drh. Chaidir, MM | Lembaran Riau | PUJANGGA Inggris tersohor William Shakespeare (1564- 1616), penulis drama Romeo and Juliet, memiliki sangat banyak kata-kata mutiara yang sudah disadur dalam banyak bahasa dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lembaran Riau

Oleh : drh.chaidir, MM

PUJANGGA Inggris tersohor William Shakespeare (1564- 1616), penulis drama Romeo and Juliet, memiliki sangat banyak kata-kata mutiara yang sudah disadur dalam banyak bahasa dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. "Ketika penderitaan datang, mereka tidak pernah datang sendirian, tetapi dalam sejumlah batalyon," tulis Shakespeare. Pujangga ini hendak mengatakan dengan kata lain bahwa penderitaan itu tak pernah datang seorang diri. Penderitaan selalu datang bertandang dengan membawa teman-temannya, diundang atau tak diundang.

Maka sering kita lihat dan kita dengar, seseorang yang sedang tertimpa masalah akan tertimpa pula masalah lain. Beberapa masalah bisa datang timpa-menimpa. Dalam kearifan budaya kita pun ada bidal, "Sudah jatuh diimpit tangga." Peribahasa ini untuk menggambarkan seseorang yang ditimpa kesukaran berturut-turut.

Apa yang disebut Shakespeare agaknya tepat untuk menggambarkan kondisi Riau, negeri Lancang Kuning, negeri laut sakti rantau bertuah kita itu pada hari ini. Gubernur RZ sebagai teraju negeri yang sedang duduk di singgasana, resmi ditahan oleh KPK dalam kasus dugaan korupsi PON dan kehutanan. Sehari kemudian, Menpora Roy Suryo mengkonfirmasikan pula, Islamic Solidarity Games (ISG) dipindahkan ke Jakarta. Tidak ada istilah tuan rumah bersama seperti kompromi terakhir yang kita dengar. Pupus sudah harapan Riau untuk menjadi tuan rumah ISG. Padahal sudah banyak ayam disembelih untuk mengadakan kenduri-kenduri kecil guna menyongsong ISG tersebut. Arang habis besi binasa.

Penderitaan-penderitaan itu entah lembaran ke berapa bagi Riau. Kalaulah benar postulat Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, bahwa hidup kita ini memiliki catatan berlembar-lembar, mungkin Riau juga memiliki lembaran-lembaran catatan harian. Lembaran yang sudah terbuka misalnya, beberapa waktu lalu, sejumlah politikus muda daerah telah lebih dulu tersandung kasus korupsi PON. Agak jauh sebelumnya, telah lebih dulu terkuak lembaran tentang kasus penebangan hutan alam dan illegal logging yang menyeret beberapa bupati dan kepala dinas.

Kita terluka parah. Daerah ini terlalu banyak luka sosial. Kita tidak hendak menyalahkan atau mencari tahu, gerangan siapa yang telah menggoreskannya. Yang mendesak untuk segera dilakukan adalah menghentikan pendarahan yang mungkin masih terus menetes. Mungkin kita bersama telah lalai terhadap janji sosial kepemimpinan Melayu dalam pembangunan masyarakatnya, sebagaimana disebut dalam petuah sejarah, bahwa pemimpin itu harus menyejahterakan dan memberi keteladanan.

Kini lembaran demi lembaran Riau akan terus dibuka, tak kita, orang yang akan membuka. Saatnya kita membuka kotak Pandora seperti dalam mitos Yunani kuno itu. Biarkan semua keburukan dan kejahatan berhamburan keluar dan menyebar ke seluruh penjuru angin. Cari dan temukan segenggam harapan yang tersuruk di dasar kotak. Yang segenggam itu kita gunungkan bersama.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 360 kali
sejak tanggal 17-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat