZ bukan tipe demikian. Dalam usia relatif muda, pada tahun 2003, RZ sudah memenangkan pemilihan Gubernur Riau melalui pemilihan di DPRD Riau (dan terpilih kembali secara langsung pada 2008). Sebagai Ketua DPRD Riau ketika itu, sekaligus sebagai kompetitor RZ, saya merasakan kesan, terutama pada pemilihan gubernur pertama kali, RZ menjadi people darling daerah. RZ menjadi kekasih masyarakat. Sejuta harapan diletakkan di pundah tokoh muda ini. Senyum mengembang dimana-mana.

Namun mengendalikan roda pemerintahan di era otonomi daerah tidaklah semudah membalik telapak tangan. Masyarakat yang sedang terbius reformasi dan semangat demokrasi, juga tidak kalah dengan mimpi-mimpinya. Masyarakat merasa berhak terhadap kesejahteraan yang telah dijanjikan, semua ingin hasil yang lebih cepat, kalau bisa semua ingin kaya mendadak. Semua terbius oleh keadaan. Kepatuhan terhadap peraturan dianggap kuno, jadul. Persepsi ini tidak hanya menjadi milik masyarakat, birokrasi dan elitnya pun ikut-ikutan latah. Semua berlomba-lomba, mentalitas instan sumbuh subur.

Sebenarnya sampai hari ini masyarakat kita dan pemerintah, masih mencari-cari posisi yang pas terhadap gelombang perubahan yang demikian hebat. Di sinilah kelihatannya masalah bermula. Idealnya, seorang gubernur berusia muda yang progresif visioner seperti RZ, perlu didampingi oleh sebuah dream team, sebuah tim impian. Kabinet impian inilah yang dengan integritas, kemampuan berpikir dengan daya jelajah tinggi, menerjemahkan gagasan-gagasan stratejik RZ dalam bentuk action plan yang memiliki akuntabilitas tinggi, sekaligus sebagai kendali terhadap mesin berkekuatan besar yang bergerak cepat. Bukan perencanaan sporadis yang lemah dan rawan terhadap penyalahgunaan wewenang. Ingat, otonomi daerah memberikan kewenangan besar dan anggaran besar sekaligus kepada daerah. Kalau potensi besar itu direncanakan dengan matang, kesalahan-kesalahan bisa diminimalisir. Perencanaan yang lemah merupakan pintu masuk bagi penyalahgunaan wewenang. Dan inilah yang menjadi putik tindakan koruptif pada gilirannya.

Sayang, semangat yang menggebu-gebu tidak diimbangi dengan dream team yang mampu memberikan bobot pertimbangan yang memadai. Tim RZ justru disarati oleh timses para Sengkuni (maaf pinjam frasa Anas Urbaningrum), gambaran birokrat dan sosok politikus antagonis tukang cari muka, yang mampu memutarbalikkan fakta untuk mencapai tujuannya.

Saya tidak bermaksud membuat pembenaran arau membangun opini publik. Dream team adalah sebuah hipotesis yang belum tentu benar. Saya kira, kepemimpinan RZ (dengan segala plus-minusnya) telah memberi banyak inspirasi bagi saya untuk menulis beberapa kontemplasi. Sebuah goresan bintang sepakbola Belanda era 1970an, Johan Cruiff, agaknya tepat untuk menggambarkan posisi RZ. Sepakbola indah itu menyerang, kalau kemudian hasilnya kalah, anda akan tetap dikenang. Dan RZ telah memainkan sepakbola menyerang.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 371 kali
sejak tanggal 18-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat