drh. Chaidir, MM | Benci Tapi Rindu | JANGAN ada dusta diantara kita. Belanda hari ini beda. Stigma sang penjajah, memang sedikit masih menimbulkan hambatan psikologis, tapi itu kelihatannya menjadi wilayah bilik sejarah. Belanda dalam dua dasawarsa ini identik dengan sepakbola.   

Tak ada kesan kolonial pada wajah Robin van Persie,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Benci Tapi Rindu

Oleh : drh.chaidir, MM

JANGAN ada dusta diantara kita. Belanda hari ini beda. Stigma sang penjajah, memang sedikit masih menimbulkan hambatan psikologis, tapi itu kelihatannya menjadi wilayah bilik sejarah. Belanda dalam dua dasawarsa ini identik dengan sepakbola.

Tak ada kesan kolonial pada wajah Robin van Persie, Arjen Robben, Wesley Sneijder, Siem de Jong, Dirk Kuyt, dan lain-lain. Mereka justru menjadi idola para penggemarnya di Indonesia. Belanda memiliki banyak pendukung di tanah air. Tidak hanya karena Belanda bertabur bintang, tapi juga karena sepakbola Belanda terkenal dengan karakter permainan menyerang yang sangat atraktif. Belandalah yang pertama memperkenalkan konsep total football. Tokoh dibalik konsep total football itu adalah Rinus Michels dan Johan Cruiff, keduanya adalah legenda sepakbola Belanda. Cruiff menulis sebuah catatan, Sepakbola itu harus indah (menyerang) dan jika hasilnya juga kekalahan, kita akan tetap dikenang.

Postulat Cruiff terbukti. Final Piala Dunia 1974 tuan rumah Jerman (Barat) vs Belanda. Tim Oranye tampil menyerang. Belum sempat pemain Jerman menyentuh Bola, mereka sudah kebobolan. Johan Cruiff menguasai bola setelah kick-off, dia meliuk-liuk menerobos daerah pinalti Jerman. Tak ada pilihan lain, hadangan keras dilakukan oleh back Jerman Uli Hoeness, dan pinalti untuk Belanda. Johan Neeskens sebagai algojo melakukannya dengan sempurna: 1-0 untuk Belanda. Hasil akhir, Belanda kalah 1-2. Empat tahun kemudian (1978) Belanda kembali tampil di babak final melawan tuan rumah Argentina, sayangnya Belanda kembali bertekuk lutut 1-3. Pada tahun 2010 di Afrika Selatan, Belanda kembali berhasil maju ke babak final setelah di babak semifinal menyikat Uruguay 3-2. Di final Belanda dikalahkan Spanyol 0-1. Tetapi Belanda memainkan sepakbola menyerang, dan mereka tetap dikenang.

Setelah era Johan Cruiff dan Johan Neeskens, Belanda tak pernah sepi bintang. Ada Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Marco Van Basten, ada juga Ronald Koeman yang terkenal dengan cannon ball-nya. Giovanni Van Bronckhorst yang berdarah Indonesia bahkan menjadi kapten timnas Belanda dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Para penggemar tentu tidak lupa bagaimana tembakan cannon ball Giovanni menghujam ke pojok kiri gawang Uruguay pada babak Semi final. Masih banyak bintang Belanda yang tidak ke Jakarta atau tidak termasuk dalam skuad Timnas kali ini. Klaas-Jan Huntelaar adalah satu bintang yang tidak ikut ke Jakarta.

Lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus van Nassouwe berkumandang di Istora Bung Karno Senayan untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sekitar 70.000 penonton memenuhi tribun. Ini memang sebuah peristiwa bersejarah, lebih dari sekedar sebuah pertandingan persahabatan. Namun aroma pertandingan kedua timnas jauh dari kesan tegang apalagi balas dendam. Apa yang disebut oleh Rinus Michels, Voetbal is oorlog (sepakbola adalah perang), kelihatannya tidak berlaku bagi Belanda dan Indonesia. Yang benci mungkin masih ada, tetapi yang merindukan kehadiran timnas Belanda dengan para bintang pujaan jauh lebih banyak.

Ini sebuah momentum. Dalam semangat persahabatan (sebagian karena kedekatan darah dan emosional), Belanda agaknya tidak akan berkeratan menggendong sepakbola Indonesia ke pentas dunia, seperti ketika ada tim gabungan Belanda dan pribumi mengikuti Piala Dunia 1938 di Prancis. Adat bola bundar, tak bersisi.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 375 kali
sejak tanggal 10-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat