drh. Chaidir, MM | Pasar Buah Simalakama | HUBUNGAN Negara yang direpresentasikan oleh pemerintah (pusat dan daerah) dengan rakyatnya sendiri, tak pernah selesai-selesai dari dulu, sejak zaman kuda masih makan besi sampai sekarang. Hubungan itu selalu mengalami pasang-surut, adakalanya laksana sebuah melodrama.  Demikian dinamisnya, maka mas
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pasar Buah Simalakama

Oleh : drh.chaidir, MM

HUBUNGAN Negara yang direpresentasikan oleh pemerintah (pusat dan daerah) dengan rakyatnya sendiri, tak pernah selesai-selesai dari dulu, sejak zaman kuda masih makan besi sampai sekarang. Hubungan itu selalu mengalami pasang-surut, adakalanya laksana sebuah melodrama. Demikian dinamisnya, maka masalah yang muncul sering disebut never ending problem- sebuah masalah yang tak berujung.

Dalam satu bulan terakhir ini saja, cukup banyak terjadi bentrokan antara kelompok masyarakat dengan aparatur pemerintah bahkan dengan alat negera di berbagai tempat di tanah air. Fenomena apa ini sebenarnya? Mengapa pemerintah tak boleh melakukan penertiban? Atau mengapa pemerintah tidak bisa memberikan kepuasan kepada warganya? Padahal pemerintah sekurang-kurangnya memiliki tiga fungsi, yaitu fungsi pengaturan, fungsi pemberdayaan dan fungsi pelayanan. Kalau semuanya berjalan dengan baik dan manusiawi, di sini senang di sana senang, rasanya tak akan ada bentrokan.

Simaklah. Dua hari lalu (2/6/2013) terjadi bentrokan antara Satpol PP Kota Pekanbaru dengan pedagang kakilima (PKL) dalam rangka penertiban PKL Pasar Jongkok Panam. Penertiban berakhir rusuh. Memang tidak mudah memposisikan hak dan kewajiban secara pas. Sebagai warga kota masyarakat punya hak dan kewajiban, sebagai pemerintah kota, Pemko Pekanbaru juga punya hak dan kewajiban.

Bentrokan antara masyarakat dengan aparat tidak hanya terjadi di Pekanbaru. Di Stasiun Duri Jakarta, bentrokan juga terjadi antara pedagang dan warga dengan petugas kepolisian (27/5/2013). Akibatnya, Stasiun Duri tidak bisa dilewati kereta api baik dari arah Tangerang, Jatinegara, maupun Tanah Abang. Warga menolak penggusuran kios-kios di sekitar stasiun. Tidak berfungsinya Stasiun Duri tentu saja mengganggu pelayanan masyarakat umum.

Bentrokan juga terjadi antara masyarakat dengan aparat di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Selasa (28/05/2013). Pemicu bentrokan adalah eksekusi lahan dan bangunan yang ditolak keras oleh puluhan warga Jalan Musyawarah Dusun X, Desa Saentis, Kec.Percut Sei Tuan. Kondisi yang makin memanas ditambah perang urat syaraf yang sengit akhirnya meletuskan bentrok antara puluhan warga dengan aparat Kepolisian.

Aksi unjuk rasa ratusan warga Desa Karanglangit, Lamongan, Jawa Timur, diwarnai baku hantam antara warga dengan petugas Satpol PP pada hari Jumat (31/5/2013).Warga menuntut dilakukan perhitungan suara ulang pemilihan kepala desa (Pilkades) setempat yang dinilai ada kecurangan.

Dua pekan lalu (14/5/2013), ratusan orang penambang emas ilegal melawan tim gabungan saat operasi penertiban Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti) di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Massa yang diperkirakan lebih dari 100 orang merusak kendaraan tim gabungan dari Pemkab Kuantan Singingi, TNI-Polri dan Kejaksaan, saat melakukan operasi penertiban. Padahal operasi tim gabungan itu dipimpin langsung oleh Bupati Kuantan Singingi, Sukarmis.

Mengapa bentrokan-bentrokan itu terjadi? Ketidakpuasan. Itulah akar masalahnya. Dalam banyak kasus, bentrokan terjadi secara diametris antara aparat pemerintah, alat Negara, pemilik otoritas dengan rakyat yang merasa memiliki hak secara sah. Keadaan diperburuk oleh asimetri informasi yang menyebabkan terjadinya kebuntuan komunikasi.

Tapi, mengapa tidak puas? Abraham Lincoln (1809-1865), Presiden ke-16 AS memberi jawaban. Pemerintah ingin menyelesaikan semua pekerjaannya secara tuntas sesuai target. Sementara rakyat ingin mendapatkan langsung sekaligus semua yang mereka inginkan. Pemerintah punya keterbatasan dana dan prosedur atau standar operasi, sehingga tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan rakyat secara instan, di sisi lain rakyat tidak mau tahu dengan segala keterbatasan dana dan birokrasi tersebut. Mereka sudah letih dengan janji-janji. Pemerintah seperti makan buah simalakama diambil langkah tegas salah, tak diambil langkah tegas juga salah. Diam berarti lebai.

kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 434 kali
sejak tanggal 05-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat